28 Oktober 2017

Ilustrasi (Sumber: www.leadershiponline.co.za)


Oleh: Syaiful W HARAHAP

“Masyarakat Disarankan Cek HIV/AIDS di RS” Ini judul berita di aceh.tribunnews.com (27/10-2017).  Dari judul berita ini saja muncul beberapa pertanyaan yang sangat mendasar, al.:

Pertama, dalam kaitan HIV/AIDS bukan ‘cek HIV/AIDS’, tapi tes HIV karena yang bisa dideteksi pada orang-orang yang sudah tertular HIV (virus) adalah antibody HIV yang akan dibentuk tubuh setelah tertular tiga bulan.

Perilaku Berisiko
           
Kedua, Aceh sebagai daerah istimewa memberlakukan syariat Islam sehingga secara de jure tidak ada hiburan malam, panti pijat, diskotek dan pelacuran sehingga jadi tanda tanya besar mengapa ada anjuran agar masyarakat Aceh melakukan ‘cek HIV/AIDS’.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 24 Mei 2017 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di DI Aceh aealah 684 terdiri atas 346 HIV dan 338 AIDS  per 31 Maret 2017.

Ketiga, terkait dengan tes HIV tidak semua orang (masyarakat) berisiko tertular HIV sehingga yang dianjurkan tes HIV bukan masyarakat tapi orang-orang, laki-laki dan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tertular HIV, yaitu:

(1) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom di dalam ikatan pernikahan yang sah (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu di antara perempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(2) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di dalam ikatan pernikahan yang sah (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri)  dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(3) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri)  dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara prempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(4) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan laki-laki yang berganti-ganti (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(5) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) seperti pekerja seks komersial (PSK) dan waria. PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:

(a) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat plus-plus, ‘artis’, ‘spg’, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu rumah tangga, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Transfusi Darah

Maka, untuk warga Aceh yang tidak pernah melakukan salah satu atau beberapa perilaku berisiko di atas tidak perlu tes HIV karena tidak ada risiko tertular HIV.

Yang dikecualikan adalah ibu-ibu rumah tangga yang hamil karena bisa terjadi ada di antara suami ibu-ibu rumah tangga yang hamil itu perilakunya berisiko sehingga kalau suami mengidap HIV/AIDS maka ada risiko penularan secara horizontal ke istri. Kalau istri tertular HIV ada pula risiko penularan vertikal dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Untuk itulah dianjurkan agar ibu-ibu hamil menjalani tes HIV. Kalau ada ibu hamil terdeteksi mengidap HIV/AIDS maka dokter akan melalukan langkah-langkah medis agar bayi yang dikandung ibu tsb. tidak tertular HIV [Di Aceh (Ada) Suami Yang Menularkan HIV kIstrinya].

Tampaknya. Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO), Dinas Sosial Aceh, MY Putra Utama, menggeneralisasi perilaku warga Aceh atau dia berpijak pada cara penularan melalui transfusi darah karena dalam berita disebutkan bahwa penularannya (maksudnya HIV-pen) tidak hanya melalui hubungan seksual, tapi juga bisa melalui transfusi darah.

Tapi, dengan mengatikan penularan HIV dengan transfusi darah pun tidak layak menyebut masyarakat karena: (a) tidak semua warga Aceh pernah menerima transfusi darah, dan (b) PMI secara ketat melakukan skirining HIV terhadap darah donor sehingga darah yang ditransfisikan benar-benar bebas HIV.

Di bagian lain Putra mengatakan bawah penderita HIV/AIDS kadang sangat takut mencari solusi agar bisa mendapatkan pemulihan, dan kadang kala, rasa malu dan takut diketahui itu justru menjadi bomerang. Pasien tidak dapat dilakukan pemulihan karena penanganannya sudah terlambat.

Pernyataan ini jelas tidak akurat karena orang-orang yang terdeteksi terular HIV melalui tes di Klinik-klinik VCT yang dirutuk pemerintah justu otomatis mendapatkan pendampingan, pengobatan dan perawatan jika diperlukan. Setelah hasil tes HIV positif dilanjutkan dengan tes CD4 untuk mengetahui apakah seseorang yang terdeteksi HIV sudah harus meminum obat antiretroviral (ARV).

Langkah Konkret

Yang jadi masalah besar adalah banyak orang yang merasa dirinya tidak berisiko terular HIV karena termakan mitos (anggapan yang salah). Sejak awal epidemi HIV di Indonesia, tahun 1987, informasi terkait cara-cara penularan HIV dibalut dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis hilang. Misalnya, disebutkan penularan HIV hanya terjadi di kalangan ‘kaum homo’, di pelacuran dan ‘orang bule’.

Nah, laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang bukan istri meras tidak berisiko karena perempuan tsb. bukan pelacur dan tidak pula dilakukan di lokalisasi pelacuran. Tapi, cewek atau perempuan tsb. adalah PSK tidak langsung yang tetap berisiko tinggi tertular HIV karena melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu atau beberapa di antara laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tidak langsung tadi berisiko tertular HIV.

Disebutkan pula oleh Dokter Gunardi, SpPS, RSUD Langsa, yang meminta setiap warga peduli kesehatan dan bisa secara sukarela melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi kesehatan karena rumah sakit mempunyai fasilitas VCT HIV/AIDS. Ajakan ini juga tidak pas karena tidak semua orang berisiko tertular HIV.

Memang, seperti dikatakan Putra epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es yaitu kasus yang terdeteksi (digambarakan sebagai puncak gunung es yang muncul  atas ke permukaan air laut, jika dikaitkan dengan Aceh adalah angka yang dilarpokan (684) tidak menggamarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). Tapi, bukan  berarti semua orang atau warga harus tes HIV.

Langkah konkret yang bisa dijalankan pemerintah Aceh untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat adalah dengan membuat peraturan yang mewajibkan suami ibu rumah tangga yang hamil menjalani konseling HIV/AIDS yang dilanjutkan dengan tes HIV jika hasil konseling menunjukkan perilaku suami berisiko tertular HIV.

Sedangkan untuk menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru hanya bisa terjadi kalau warga Aceh yang dewasa tidak ada yang melakukan perilaku-perilaku berisiko di atas. *

27 Oktober 2017

Penyangkalan dan Pengetahuan yang Tidak Akurat Penyebab Tertular HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: Time Magazine)


Oleh: Syaiful W HARAHAP

Kalangan ahli sampai pada kesimpulan bahwa penyangkalan (denial) seseorang mengapa dia tertular HIV terkait dengan perilaku seksual dirinya atau pasangannya dan pengetahuan yang tidak akurat terkait dengan pengertian HIV dan AIDS serta cara-cara penularan dan pencegahannya merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang tertular HIV.

Sampai tanggal 31 Maret 2017 laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI tanggal 24 Mei 2017 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia mencapai 330.152 yang terdiri atas 242.699 HIV dan 87.453 AIDS. Estimasi ahli-ahli epidemiologi menyebutkan kasus HIV/AIDS di Indonesia 600.000. Maka,  baru separuh yang terdeteksi, yang tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Memang, pada kasus ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya tentu buka karena perilaku seksual mereka, tapi perilaku seksual suami-suami mereka yang tidak memahami HIV dan AIDS secara benar atau karena termakan mitos (anggapan yang salah) tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV.

