Ilustrasi
(Sumber: Washington DC YouthForce)
Oleh: Syaiful W HARAHAP
“Jawa Tengah darurat HIV/AIDS, tercatat 20.000 pelajar terjangkit.” Judul berita
di merdeka.com (7/12-2017) ini
benar-benar fantastis. Dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 24 Mei
2017, disebutkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Jateng adalah 24.569. Tidak
tanggung-tanggung penjelasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa
Tengah pelajar itu di tingkat SMP dan SMA.
Angka yang dilansir oleh BNP Jateng itu disebutkan data itu dari
KPA. Tidak jelas apakah yang dimaksud dengan KPA adalah Komisi Penanggulangan
AIDS (KPA) Jawa Tengah.
Angka
20.000 disebutkan dari tahun 1993-2017, ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan
yang sangat mendasar, yaitu:
Pertama, tidak jelas
apakah angka 20.000 tsb. bagian dari jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS Jateng
seperti yang dilaporkan Ditjen P2P.
Kedua, tidak ada penjelasan tentang
faktor risiko (cara penularan) HIV kepada 20.000 pelajar SMP dan SMA di Jateng
itu.
Ketiga, jika 20.000 kasus HIV/AIDS pada
pelajar SMP dan SMA terjadi dengan faktor risiko hubungan seksual itu artinya pelajar
SMP dan SMA di Jateng termasuk yang berperilaku berisiko tinggi tertular HIV, al. sering
melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) dengan kondisi
pelajar laki-laki tidak memakai kondom
Keempat, tidak
dijelaskan komposisi jenis kelamin 20.000 pelajar yang mengidap HIV/AIDS tsb.
Ini penting karena kalau banyak pelajar putri yang idap AIDS bisa jadi dari
pacar mereka yang perilaku seksualnya berisiko atau pelajar yang idap AIDS itu ‘nyambi’
jadi PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata dan tidak mangkal di lokasi/tempat
pelacuran, seperti pelajar, mahasiswi, pemijat, ibu-ibu, dll.).
Kelima, tidak ada penjelasan tentang
sebaran kasus pada pelajar SMP dan SMA. Apakah terpusat di kota atau di desa?
Keenam, tidak ada penjelasan tentang
status mereka sebagai pelajar. Apakah pihak sekolah mengetahui atau tidak?
Apakah ada yang dikeluarkan dari sekolah?
Dengan
enam pertanyaan itu menunukkan berita ini hanya mengusung sensasi tanpa fakta
(empiris). Bahkan, di bagian awal berita ada penjelasan yang sangat naif yaitu
mengait-ngaitkan kasus pelajar itu dengan kemajuan teknologi sehingga “ .... pergaulan
anak muda menjadi agak kebarat-baratan. Parahnya, sampai menerobos norma budaya
ketimuran yang selalu dijaga para pendahulu.”
Perilaku
seksual yang berisiko tertular HIV tidak ada kaitannya dengan kebarat-baratan.
Bahkan, masyarakat di Barat sono justru menerapkan seks yang aman ketika
melalukan hubungan seksual yang berisiko yaitu memakai kondom.
Data
yang disampiakan oleh Asisten Pengelola Program KPA Jateng, Gardea Tyas Wardani,
bertolak belakang dengan laporan Ditjen P2P. Sampai tanggal 31 Maret 2017
laporan Ditjen P2P menyebutkan kumulatif kasus HIV/AIDS di Jateng adalah
24.569. Sedangkan Gardea dalam berita disebutkan memberikan angka 18.913.
Bukankan angka yang dilansir Ditjen P2P justru laporan dari Dinkes dan KPA
Jateng?
Ada
pernyataan yang menyebutukan “Ironinya, tak sedikit pengidap HIV/AIDS tidak
sadar jika mereka sudah tertular.”
Memang
itulah masalah besar dalam penanggulangan HIV/AIDS karena tidak ada tanda-tanda
yang khas AIDS pada orang-orang yang tertular HIV sebelum masa AIDS (antara
5-15 tahun setelah tertular).
Celakanya,
orang-orang yang mengidap HIV/AIDS dan tidak terdeteksi tanpa mereka sadari
akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui
hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak
pakai kondom setiap kali terjadi hubungan seksual.
Disebutkan
pula dalam berita “ .... Banyak yang masih malu untuk melakukan pemeriksaan
maupun cek kesehatan. ....”
Pernyataan
ini tidak akurat karena tidak dijelaskan siepa yang masih malu. Tidak semua orang
harus tes HIV karena tidak semua orang berperilaku yang berisiko tertular
HIV/AIDS. * [kompasiana.com/infokespro] *