30 Juni 2018

RUU KUHP, Adakah Pasal yang Mengatur Sanksi Pidana bagi Suami yang Menularkan HIV/AIDS ke Istrinya?

Ilustrasi (Sumber: vikramhospital.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Seorang suami yang menularkan HIV/AIDS kepada istrinya selama ini selalu ada di pihak yang tidak bersalah. Mumpung masih dalam pembahasan, tampaknya perlu juga ada pasal yang mengatur hal ini sebagai perbuatan yang melawan hukum dengan sanksi pidana.
Dalam Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tertanggal 24 Mei 2017 tentang kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan dari tahun 1987 sampai Maret 2017 jumlah kasus AIDS pada ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 12.302. Kemungkinan pertama mereka tertular HIV dari suami karena suami mereka melakukan hubungan seksual yang berisiko dengan perempuan, waria atau laki-laki (ini dikenal sebagai LSL/Lelaki Suka Seks Lelaki).
Sedangkan kasus AIDS pada kelompok umur usia <1 tahun dari tahun 1987 sampai Maret 2017 jumlahnya 307 dan 1-4 tahun sebanyak 1.650, serta 5-14 tahun tercatat 1.042.
Jumlah yang dilaporkan hanyalah yang terdeteksi ketika hamil atau saat persalinan di rumah sakit. Sedangkan ibu rumah tangga yang hamil yang tidak menjalani tes HIV ketika hamil atau tidak melahirkan di rumah sakit tidak bisa diketahui status HIV mereka.
Perilaku seksual yang berisiko tertular HIV yang dilakukan oleh suami-suami, yaitu:
(1). Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom di dalam ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti. Hal ini berisiko karena bisa saja salah satu di antara perempuan tsb. juga punya laki-laki sebagai pasangan seksual yang mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan kepada perempuan tsb.
(2). Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom di luar ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti. Hal ini berisiko karena bisa saja salah satu di antara perempuan tsb. juga punya laki-laki sebagai pasangan seksual yang mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan kepada perempuan tsb.
(3). Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:
(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.
(b). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat plus-plus, 'artis', 'spg', cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu rumah tangga, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.
(4). Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan waria atau waria tidak pakai kondom. Dalam sebuah studi di Surabaya, tahun 1990-an, menunjukkan pelanggan waria umumnya laki-laki beristri dan mereka justru jadi 'perempuan' (dikenal dengan istilah ditempong) dan waria jadi 'laki-laki' (menempong). Kondisi ini menempatkan laki-laki beristri mudah tertular HIV dan IMS [infeksi menular seksual yang lebih dikenal sebagai 'penyakit kelamin', yaitu kencing nanah (GO), raja singa (sifilis), herpes genitalis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, virus kanker serviks, dll.].
(5). Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan lelaki yaitu LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) yang dikenal sebagai biseksual (tertarik secara seksual dengan perempuan sekaligus juga dengan laki-laki). Suami yang biseksual jadi jembatan penyebaran HIV dan IMS ke istri.
Persoalan besar adalah yang dites pertama justru ibu hamil. Sedangkan suami sering menolak tes HIV. Untuk mengatasi hal ini yang menjalani tes HIV pertama adalah suami dari ibu rumah tangga yang hamil sehingga tida bisa mengelak.
Dalam kaitan seorang suami menularkan HIV ke istri tidak bisa lolos dari jerat hukum karena suami-suami itu tertular HIV akibat perilaku mereka. Tidak ada lagi alasan suami mengatakan tidak mengetahui kalau dia sudah tertular HIV karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan seorang suami ada di sisi yang tidak bersalah. Dalih ini tidak bisa diterima karena informasi HIV/AIDS yang akurat sudah disebarluaskan melalui berbagai cara, seperti media massa, media online, blog, ceramah, diskusi, dll.
Ganjalan lain yang bisa meloloskan seorang suami yang diduga menularkan HIV ke istrinya adalah mereka mempunyai surat keterangan 'bebas AIDS' ketika menjalani tes HIV sebelum menikah. Surat keterangan itulah yang mereka jadikan alasan untuk menuduh istrinya selingkuh sebagai perilaku yang memungkinkan si istri tertular HIV.
Dengan melihat angka 12.302 yang akan berimbas kepada bayi yang akan mereka lahirkan sudah waktunya Pemerintah dan DPR mengatur sanksi hukum bagi suami yang menularkan HIV dan IMS kepada istrinya. * [kompasiana.com/infokespro] *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.