Pejabat dan tokoh agama di salah satu daerah di Indonesia selalu menolak dan menyangkal bahwa perilaku seksual sebagian penduduk yang jadi penyebab epidemi HIV di daerah itu dengan menyalahkan pihak lain (pekerja seks komersial/PSK dari luar daerah) dan mengusung genosida sebagai orasi moral.

Fakta Medis

HIV yaitu virus penyebab kerusakan sistem kekebalan tubuh (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS yakni sindroma kerusakan sistem kekebalan tubuh dapatan karena sistem kekebalan tubuh dirusak oleh HIV yang ditandai dengan berbagai jenis penyakit (Acquired Immune Deficiency Syndrome). HIV dan AIDS adalah fakta medis yaitu bisa diteliti di laboratorium dengan teknologi kedokteran.

Maka, cara-cara penularan dan pencegahan HIV pun bisa diketahui secara medis yaitu mencegah agar cairan-cairan tubuh yang mengandung HIV tidak masuk ke tubuh kita.

Cairan-cairan yang mengandung HIV dalam jumlah yang bisa ditularkan adalah (1) darah, (2) air mani, (3) cairan vagina, dan (4) air susu ibu (ASI),

Sedangkan cara-cara penularan adalah (a) darah yang mengandung HIV melalui transfusi darah, jarum suntik, terpapar ke permukaan kulit yang ada perlukaan, dan peralatan yang bisa menyimpan darah, (b) melalui air mani dan cairan vagina yang mengandung HIV pada hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) di dalam nikah dan di luar nikah, (c) melalui ASI yang mengandung HIV pada proses menyusui.

Jika disimak cara-cara penularan HIV di atas, maka risiko penularan HIV sama sekali tidak ada kaitannya secara langsung dengan orientasi seksual yang dikenal yaitu heteroseksual (laki-laki tertarik secara seksual ke perempuan dan sebaliknya), homoseksual (secara seksual laki-laki tertarik ke laki-laki atau perempuan tertarik secara seksual ke perempuan), dan biseksual (laki-laki tertarik secara seksual ke perempuan dan ke laki-laki).

Maka, pernyataan yang menyebutkan “secara ilmiah dirumuskan  bahwa seks di kalangan gay berisiko lebih tinggi mendapatkan HIV daripada bukan gay’ tidak akurat. Bukan ‘mendapatkan HIV’ tapi tertular HIV. Risiko penularan HIV disebut tinggi pada gay karena seks anal. Pada suami-istri yang melakukan seks anal sebagai variasi pun risiko penularan HIV sangat tinggi seperti gay kalau (a) salah satu idap AIDS dan (b) suami tidak pakai kondom

Pemahaman yang tidak akurat terhadap cara-cara penularan HIV bisa disimak dari jawaban pertanyaan ini. Setiap pelatihan jurnalisme AIDS salah satu pertanyaan yang penulis lontarkan adalah: Jika sepasang gay melakukan seks anal tanpa kondom dengan kondisi dua-duanya HIV-negatif (tidak mengidap HIV), apakah ada risiko penularan HIV?

Hampir 100 persen peserta selalu menjawab: Ada!

Ini yang membuat celaka karena mereka menyimpulkan bahwa penularan HIV karena gay melakukan hubngan seks anal. Padahal, ada risiko penularan HIV pada gay yang melakukan seks anal kalau salah atu atau kedua-dua pasangan gay itu mengidap HIV dan yang menganal tidak pakai kondom.

Nikah di Pelacuran

Begitu juga dengan pertanyaan ini: Jika sepasang remaja melalukan hubungan seksual pranikah, apakah ada risiko penularan HIV?

Lagi-lagi hampir semua peserta menjawab: Ada!

Pemahamhan yang salah dan mitos itu terjadi karena sejak awal epidemi HIV di Indonesia, dan bebarapa negara di dunia, penularan HIV selalu dikait-kaitkan dengan norma, moral adn agama. Misalnya, disebutkan penularan HIV karena zina, melacur, selingkuh, seks anal, seks oral, dll.

Yang paling menyesatkan adalah informasi yang menyebutkan HIV berkembang biak di lokalisasi pelacuran. Padahal, secara empiris yang menularkan HIV ke PSK langsung (PSK yang kasat mata) di lokalisasi pelacuran adalah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan PSK. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki yang menularkan HIV ke PSK bisa sebagai remaja, lajang, duda atau suami sehingga mereka ini selain menularkan ke PSK yang beristri menularkan ke istrinya secara horizontal. Kalau istrinya tertular HIV, maka ada risiko penularan (vertikal) ke bayi yang dikandungnya.

Selanjutnya ada pula laki-laki yang tertular HIV dari PSK yang mengidap HIV karena melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom. Laki-laki yang kemudian tertular HIV dari PSK aalam kehidupan sehari-hari  bisa sebagai remaja, lajang, duda atau suami. Mereka ini selain menularkan ke PSK bagi yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya secara horizontal. Kalau istrinya tertular HIV, maka ada risiko penularan (vertikal) ke bayi yang dikandungnya.

Di awal tahun 1990-an ada satu organisasi mahasiswa yang memakai agama mengusulkan agar di lokalisasi pelacuran dilakukan nikah mut’ah bagi pasangan yang mau melakukan hubungan seksual agar tidak terjadi penularan HIV. Ini jelas menyesatkan karena penularan HIV bukan karena sifat hubungan seksual (zina, melacur, pranikah, dll.), tapi karena kondisi pada saat terjadi hubungan seksual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom).

Karena mitos PSK di lokalisasi tadi, maka banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang merasa tidak berisiko tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual dengan cewek atau perempuan yang bukan PSK dan tidak pula di lokalisasi pelacuran.

Bukan PSK

Mereka lupa kalau cewek atau perempuan yang disebut sebagai PSK tidak langsung itu juga melakukan perilaku berisiko yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti tanpa pakai kondom. Nah, PSK tidak langsung, seperti cewek pemijat, cewek kampus, anak sekolah, ibu-ibu, dll. risiko tertular HIV juga sama dengan PSK langsung di lokalisasi pelacuran.

Awal tahun 2000-an ada seroang pejabat teras di sebuah kabupaten di Indonesia bagian timur yang mengirim surat ke penulis dengan mengatakan bahwa dia merasa tidak berisiko terulatr HIV karena dia melalukan hubungan seksal dengan cewek cantik, pintar, dan kaya di hotel berbintang di wilayahnya atau ketika dinas ke Pulau Jawa. Waktu itu penulis anjurkan agar pejabat itu tes HIV, tapi dia menolak dengan alasan tadi. Belakangan saya dengar kabar dari seorang teman yang jadi pendampingnya kondisi kesehatannya terus turun dan penyakitnya tidak pernah diungkapkan ke keluarga dan instansi tampat dia bekerja.

Kalau saja pejabat tadi menjalani tes HIV sesuai anjuran, tentulah kondisinya tidak parah karena kalau waktu itu terdeteksi HIV positif akan dilanjutkan dengan tes CD4 untuk menentukan langkah penangangan. Jika CD4 di bawah 350  maka akan diberikan obat antiretroviral (ARV).

