02 Agustus 2021

Penanggulangan HIV/AIDS di Sumut Abaikan Penularan yang Potensial

 

Ilustrasi: Nyala lilin pada Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2013 yang diselenggarakan oleh The LGBTQ Center of Long Beach di Long Beach, California, AS (Foto: dailynews.com)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

KPAD Sumut  abaikan faktor-faktor risiko penularan HIV/AIDS yang potensial sehingga epidemi HIV/AIDS di Sumut bak ‘bom waktu’ ledakan AIDS

“21 Ribu Warga Sumut Kena HIV/AIDS, Muncul Usul Wajib Tes Sebelum Nikah” Ini judul berita di sebuah mediaonline Ibu Kota, 6 Juli 2021.

Berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 25 Mei 2021, sampai 31 Maret 2021 jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 26.524 yang terdiri atas 22.025 HIV dan 4.499 AIDS. Jumlah ini menempatkan Sumut di peringkat ke-7 secara nasional berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS.

Sedangkan jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan pada periode Januari – Maret 2021 sebanyak 695 yang terdiri atas 479 HIV dan 216 AIDS. Dengan jumlah ini Sumut ada di peringkat 5 berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan Januari – Maret 2021 secara nasional.

Dalam berita tidak ada penjelasan tentang jumlah kasus penularan HIV/AIDS melalui suami ke istri dalam ikatan pernikahan, tapi Ketua KPAD Sumut, Ikrimah Hamidy, mengatakan pihaknya mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) ke DPRD Sumut. Salah satu isi dari Ranperda itu mewajibkan calon pengantin untuk menjalani tes HIV/AIDS (yang benar tes HIV-pen.).

1. Masa Berlaku Hasil Tes HIV

Disebutkan oleh Ikrimah, "Kita di sini menyusun beberapa hal dalam Ranperda. Targetnya beberapa titik tekannya itu, ada pencegahan dini melalui tes HIV/AIDS bagi calon pengantin."

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah apakah ada jaminan kalau calon suami dan istri HIV-negatif akan terus negatif selama mereka hidup dalam ikatan pernikahan?

Tidak ada!

Soalnya, hasil tes HIV hanya berlaku sampai ketika tes HIV dilakukan. Misalnya, tes HIV dilakukan tanggal 2 Agustus 2021 pukul 10.00 WIB, maka hasil tes HIV-negatif hanya berlaku sampai tanggal 2 Agustus 2021 pukul 10.00 WIB.

Setelah tanggal 2 Agustus 2021 pukul 10.00 WIB bisa saja salah seorang dari calon pasangan suami istri itu melakukan perilaku berisiko tertular HIV, yaitu:

-          Melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari pasangan tersebut mengidap HIV/AIDS, atau

-          Melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan pasangan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) karena ada kemungkinan PSK tersebut mengidap HIV/AIDS karena perilaku seksual PSK adalah perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.

Yang perlu diingat adalah PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dan lain-lain.

2. Tes HIV Bukan Vaksin

Di bagian lain Ikrimah mengatakan: "Tujuannya agar jangan sampai yang orang sudah terpapar HIV/AIDS itu menikah tanpa didahului tes, memaparkan kepada pasangannya. Sudah pernah kejadian soalnya, laki-laki positif, nikah, beberapa tahun kemudian istrinya positif, anaknya lahir juga positif. Ini yang kita antisipasi."

Baca juga: Program Penanggulangan HIV/AIDS SumateraUtara Tak Membumi

Lagi pula kalau dibawa ke realitas sosial: berapa orang yang menikah setiap hari dan berapa orang laki-laki dan perempuan yang melakukan perilaku berisiko dalam waktu 24 jam.

Tabel: Perbandingan jumlah warga yang menikah dan melakukan perilaku seksual berisiko tertular HIV/AIDS (Foto: Tagar/Syaiful W. Harahap)

Lagi pula Ikrimah menepis fakta lain yaitu suami yang tertular HIV/AIDS dalam rentang pernikahan biar pun ketika menikah status HIV-nya negarif sehingga menularkan HIV/AIDS ke istrinya.

