21 Mei 2018

400 Pengidap HIV/AIDS di Kota Manado “Lost Control”, Jadi Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: istockphoto.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


Anggota Komisi A DPRD Manado, Sulutk Roy Maramis, meminta instansi teknis rutin melakukan sosialisasi untuk kegiatan pencegahan HIV AIDS di sekolah-sekolah maupun masyarakat. “Agar masyarakat tahu bahaya HIV/AIDS. Dengan begitu akan menekan peningkatan penyakit HIV AIDS di masyarakat.” Ini ada dalam berita “400 Penderita Lost Control. 800 Warga Manado Terjangkit HIV/AIDS” (manadopostonline.com, 30/4-2018).

Masyarakat tahu bahaya HIV/AIDS, tapi masyarakat tidak mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS yang konkret. Ini terjadi karena informasi HIV/AIDS yang disampaikan dalam ceramah, diskusi dan berita hanya sebatas mitos (anggapan yang salah) karena dibalut dengan norma, moral dan agama.

HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga cara-cara penularan dan pencegahannya diketahui dengan pasti. Tapi, karena jadi mitos penularan dan pencegahan HIV/AIDS pun hanya sebatas jargon-jargon moral. Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, ‘seks bebas’, dll. Ini menyesatkan karena penularan HIV melalui hubungan seksual (bisa) terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) jika salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Maka, yang perlu disampaikan adalah cara-cara mencegah penularan HIV bukan bahaya HIV/AIDS. Yang perlu diingat informasi harus akurat sebagai fakta medis bukan sebagai mitos.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manado, dr Robby Mottoh, mengatakan: dari 800 yang terjangkit HIV/AIDS, sebanyak 200-an sudah meninggal dunia dan 200-an orang sedang menjalani pengobatan rutin di Dinas Kesehatan.

Dengan jumlah kematian 200 itu artinya tingkat kematian pada pengidap HIV/AIDS di Kota Manado sangat tinggi yaitu 25 persen. Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang penyakit penyebab kematian 200 pengidap HIV/AIDS tsb.

Terkait dengan kematian 200 pengidap HIV/AIDS itu ada fakta yang dilupakan yaitu ada kemungkinan sebelum meninggal mereka sudah menularkan HIV ke pasangan seksualnya.

Apakah pasangan 200 pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu sudah menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya tidak, maka jika pasangan 200 pengidap HIV/AIDS itu tertular HIV itu artinya ada 200 warga Kota Manado yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Mereka menyebarkan HIV/AIDS tanpa mereka sadari karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan.

Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado kian runyam karena disebutkan ada 400 pengidap HIV/AIDS yang ‘lost control’. Itu artnya 400 pengidap HIV/AIDS ini jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan: “ .... 200-an orang sedang menjalani pengobatan rutin di Dinas Kesehatan.” Pernyataan ini tidak akurat karena ada kesan pengidap HIV/AIDS sakit. Tidak semua pengidap HIV/AIDS menjalani pengobatan rutin. Yang terjadi adalah pengidap HIV/AIDS dengan CD4 di bawah 350 meminum obat antiretroviral (ARV) yang diperoleh gratis dari Dinkes. Obat ARV bukan menyembuhkan HIV/AIDS tapi menghambat replikasi HIV di dalam darah sehingga pengidap HIV/AIDS tetap hidup sehat.

Untuk menghindari HIV AIDS, dia (Mottoh-pen.) mengimbau setia kepada pasangan atau tidak melakukan seks bebas.

Setia kepada pasangan tidak objektif karena bisa saja sebelum berpasangan masing-masing sudah pernah pula melakukan hubungan seksual dengan pasangan lain, misalnya pada pasangan yang sering kawin-cerai (Baca juga: Guru Agama Ini Kebingungan Anak Keduanya Lahir dengan AIDS).

Artinya, kalau salah satu dari pasangan itu mengidap HIV/AIDS biar pun mereka saling setia tetap saja ada risiko penularan HIV kalau suami tidak pakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Sedangkan seks bebas adalah istilah yang ngawur karena tidak jelas artinya. Lagi pula biar pun seks bebas kalau keduanya tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV (Baca juga: ‘Seks Bebas’Jargon Moral yang Menyesatkan dan Menyudutkan Remaja).

Untuk mendeteksi pengidap HIV/AIDS di masyarakat Pemkot Manado perlu membuat regulasi yang mewajibkan suami perempuan yang hamil menjalani konseling HIV/AIDS. Jika hasil konseling menunjukkan perilaku seksualnya berisiko tertular HIV maka dirujuk untuk tes HIV. Selanjutnya jika hasil tes HIV istri positif, maka istri yang hamil wajib mengikuti program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. * [kompasiana.com/infokespro] *

1 komentar:

  1. Thank you for sharing in this article I can a lot and could also be a reference I hope to read the next your article update
    obatpembesarpenispermanen

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.