Obat ini bukan menyembuhkan HIV atau AIDS, tapi menghambat penggandaan HIV di dalam darah. Ketika HIV masuk ke tubuh seseorang, maka HIV akan menggandakan diri di sel-sel darah putih (ini sel kekebalan tubuh) dengan jumlah miliran setiap hari. Sel-sel darah putih yang dijadikan HIB sebagai ‘pabrik’ rusak. Celakanya, HIV yang baru diproduksi akan menggandakan diri pula dengan memakai sel darah putih sebagai ‘pabrik’.

Ketika sel darah putih dalam tubuh seseorang yang mengidap HIV banyak yang rusak sampailah pada masa AIDS (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV) yang ditandai dengan penyakit yang mudah masuk yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TB, dll. Penyakit mudah masuk karena sistem kekebalan tubuh yang rendah yaitu ketika sel darah putih banyak yang rusak.

Maka, orang-orang yang termakan mitos dan mengait-ngaitkan norma, moral dan agama dengan HIV/AIDS akan berada pada situasi yang berisiko tinggi tertular HIV (dari berbagai sumber). * [kompasiana.com/infokespro] *

23 Oktober 2017

AIDS di Indramayu: Gay Bukan Agen Penyebar HIV di Masyarakat



Oleh: Syaiful W HARAHAP


Mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama terjadi karena banyak laki-laki dewasa heteroseksual (laki-laki ke perempuan dan sebaliknya) yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga merupakan salah satu indikator penyebaran HIV oleh laki-laki dewasa.

Maka, amatlah tidak masuk akal kalau kemudian di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, disebutkan bahwa gay (laki-laki yang tertarik secara seksual ke laki-laki, disebut LSL yaitu Lelaki Suka Seks Lelaki) memicu penyebaran HIV/AIDS. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara, ini; "Kelompok LSL jelas memicu penyebaran HIV-AIDS." (republika.co.id/23/10-2017).

Disebutkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Indramayu sejak 1993 sampai pertengahan Oktober 2017 mencapai 2.737 yang terdiri atas 1.165 HIV dan 1.572 AIDS dengan 273 kematian. Tidak disebutkan faktor risiko (cara penularan) kasus-kasus HIV/AIDS tsb.

LSL ada dalam kelompok atau komunitas mereka yang tidak bersentuhan secara seksual dengan masyarakat. Itu artinya penyebaran HIV terjadi di komuntas mereka sendiri. Kalau pun ada yang masuk ke komunitas mereka adalah segelintir laki-laki biseksual.

Yang potensial menjadi penyebar HIV/AIDS di masyarakat adalah laki-laki heteroseksual yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami yang mempunyai istri, bahkan ada yang beristri lebih dari satu. Ada juga laki-laki heteroseksual yang mempunyai pasangan seks lain, seperti selingkuhan dan PSK.

Ketika ada seorang laki-laki heteroseksual yang mengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi, maka tanpa mereka sadari mereka jadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal terutama kepada istrinya dan pasangan lain di dalam dan di luar nikah. Jika istrinya tertular HIV, maka ada risiko penularan (vertikal) kepada bayi yang dikandung, terutama pada saat persalinan dan menyusu dengan air susu ibu (ASI).

Itulah sebabnya diperlukan regulasi yang konkret dan realistis untuk mendeteksi kasus-kasus HIV/AIDS di masyarakat agar mata rantai penyebaran diputus. Celakanya, peraturan daerah (Perda) penanggulangan AIDS yang dikeluarkan Pemkab Indramayu sama sekali tidak memberikan langkah-langkah konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru dan penanggulangan epidemi HIV (Perda AIDS Indramayu: Tidak Menukik keRealitas Sosial terkait HIV/AIDS).

Dalam berita disebutkan: “Mereka pun diminta untuk menghentikan perilaku menyimpang tersebut.” Pernyataan ini berpijak pada mitos (anggapan yang salah) dengan pijakan moral.

Penularan HIV melalui hubungan seksual (vaginal, anal dan oral) terjadi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom), bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, homoseksual, dll.).



Disebutkan pula bahwa selain LSL, peningkatan trend penderita HIV-AIDS  juga terjadi pada kelompok ibu rumah tangga, yang tertular oleh suaminya yang kerap jajan di luar. Justru ini yang jadi masalah besar karena ada risiko penularan terhadap bayi. HIV di kalangan gay ada di komunitas mereka sendiri, sedangkan HIV/AIDS pada laki-laki dewasa potensial sebagai mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Ada pernyataan ‘yang kerap jajan di luar’. Itu fakta bahwa di Indramayu ada praktek prostitusi biar pun tidak ada lokalisasi pelacuran. Celakanya, pemerintah setempat dan banyak kalangan menepuk dada dengan mengatakan tidak ada pelacuran di daerahnya hanya karena tidak ada lokalisasi pelacuran yang ditangani dinas sosial seperti di masa Orba.

Transaksi seks sebagai praktek pelacuran (prostitusi) terjadi setiap saat dan di sembarang tempat dengan berbagai cara mulai dari memakai komunikasi telepon, media sosial dan mucikari. Transaksi ini tidak bisa dijangkau karena tidak kasat mata, tapi risiko penularan dan penyebaran HIV terjadi tanpa bisa ditangani yang pada gilirannya HIV/AIDS terdeteksi pada ibu-ibu hamil dan bayi.

Terkait dengan gay Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu pun angkat bicara dengan meminta agar para gay segera bertaubat. Sayang, MUI tidak melihat kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi. Ibu-ibu rumah tangga itu tertular dari suaminya yang tertular melalui hubungan seksual dengan perempuan lain, terutama pekerja seks komersial (PSK).

Selama Pemkab, MUI dan berbagai kalangan di Kab Indramayu tidak menjalankan penanggulagan yang realistis, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Diskriminasi terhadap Pengidap HIV

Oleh: Syaiful W Harahap
[Sumber: Harian “Pontianak Post”, 2 Desember 2003]

Dengan 472 kasus HIV/AIDS (282 HIV positif dan 190 AIDS), Jawa Timur beradapada peringkat tiga nasional. Angka ini tidak menggambarkan jumlah kasusyang sebenarnya. Perlakuan buruk terhadap Odha (orang yang hidup denganAIDS) menyulitkan penanggulangan epidemi HIV/AIDS.

Melalui Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2003 -hari ini- masyarakat diajak agartidak melakukan stigmatisasi (memberi cap buruk) dan diskriminasi(mengasingkan, mengucilkan, membeda-bedakan) terhadap orang-orang yang hidupdengan AIDS (Odha) karena akan memperburuk epidemi HIV/AIDS. Stigmatitasidan diskriminasi pun merupakan perbuatan melawan hukum dan melanggar hakasasi manusia (HAM).

Selama ini di Surabaya sering dilakukan razia untuk menangkap pekerja seks.Yang tertangkap diambil darahnya untuk tes HIV tanpa melalui standarprosedur tes HIV yang baku (konseling sebelum dan sesudah tes, pernyataankesediaan, asas anonimitas, dan konfidensialitas). Hal ini dilakukanseakan-akan sebagai cara menanggulangi epidemi HIV/AIDS karena pekerja seksyang terdeteksi HIV positif akan 'diawasi'.