Gambar: Risiko tertular HIV/AIDS setelah melakukan tes HIV sebelum menikah (Foto: Tagar/Syaiful W. Harahap)


Tes HIV bukan vaksin sehingga biar pun satu pasangan HIV-negatif ketika menikah bisa saja suami tertular HIV/AIDS jika perilaku seksualnya berisiko tertular HIV/AIDS. Perilaku seksual berisiko juga bisa terjadi di dalam ikatan pernikahan jika dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan mereka juga punya pasangan seks yang lain sebelum menikah.

3. Umbar Mimpi Penanggulangan HIV/AIDS

Langkah KPAD Sumut ini jelas tidak komprehensif dalam penanggulangan epidemi HIV/AIDS karena mengabaikan perilaku seksual yang potensial sebagai faktor risiko penularan HIV/AIDS yaitu:

(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(2). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dan lain-lain) karena bisa saja salah satu dari perempuan tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(4). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang  melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.) karena bisa saja salah satu dari laki-laki tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(5). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang melakukan hubungan seksual dengan gigolo, dengan kondisi gigilo tidak memakai kondom, karena bisa saja gigolo itu mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(6). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena bisa saja salah satu dari PSK tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

Yang jadi persoalan besar adalah poin 1, 2, 3, 4 dan 5 ada di ranah privat (pribadi) sehingga tidak bisa dilakukan intervensi karena transaksi seks dilakukan di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan modus melalui media sosial.

Baca juga: Lokalisasi Pelacuran dari Jalanan keMedia Sosial

Yang bisa dilakukan intervensi adalah poin 6 dengan syarat praktek PSK dilokalisir, tapi sejak reformasi semua lokasi dan lokalisasi pelacuran ditutup sehingga praktek PSK terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

KPAD Sumut hanya mengumbar mimpi bisa menanggulangi HIV/AIDS dengan hanya mengandalkan tes HIV sebelum menikah. [] (Sumber: https://www.tagar.id/penanggulangan-hivaids-di-sumut-abaikan-penularan-yang-potensial). 

*Syaiful W. Harahap, redaktur tagar.id


2 komentar:

  1. I am here to appreciate Dr OGU for using his herbal medicine to cure my Herpes virus. Is about 2 years and 6 months now I have been living with this virus and it has been a serious problem to me, I was so confused cause i have been taking several drugs to be cured but all of my effort was in vain,one morning i was browsing through the internet then i saw several testimonies about Dr. OGU curing people from Herpes virus and immediately i contacted Dr. on his email: drogugusolutionhome@gmail.com , i told him about my troubles and he told me that i must be cured, he gave me some instructions and which i rightly followed. so he prepared a herbal medicine and sent it to me via DHL which i used for 2 weeks and i was cured everything was like a dream to me and my Herpes virus was totally gone, dr .OGU , God bless you and give you more power and ability for more cures.i dont know if there is any one out there suffering for herpes virus or any of these diseases..DIABETIES, CANCER,GENITAL AND SIMPLEX HERPES,LOW SPERMS COUNT,SYPHILIS, HIV/AIDS, FIBRIOD,COPD,MENINGITIES,HEPATITIES A, B [HBV] DISEASES, liver diseases .etc why don't you contact dr.Ogu today and be free from your diseases because he is very good and honest Doctor. contact him via email; drogugusolutionhome@gmail.com or text/call him via : +1 (719) 629 0982

    BalasHapus
  2. There is a great herbal man called Dr voodoo who can cure Hepatitis B virus and other deadly diseases with the use of natural herbs to cure Hepatitis B virus problems. He is from Africa and he is a great doctor and he can also cure you as well if you are have the problem And other deadly disease and here is email address voodoospelltemple66@gmail.com or Whatsapp +2348140120719 HERPES CURE,CANCER CURE,HIV/AIDS CURE,HPV CURE

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.