28 November 2020

Bebas HIV/AIDS Tidak Berlaku Selamanya

 

Ilustrasi (Sumber: naijanews.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Napi dan Tahanan Lapas Lhoksukon Bebas HIV-AIDS. Ini judul berita di anteroaceh.com, 24/11-2020.

Yang perlu diperhatikan adalah dalam epidemi HIV/AIDS tidak dikenal istilah  Bebas HIV-AIDS’. Soalnya, ‘bebas HIV-AIDS’ hanya berlaku sampai dengan saat pengambilan darah untuk tes HIV karena tes HIV dan hasil tes HIV bukan vaksin.

Setelah tes HIV bisa saja terjadi penularan HIV/AIDS jika yang berangkutan melakukan salah satau ata beberapa perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:

(1). Laki-laki dan perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan atau laki-laki tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(2). Laki-laki dan perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di luar nikah, dengan perempuan atau laki-laki yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.) karena bisa saja salah satu dari perempuan atau laki-laki tersebut mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(3). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) tidak melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, dengan kondisi gigilo tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(4). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena bisa saja salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan

(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini ‘menyamar’ sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.

(5). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan waria karena ada waria yang sering ganti-ganti pasangan sehingga bisa jadi waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

Dok Pribadi

Apakah ada jaminan 100 narapidana (napi) serta petugas dan pegawai Lapas Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, tidak akan pernah melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS di atas?

Tentu saja tidak ada. Maka, hasil tes HIV dan IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis/raja singa, virus hepatitis B, dll.) hanya berlaku sampai dilakukan tes.

Lagi pula bisa ada di antara napi serta petugas dan pegawai Lapas Lhoksukon berada pada masa jendela yaitu tertular HIV di bawah tiga bulan. Jika ini yang terjadi maka hasil tes HIV yang negatif bisa saja negatif palsu yaitu virus (HIV) sudah ada di darah tapi tidak terdeteksi reagen yang dipakai untuk tes HIV.

Dok Pribadi

Maka pernyataan Kepala Lapas IIB Lhoksukon, Yusnaidi: “100 Napi, tahanan dan pegawai mengikuti tes kesehatan termasuk uji HIV-AIDS dan penyakit menular lainnya, seperti sifilis dan hepatitis, alhamdulillah semuanya negatif” hanya berlaku sampai pengambilan sampel darah untuk tes HIV.

Untuk itulah perlu diberikan pemahaman agar napi, petugas dan karyawan Lapas tidak melakukan perilaku-perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Yang perlu diperhatikan adalah materi KIE (Komuniksi, Informasi dan Edukasi) tentang HIV/AIDS harus berdasarkan fakta medis jangan dibumbui atau dibalut dengan norma, moral dan agama.

Soalnya, sejak epidemi HIV/AIDS terdeteksi di Indonesia (1987) materi KIE selalu dibumbui atau dibalut dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis tentang HIV/AIDS kabur sehingga yang sampai ke masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fbecffc8ede482e6d1fec43/bebas-hiv-aids-tidak-berlaku-selamanya]. *** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.