Perlakuan itu membuat Odha mengalami stigmatisasi dan diskriminasi sehinggaada kemungkinan orang-orang yang terinfeksi HIV 'menyembunyikan' diri dimasyarakat. Padahal, penanganan pasca tes HIV sangat penting untuk mendorongorang tersebut agar tidak berperilaku berisiko.

Perilaku Berisiko

Mengawasi pekerja seks yang terdeteksi HIV positif tidak banyak manfaatnya.Yang lebih 'berbahaya' justru laki-laki yang melakukan hubungan seksualtidak aman dengan pekerja seks. Mereka berisiko tinggi tertular HIV. Jikaada laki-laki yang tertular HIV, dia akan menjadi mata rantai penyebaran HIVke masyarakat. Dia akan menulari istrinya (horizontal). Jika istrinyatertular, ada pula risiko penularan dari-ibu-ke-bayi (vertikal), terutamapada saat persalinan dan menyusui dengan ASI. Kasus HIV/AIDS yang dilaporkandi Surabaya umumnya terdeteksi di kalangan pekerja seks.

Jadi, ada risiko tertular HIV melalui hubungan seks yang tidak aman (tidakmemakai kondom) dengan pekerja seks. Celakanya, banyak orang yang tidakmenyadari dirinya tertular HIV karena tidak ada keluhan yang khas. Tidak adapula gejala-gejala klinis yang khas HIV/AIDS. Gejala baru muncul jika sudahmencapai masa AIDS (5-10 tahun). Tapi, perlu diingat bahwa biarpun belummencapai masa AIDS, seseorang yang HIV positif sudah dapat menularkan HIVmelalui cara-cara yang sangat spesifik.

Sebagai virus, HIV hanya dapat menular melalui (1) hubungan seks yang tidakaman (tak memakai kondom) dengan pasangannya di dalam dan di luar nikah, (2)transfusi darah, (3) jarum suntik, dan (4) dari ibu yang HIV positif ke bayiyang dikandungnya pada saat persalinan dan menyusui dengan ASI.Karena tidak ada gejala-gejala klinis yang terkait dengan HIV/AIDS, yangdiperlukan ialah kesadaran setiap orang untuk menimbang-nimbang: Apakahdirinya berperilaku berisiko tinggi tertular HIV atau tidak. Jika jawabannya"ya", orang tersebut berisiko tertular HIV.

Perilaku berisiko tinggi tertular HIV adalah (1) melakukan hubungan seks(sanggama) yang tidak aman (tidak memakai kondom) di dalam dan di luar nikahdengan pasangan yang berganti-ganti, (2) melakukan hubungan seks (sanggama)yang tidak aman (tidak memakai kondom) di dalam dan di luar nikah denganseseorang yang suka berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks, (3)menerima transfusi darah yang tidak diskrining, dan (4) memakai jarum suntik dan semprit secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian.Materi KIE.

Setiap orang dapat melindungi diri sendiri dengan aktif agar tidak tertularHIV, yaitu dengan menghindari perilaku berisiko. Tapi, hal itu tidak mudahkarena selama ini informasi tentang HIV/AIDS tidak akurat. Materi KIE(komunikasi, informasi, edukasi) selalu dibalut dengan moral dan agamasehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Misalnya, disebutkan HIV menular melalui zina, seks di luar nikah, 'seks bebas' (istilah ini rancu), seks menyimpang, pelacuran, dll.

Padahal, tidak ada hubungan langsung antara penularan HIV dengan zina, seks di luar nikah, seks menyimpang, atau pelacuran. HIV menular melalui hubungan seksual yang tidak aman jika salah satu dari pasangan itu HIV positif di dalam dan di luar nikah.

Informasi yang menyesatkan itulah kemudian yang membuat masyarakat tidak waspada. Banyak yang merasa tidak akan tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seks di luar lokalisasi. Ada pula yang merasa aman karena kencan dengan 'anak sekolah'.

Kalau hubungan seksual yang tidak aman dilakukan dengan pasangan yangberganti-ganti, baik 'anak sekolah', 'orang baik-baik', dll, tetap berisikotertular HIV. Soalnya, bisa saja di antara teman kencan tersebut ada yangHIV positif.

Ketika epidemi HIV sudah menjadi ancaman yang nyata terhadap kesehatanmasyarakat, langkah yang perlu ditempuh adalah menggencarkan penyuluhan dengan materi KIE yang akurat. Salah satu informasi yang perlu disampaikan kepada masyarakat adalah perilaku-perilaku berisiko tinggi tertular HIV. Selain itu, ada anjuran agar orang-orang yang pernah berperilaku berisiko tinggi mau menjalani tes HIV sukarela sesuai standar prosedur operasi tes HIV yang baku. Dengan mengetahui status HIV lebih dini sebelum mencapai masa AIDS, orang tersebut dapat diajak kompromi agar tidak menulari orang lain.

Selain itu, yang bersangkutan mendapat perawatan medis. Misalnya, pemberian obat antiretroviral (obat yang dapat menahan laju perkembangan HIV di dalam darah) sehingga kondisi kesehatan sampai ke masa AIDS tetap baik. (

(Syaiful W. Harahap, direktur Eksekutif LSM "InfoKespro" Jakarta yang bergerak dalam bidang selisik media/media watch berita HIV/AIDS).

Jangan Hanya Sekedar Menjiplak Thailand



Menguji Efektivitas Perda AIDS Tarakan

Oleh Syaiful W. Harahap
[Sumber: Harian “Radar Tarakan”, 29 Agustus 2008]

Agaknya, membuat peraturan daerah (Perda) sebagai alat untuk menanggulangi epidemi HIV/AIDS masih terus berlanjut. Kali ini Pemkot dan DPRD Tarakan pun menelurkan Perda No 6/2007 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS. Pertanyaannya adalah: apakah Perda efektif menanggulangi HIV/AIDS? Kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan sampai akhir 2007 dilaporkan 148 kasus.

IDE pembuatan Perda di Indonesia ‘mengekor’ ke Thailand yang dikabarkan bisa menekan kasus infeksi HIV baru di kalangan dewasa melalui hubungan seks dengan menerapkan program “Wajib Kondom 100 Persen”.

Perda pertama terkait penanggulangan HIV/AIDS dikeluarkan oleh Pemkab Merauke (Perda No 5/2003) disusul Kab. Nabire (Perda No 18/2003), Prov Jatim (Perda No 5/2004), Kab. Puncak Jaya (Perda No 4/2005), Kota Sorong (Perda No 41/2006), Prov Bali (Perda No 3/2006), Prov Riau (Perda No 4/2006), Kota Palembang (Perda No 6/2007), Kota Tarakan (Perda No 6/2007), dan Prov. NTT (Perda No 3/2007).

Tapi, ada beberapa faktor yang luput dari pemrakarsa perda yaitu: (a) program di Thailand itu dijalankan di lokalisasi pelacuran dan rumah-rumah bordir dengan sistem pengawasan yang objektif. Kalau ada pekerja seks yang tertular penyakit maka ada konsekuensinya sampai penutupan usaha. Program itu jelas tidak bisa dijalankan karena secara de facto dan de jure tidak ada lokalisasi pelacuran dan rumah bordir di Indonesia, dan (b) di Indonesia terjadi penokalan terhadap penggunaam kondom.

Pengekoran terhadap program di Thailand pun tidak komprehensif karena hanya mengambil salah satu aspek saja dari serentetan program yang komprehensif. Keberhasilan Thailand menanggulangi HIV/AIDS adalah melalui peningkatan peran media massa sebagai media pembelajaran masyarakat, pendidikan sebaya (peer educator), pendidikan HIV/AIDS di sekolah, pendidikan HIV/AIDS di tempat kerja di sektor pemerintah dan swasta, pemberian keterampilan, promosi kondom, dan program kondom 100 persen di lingungan industri seks. Maka, karena yang dicontek hanya ekornya maka penanggulangan HIV/AIDS melalui Perda pun tidak efektif.

Yang Berisiko

Ancaman hukuman terhadap pelanggar perda pun jauh di bawah UU, seperti KUHP. Ancaman terhadap pembeberan identitas orang terinfeksi HIV yang diatur Perda pada pasal 22 ayat 4, misalnya, hanya 3 (tiga) bulan kurungan atau denda Rp 50 juta. Di KUHP pembeber rahasia diancam kurungan paling lama 9 (sembilan) bulan (pasal 322 ayat 1).

Masalah transfusi darah yang diatur pada padal 10 ayat 1, 2, dan 3 ancaman pidana hanya 3 (tiga) bulan kurungan dengan denda Rp 50 juta. Bandingkan dengan ancaman terhadap pelanggaran terkait dengan transfusi darah pada 35 ayat 1 UU No 23/1992 tentang Kesehatan yaitu pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Kerajaan Malaysia harus membayar ganti rugi 1 juta ringgit (sekitar Rp 2,5 miliar) kepada seorang ibu guru mengaji yang tertular HIV melalui transfusi darah di rumah sakit pemerintah. Bertolak dari kasus ini Kerajaan Malaysia pun menerapkan standar ISO yang dikeluarkan oleh International Organization for Standardization yang bermarkas di Swiss di semua unit transfusi darah di negeri jiran itu.

Langkah Malaysia ini realistis karena tidak ada jaminan darah bebas HIV kalau hanya diskrining dengan rapid test atau ELISA karena tes ini hanya mencari antibody HIV pada darah donor. Padahal, kalau donor yang menyumbangkan darahnya baru terinfeksi HIV di bawah tiga bulan maka tes ini tidak bisa mencari antibody HIV karena pada masa jendela belum ada antibody HIV pada darah orang-orang yang sudah tertular HIV.

Penggunan kata dalam materi KIE, termasuk perda, pun sering mengabaikan cita rasa berbahasa. Pada pasal 1 ayat 9, umpamanya, disebutkan tentang penjaja seks komersial (PSK). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan: jaja-berjaja-menjaja: pergi berkeliling membawa dan menawarkan barang dagangan (supaya dibeli orang); menjajakan: menjual barang dagangan (dengan dibawa berkeliling); jajaan: barang dagangan yang dijajakan; penjaja: orang yang menjajakan.

Bertolak dari makna kata jaja tentulah penggunaan kata penjaja seks tidak pas karena PSK tidak menjajakan ‘barang dagangannya’. Tidak ada pekerja seks yang berkeliling menunjukkan ‘barang dagangannya’.

Pasal 1 ayat 16 tentang alat pengaman pada saat melakukan hubungan seksual tidak disebutkan dengan jelas apa yang dimaksud dengan alat pengaman. Selama ini ada penolakan terhadap kondom karena ada kesalahan dalam memasyarakat kondom. Mencegah penularan HIV melalui hubungan seks bukan semata-mata dengan kondom tapi jangan melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan orang yang HIV-positif. Persoalannya adalah orang-orang yang sudah tertular HIV tidak bisa dikenali secara fisik. Maka, jika melakukan hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, dengan orang yang tidak diketahui status HIV-nya hindari pergesekan penis dengan vagina.

Pasal 3 ayat 1 ada kata populasi berisiko, sedangkan di pasal 8 ayat 2, 3 dan 4 disebutkan kelompok masyarakat rentan. Ini tidak pas karena yang berisiko dan rentan terhadap penularan HIV adalah perilaku orang per orang. Perilaku yang berisiko tertular HIV adalah (a) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari mereka HIV-positif, dan (b) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, karena ada kemungkinan salah satu dari pasangannya HIV-positif.

Mitos AIDS

Pada pasal 8 ayat 5 disebutkan ‘kelompok rentan yang berperilaku berisiko tinggi wajib melakukan test HIV/AIDS secara priodik’. Bagi orang-orang yang perilakunya berisiko bisa saja tertular pada setiap hubungan seks yang berisiko. Sebelum melakukan tes secara priodik mereak sudah menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari.

Inilah yang memicu penyebaran HIV antar penduduk karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Hal ini terjadi karena tdiak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular). Tapi, pada rentang waktu ini sudah bisa terjadi penularan melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah, transfusi darah yang tidak diskrining HIV dan jarum suntik.

Sasaran pencegahan HIV yang dipaparkan pada pasal 4 tidak akurat karena risiko tertular bukan pada intitusi atau tatanan tapi pada perilaku orang per orang. Maka, yang menjadi sasaran adalah perilaku orang-orang (laki-laki dan perempuan) yang berisiko.

Pasal 7 ayat b disebutkan ‘setiap upaya KIE HIV/AIDS harus mencerminkan nilai-nilai agama, sosial dan budaya yang ada di Indonesia’. HIV/AIDS adalah fakta medis yaitu bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran sehingga pencegahannya pun dalam dilakukan secara medis. Selama ini materi KIE HIV/AIDS selalu dibalut dengan norma, moral, dan agama sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah).

Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, pelacuran, seks di luar nikah, seks menyimpang, jajan, selingkuh, dan homoseksual. Ini mitos karena penyularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap kali sanggama. Kalau KIE hanya mengandung mitos tentulah sudah melanggar pasal 7 ayat e karena masyarakat tidak memperoleh informasi HIV/AIDS yang akurat.

Di beberapa Perda AIDS selalu muncul larangan kepada orang yang mengetahui dirinya sudah HIV-positif untuk menularkan HIV kepada orang lain, seperti di pasal 9 ayat 1. Fakta menunjukkan penularan HIV justru banyak terjadi tanpa disadari. Akan lebih akurat kalau dalam Perda disebutkan: Setiap orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV wajib memakai kondom jika melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah.”

Selama mitos masih menyelimuti penanggulangan HIV/AIDS maka selama itu pula akan terjadi penularan HIV secara diam-diam yang kelak akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan kasus AIDS. ***

* Penulis pemerhati HIV/AIDS melalui LSM (media watch) “InfoKespro”, Jakarta.

Batam bisa Jadi ”Pintu Masuk” Epidemi HIV/AIDS Nasional

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Harian “Sinar Harapan”, Jakarta, 3 Agustus 2001

Big jump in anonymous HIV tests in Singapore”. Judul berita di Harian The Nation, Bangkok, edisi 16 April 2001 ini seakan-akan tidak ada kaitanya dengan Indonesia karena berita itu berisi kabar tentang lonjakan permintaan tes HIV sukarela di Singapura. Namun Anda pasti terkejut jika mengetahui tes itu terkait dengan hubungan seks yang mereka lakukan dengan pekerja seks di Batam dan tempat-tempat wisata lain di Provinsi Riau.

Sampai akhir Maret 2001, kasus kumulatif HIV/AIDS di Batam mencapai 73 buah yang terdiri dari 67 HIV dan sembilan AIDS (enam di antaranya sudah meninggal). Sedangkan untuk Riau sampai 31 Mei 2001 tercatat 197 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 183 HIV dan 14 AIDS (enam meninggal).

Angka kasus HIV yang kecil di Batam itu bisa terjadi karena surveilans tes HIV yang dilakukan tidak sistematis dan tidak konsisten. Sehingga angka yang muncul tidak realistis. Surveilans hanya dilakukan secara sporadis terhadap pekerja seks. Padahal surveilans tes yang sistematis diperlukan untuk mendapatkan angka realistis karena epidemi HIV bagaikan fenomena gunung es (iceberg phenomenon). Angka yang tercatat hanya bagian kecil dari angka yang tidak terdeteksi.

Tetapi, biarpun angka kasus HIV di Batam rendah namun banyak pria penduduk Singapura yang menjalani tes HIV sukarela karena merasa waswas terhadap kemungkinan tertular HIV. Rupanya, mereka telah melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan para pekerja seks di Batam dan tempat-tempat wisata lain di Riau. Sedangkan perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga, merasa perlu menjalani tes HIV sukarela karena mereka yakin suaminya pernah melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti di luar pernikahan mereka.

Jadi, berita itu pun ternyata penting artinya bagi Indonesia, terutama penduduk Batam, Pemko Batam, Badan Otorita Batam dan Pemprov. Riau. Karena dalam berita itu disebutkan seorang penduduk Singapura yang HIV-positif mengaku pernah melakukan hubungan seks (senggama) yang tidak aman (tidak memakai kondom) dengan pekerja seks di Batam. Pria lajang teknisi listrik berusia 30 tahun itu dihukum 15 bulan kurungan karena dia berbohong tentang status HIV-nya ketika menyumbangkan darahnya ke bank darah.

Mata Rantai Penyebaran

Sebagian besar kasus HIV-positif yang berhasil dideteksi di Batam dari surveilans itu adalah pekerja seks. Berarti sudah ada angka prevalensi HIV di kalangan pekerja seks. Sehingga wajar jika warga Singapura merasa waswas tertular HIV setelah mereka melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan pekerja seks di Batam dan daerah tujuan wisata lain di Riau.

Tetapi, bisa pula terjadi sebaliknya. Epidemi HIV di Batam justru dipicu dan didorong oleh pendatang, baik dari daerah lain di Nusantara maupun wisatawan mancanegara. Dalam kaitan ini Batam bisa menjadi “pintu masuk” epidemi HIV dan PMS (penyakit-penyakit menular seksual, seperti sifilis, GO, hepatitis B, dll.) yang pada gilirannya akan menyebar ke seluruh Nusantara. Karena pekerja seks yang terdeteksi HIV-positif melalui surveilans tes dipulangkan ke daerahnya. Beberapa pekeja seks yang dipulangkan itu umumnya berasal dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan daerah-daerah lain di Pulau Jawa.

“Kami punya peta daerah pemulangan pekerja seks yang HIV-positif dari Batam dan Riau,” kata dr. Samsuridjal Djauzi, DSPD, Ketua Umum Yayasan Pelita Ilmu (YPI), Jakarta, ketika berkunjung ke kantor Yayasan Mitra Kesehatan dan Kemanusiaan (YMKK) Batam awal Juli lalu.

Salah seorang pekerja seks yang dipulangkan dari Tanjung Pinang ke sebuah desa di Kabupaten Karawang, misalnya, menjadi dampingan YPI sampai meninggal dunia. Semula perempuan tadi dikucilkan masyarakat tetapi berkat pendekatan YPI dengan mendirikan sanggar kerja di desa itu akhirnya masyarakat bisa menerimanya. Bahkan, sanggar YPI yang didukung Ford Foundation itu menjadi pusat penyebaran informasi seputar HIV/AIDS bagi penduduk di sana.
Pekerja seks yang dipulangkan akhirnya akan menjadi bagian dari mata rantai penyebaran HIV dan PMS. Kalau mereka sudah bersuami maka mereka bisa menulari suaminya. Jika mereka tetap sebagai pekerja seks di kampungnya atau di tempat lain maka mereka pun bisa menulari “pelanggannya”.

Kalau suami mereka mempunyai pasangan seks yang lain, maka akan terjadi pula penularan. Istri mereka yang tertular pun kelak akan menularkannya kepada bayi yang dikandungnya. Begitu seterusnya sehingga terjadi penularan secara horizontal antar penduduk dan vertikal dari-ibu-ke-bayi (mother-to-child-transmission/PMTCT).

Dalam suatu pelatihan yang diselenggarakan YMKK Batam beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Kesehatan Batam, dr. Mawardi, mengungkapkan hasil survei terhadap pekerja seks di dua diskotek Batam menunjukkan 50 persen pekerja seks itu memakai narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) sehingga mereka dalam keadaan high ketika melayani tamu. Kondisi itu menjadi pemicu untuk melakukan senggama.

Celakanya, hal itu membuat mereka lupa daratan sehingga lupa menerapkan seks aman (memakai kondom) ketika melakukan senggama dengan tamunya. Hal ini jelas merupakan kegiatan yang berisiko tinggi tertular atau menularkan PMS dan HIV.

Mawardi mengakui sejak tahun 1999, kegiatan Dinas Kesehatan Batam untuk penanganan HIV/AIDS menurun karena dana yang dikucurkan Bank Dunia sudah tidak ada lagi. Maka, Mawardi pun tidak segan-segan mengajak LSM untuk bahu-membahu menanggulangi masalah epidemi HIV/AIDS dan PMS di Batam.

LSM Didepak

Sayangnya, sebuah LSM berskala nasional yang membuka konseling dan penjangkauan (outreach) di salah satu lokalisasi di Batam, misalnya, terpaksa hengkang dari sana. Mereka ditolak oleh sebuah LSM lokal yang katanya mendapat mandat dari KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah) sebagai pelaksana Keppres No. 36/1994 tentang Strategi Penanggulangan AIDS Nasional di Batam.

Ketika masih diizinkan beroperasi, setiap hari rata-rata empat pekerja seks mengunjungi sanggar LSM ini. Ada yang konsultasi tentang PMS, meminta kondom, mencari obat, dan ada pula yang mengadukan nasibnya tentang perlakuan mucikari.

Karena masalah PMS erat kaitannya dengan kesehatan reproduksi (reproductive health) maka YMKK melakukan pendekatan kepada buruh-buruh perempuan dengan menyediakan konseling gratis dan pengobatan murah. YMKK sudah membuka poliklinik di Batamindo dengan dukungan Ford Foundation dan manajemen Batamindo. “Pendekatan ini sangat penting karena hampir 80% buruh perempuan di Batam merupakan pekerja migran dan mereka berada pada rentang usia seksual aktif,” kata Lola Wagner, Ketua YMKK.

Survei yang dilakukan terhadap buruh perempuan, misalnya, menunjukkan banyak di antara mereka memiliki keluhan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, seperti keputihan, datang bulan tidak teratur, dan lain-lain. Celakanya, mereka tidak mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan yang menjamin kerahasiaan. Pasalnya, ada perusahaan yang mem-PHK buruh perempuan yang mengidap PMS. Untuk itulah YMKK menyediakan voucher berobat bagi buruh-buruh perempuan yang memiliki keluhan kesehatan reproduksi dan tetap menjamin kerahasiaan identitas. *

Memahami HIV/AIDS untuk Melindungi Diri

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]


”Virus HIV (human immuno deficiency virus) terus mengancam warga Provinsi Bengkulu.” Ini pernyataan pada lead berita “21 dari 107 Pengidap HIV/AIDS, Meninggal” di Harian ”Bengkulu Ekspres” (2/10-2007). Ini menunjukkan pemahaman yang tidak komprehensif terhadap HIV/AIDS. Dalam laporan Ditjen PPM&PL Depkes RI tanggal 14 April 2008 disebutkan ada 28 kasus AIDS di Bengkulu dengan 18 kasus pada pengguna narkoba dan 9 meninggal. Angka ini menempatkan Bengkulu pada urutan ke-24 dari 33 provinsi. Perlu diingat angka ini tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat.

HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu/ASI (perempuan).

Penularan HIV melalui darah bisa terjadi kalau darah yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan, dan cangkok organ tubuh. Penularan HIV melalui air mani dan cairan vagina bisa terjadi kalau air mani dan cairan vagina yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh ketika terjadi hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Penularan HIV melalui ASI bisa terjadi kalau ASI yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh pada proses menyusui.

Bertolak dari fakta di atas maka pernyataan yang menyebutkan ”Virus ini dapat menular melalui hubungan seks bebas yang bukan dengan pasangannya” adalah salah karena penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi karena kondisi hubungan seks (salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif) bukan karena sifat hubungan seks (di luar nikah). Pernyataan yang menyebutkan penularan HIV terjadi kalau ” .... melakukan hubungan seksual bukan dengan pasangannya” adalah salah karena dengan pasangan yang sah pun bisa terjadi penularan kalau salah satu HIV-positif dan laki-laki tidak memaki kondom setiap kali melakukan hubungan seks.

Mata Rantai

Selama ini informasi tentang HIV/AIDS sering dibalut dengan norma, moral, dan agama sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, pelacuran, ’jajan’, selingkuh, pranikah, seks menyimpang, waria, dan homoseksual. Padahal, penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi pada ikatan pernikahan yang sah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan zina, pelacuran, ’jajan’, selingkuh, pranikah, seks menyimpang, waria, dan homoseksual.

Sedangkan penularan HIV melalui pengguna narkoba bisa terjadi karena pengguna narkoba dengan suntikan biasanya beramai-ramai. Mereka memakai jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian. Jika salah satu dari mereka HIV-positif maka semua yang memakai jarum suntik akan berisiko tertular HIV. Maka pernyataan ” ..... dihimbau pada masyarakat janganlah pernah untuk mengkonsumsi Narkoba .... ” agar tidak tertular HIV tidak benar karena yang menjadi media penularan bukan narkoba tapi jarum suntik yang dipakai bergiliran. Orang-orang yang menjalani operasi (bedah) di rumah sakit memakai narkoba agar tidak merasa sakit. Kalau disebut narkoba penyebab HIV/AIDS tentulah semua orang yang pernah menjalani oprasi sudah tertular HIV/AIDS.

Disebutkan pula penularan HIV terjadi melalui ” .... jarum suntik yang tidak steril pada proses transfusi darah”. Ini pun tidak benar karena penularan HIV melalui transfusi darah adalah karena darah yang ditransfusikan mengandung HIV. Untuk itulah dianjurkan agar tidak menerima transfusi darah kalau darah yang akan ditransfusikan tidak diskrining HIV.

Disebutkan ” .... di Kota Bengkulu, virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 2001 yang menyerang 3 wanita di lokalisasi”. Fakta ini mengandung dua kemungkinan.

Pertama, ketiga wanita itu ditulari oleh penduduk lokal yang menjadi pelanggan wanita di lokalisasi. Laki-laki yang menularkan HIV kepada tiga wanita itu dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, duda, remaja atau jejaka yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, buruh, tani, nelayan, sopir, pelajar, mahasiswa, perampok, dll. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV antar penduduk. Persoalannya adalah banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya sebelum mencapai masa AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular). Maka, kasus HIV/AIDS tidak banyak yang terungkap bukan karena mereka malu atau menutup-nutupi kasusnya tapi karena tidak mengetahui dirinya sudah tertular HIV. Tapi, pada rentang waktu ini sudah bisa terjadi penularan HIV lagi-lagi tanpa disadari malalui (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan dan cangkok organ tubuh, (d) ASI.

Perilaku Berisiko

Kedua, ketiga wanita itu sudah HIV-positif (mengidap HIV) ketika mereka pertama kali datang ke lokalisasi. Kalau ini yang terjadi maka penduduk lokal yang pernah melakukan hubungan seks tanpa kondom di lokalisasi tadi berisiko tinggi tertular HIV. Kalau ada laki-laki yang tertular, lagi-lagi mereka tidak menyadarinya, maka laki-laki itulah kemudian yang menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk. Bagi yang beristri akan menularkan HIV tanpa disadarinya kepada istrinya (horizontal). Kalau istrinya tertular maka ada risiko penularan kepada bayi yang dikandung istrinya kelak (vertikal). Perlu diingat HIV bukan penyakit turunan tapi penyakit menular sehingga bisa dicegah. Yang tidak beristri akan menularkan HIV kepada pasangan seksnya atau pekerja seks.

Hasil survai perlu dicermati karena hasil HIV-positif tes pada survailans tidak otomatis HIV-positif karena setiap hasil tes HIV harus dikonfirmasi dulu dengan tes lain. Tes HIV dengan rapid test atau ELISA bisa menghasilkan positif palsu (HIV tidak ada dalam darah tapi terdeteksi positif) atau negatif palsu (HIV sudah ada dalam darah tapi tidak terdeteksi). Keabsahan hasil tes HIV baru bisa kuat kalau tes dilakukan minimal tiga bulan setelah tertular HIV.

Terkait dengan kasus yang kian banyak ditemukan terjadi karena kegiatan survailans tes HIV semakin gencar. Selain itu sebagian dari yang tertular HIV pun sudah mencapai masa AIDS. Pada masa AIDS sudah mulai ada penyakit, yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, sariawan, jamur, TB, dll. sehingga mereka berobat. Jika penyakitnya susah disembuhkan maka dokter akan menganjurkan untuk menjalani tes HIV apalagi diketahui kalau perilaku pasien berisiko tinggi tertular HIV.

Perilaku berisiko tinggi tertular HIV adalah (a) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti, (b) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks, (c) menerima transfusi darah dan cangkok organ tubuh yang tidak diskrining HIV, (d) memakai jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan.

ntuk itulah dianjurkan kepada orang-orang (laki-laki dan perempuan) yang pernah melakukan perilaku berisiko untuk menjalani tes HIV secara sukarela. Makin banyak penduduk yang terdeteksi HIV-positif maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang diputus karena mereka diajak untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain. ***

Menyikapi Peringkat Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Dalam Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dikeluarkan Ditjen PPM&PL, Depkes RI, tanggal 30 Januari 2008 Prov. Jawa Barat berada pada peringkat kedua secara nasional jumlah kumulatif kasus AIDS yaitu 1.675 atau 15,04 persen dari 11.141 kasus nasional. Pada kurun waktu Oktober-Desember 2007 dilaporkan 230 kasus AIDS. Kasus ini tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena banyak kasus yang belum atau tidak terdeteksi. Untuk itulah diperlukan penyuluhan yang gencar untuk meningkatkan kesadaran penduduk terhadap penanggulangan epidemi HIV..

Epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es (iceberg phenomenon) yaitu kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya di masyarakat. Hal ini terjadi karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Akibatnya, penularan antar penduduk secara horizontal pun terjadi tanpa disadari.

Kondisi itu terjadi karena orang-orang yang sudah tertular HIV tidak menunjukkan tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya sebelum masa AIDS (secara statistik antara 5-10 tahun setelah tertular). Namun, pada rentang waktu ini sudah bisa terjadi penularan melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, (c) air susu ibu melalui proses menyusui. Orang-orang yang tertular pun tidak menyadari dirinya (baru) tertular HIV.

Hal itu semua terjadi karena selama ini materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral, dan agama sehingga masyarakat pun tidak memahami cara-cara penularan dan pencegahan HIV yang akurat. Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, pelacuran, waria, jajan, selingkuh, ‘seks menyimpang’, ‘seks bebas’, dan homoseksual.

Padalah, penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seks. Sebaliknya, kalau satu pasangan dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, ‘seks menyimpang’, ‘seks bebas’, dan homoseksual.

Pintu Masuk HIV

HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa mengembangbiakkan diri di dalam sel-sel darah putih manusia. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV karena tidak ada limfosit), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu (perempuan).

Penularan HIV melalui darah bisa terjadi melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan, dan cangkok organ tubuh. Penularan HIV melalui ASI bisa terjadi melalui proses menyusui.

Dalam berita “6.300 Wanita Indramayu Jadi PSK di Pulau Batam” (PR, 5/11-2005), misalnya, sama sekali tidak dikaitkan dengan epidemi HIV/AIDS. Padahal, kalau saja fakta itu dibawa ke realitas sosial maka akan lain maknya. Andaikan 10 persen saja dari mereka yang tertular HIV maka 630 wanita Indramayu yang menjadi PSK di Batam sudah menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal ketika mereka kembali ke kampong halamannya. Bagi yang bersuami akan menularkan HIV kepada suaminya dalam ikatan pernikahan yang sah. Yang lain bisa juga melanjutkan pekerjaannya di daerahnya atau di daerah lain jika dia pindah ‘praktek’.

Di Singapura sendiri suami-suami yang bertugas atau rekreasi ke Kep. Riau diwajibkan menjalani tes HIV ketika pulang ke Singapura. Kep. Riau menempati peringkat 9 kasus AIDS secara nasional dengan jumlah 238. Data di sebuah poliklinik di Batam menunjukkan pekerja seks di sana rata-rata tertular lebih dari dua jenis PMS (penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, seperti sifilis, GO, klamidia, dll.). Infeksi PMS ini merupakan luka-luka mikroskopis di alat kelamin yang menjadi ‘pintu masuk’ bagi HIV.

Mata rantai itu baru dari satu daerah, bagaimana dengan daerah lain? Kasus penyebaran HIV di Jabar khususnya dan di Indonesia umumnya didorong pula oleh penduduk lokal yang melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV di luar daerahnya atau di luar negeri. Mereka adalah penduduk: (a) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (b) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks.

Deteksi AIDS

Data Depkes tadi menunjukkan dari 1.675 kasus AIDS di Jabar ternyata 1.356 kasus AIDS ada di kalangan pengguna narkoba suntikan. Data ini juga merupakan ‘lampu merah’ bagi Jabar karena pengguna narkoba suntikan biasanya menyuntikkan narkoba dengan beberapa temannya. Andaikan setiap orang dari 1.675 pengguna narkoba yang terdeteksi AIDS itu mempunyai teman menyuntik 5 maka sudah ada 8.375 orang yang berisiko tertular HIV. Angka terakhir ini akan terus membengkak bak deret ukur karen mereka pun mempunyak teman menyuntuk pula. Begitu seterusnya. Bagi yang beristri mereka menularkan HIV kepada istrinya, selingkuhannya, atau pekerja seks (horizontal). Kalau istrinya tertular maka ada risiko penularan HIV kepada bayi yang dikandungnya (vertikal) terutama saat persalinan dan menyusui dengan ASI. Yang tidak beristri akan menularkan HIV kepada pasangan seksnya, pacarnya atau pekerja seks.

Selain itu disebutkan pula sudah ada 330 Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang mati. Angka ini juga ‘lampu merah’ bagi Jabar karena sebelum meninggal mereka sudah menularkan HIV kepada orang lain. Soalnya, kematian pada Odha terjadi setelah masa AIDS yang secara statistik antara 5-10 tahun setelah tertular HIV. Pada rentang waktu ini banyak Odha yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya. Namun, penularan sudah bisa terjadi melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupuktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, (d) air susu ibu.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV perlu ditingkatkan upaya untuk mendorong agar orang-orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV mau menjalani tes HIV sukarela. Mereka itu adalah penduduk yang pernah melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV yaitu (a) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (b) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks. Mereka inilah sebenarnya yang menjadi mata rantai penyebaran HIV antar penduduk, termasuk kepada pekerja seks. Penularan HIV terjadi tanpa mereka sadari karena mereka juga tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV.

Di Indonesia tidak ada mekanisme yang bisa mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat. Berbeda dengan di Malaysia yang mempunyai mekanisme untuk mendeteksi kasus HIV di masyarakat yaitu melalui tes HIV rutin kepada pasien penyakit PMS (sifilis, GO, dll.), pengguna narkoba suntikan, perempuan hamil, polisi, narapidana, donor darah, dan pasien TBC. Survai khusus dilakukan kepada pekerja seks, homoseksual, serta pelajar dan mahasiswa,

Yang menjadi ‘sasaran tembak’ untuk tes HIV di Indonesia hanya pekerja seks dan waria. Padahal, yang menularkan HIV kepada pekerja seks dan waria adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai suami, pacar, atau selingkuhan yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, pelajar, mahasiswa, sopir, pedagang, pencopet, perampok, dll.

Makin banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang dapat diputuskan. ***