20 Oktober 2017

Menyikapi Kasus HIV/AIDS di Kalangan Ibu Rumah Tangga

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Berita “Sembilan Ibu Rumah Tangga Positif HIV” di Harian “Suara Merdeka” edisi 3 Oktober 2007 menunjukkan pemahaman terhadap epidemi HIV/AIDS di banyak kalangan, termasuk aparat pemerintah, yang tidak komprehensif. Hal inilah salah satu faktor yang membuat penanggulangan HIV/AIDS ‘jalan di tempat’, bahkan bisa dikatakan mudur.

Dalam lead berita disebutkan “Memprihatinkan, virus HIV/AIDS kini tidak saja menyerang mereka yang rawan terkena virus mematikan itu, namun juga telah mengenai ibu rumah tangga.” Pernyataan ini tidak akurat.

Pertama, sebagai virus HIV tidak menyerang tapi menular seperti penyakit menular lain. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu/ASI (perempuan). Penularan melalui darah bisa terjadi kalau darah yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan dan cangkok organ tubuh. Penularan melalui air mani dan cairan vagina bisa terjadi kalau air mani dan cairan vagina yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui luka-luka di alat kelamin ketika melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Sedangkan penularan melalui ASI bisa terjadi melalui proses menyusui.

Kedua, penularan HIV tidak mengenal kelompok, kalangan, grup, dll., tapi terkait dengan perilaku orang per orang. Seseorang (laki-laki dan perempuan) berisiko tinggi tertular HIV kalau sering melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.

Ketiga, HIV sebagai virus tidak mematikan tapi merusak sel-sel darah putih. Seseorang yang sudah tertular HIV akan mencapai masa AIDS, secara statistik antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV. Pada masa AIDS inilah bisa terjadi kamatian karena penyakit akan mudah menyerang. Ini terjadi karena sistem kekebalan (pertahanan) tubuh sudah rapuh. Penyakit yang menyerang pada masa AIDS, disebut sebagai infeksi oportunistik, inilah yang mematikan.

Dalam berita itu tidak jelas faktor risiko (cara penularan) HIV kepada sembilan ibu rumah tangga tsb. Kalau mereka adalah istri maka kemungkinan besar mereka tertular dari suaminya selama mereka tidak berganti-ganti pasangan (misalnya, poliandri atau mempunyai laki-laki lain sebagai pasangan seks/PIL), tidak pernah menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan tidak memakai narkoba dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran.

Kalau mereka tertular dari suaminya dan suami-suami mereka tidak menjalani tes HIV maka para suami itu akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk. Ibu-ibu rumah tangga itu tanpa dipantai atau ditangani pun kecil kemungkinan mereka menularkan kepada orang lain selain kepada bayi yang dikandungnya. Berbeda dengan suami mereka. Para suami itu mempunyai kesempatan yang besar untuk melakukan hubungan seks dengan orang lain selain dengan istrinya. Dalam kaitan ini sudah terjadi bias gender karena persoalan HIV hanya dikaitkan dengan ibu rumah tangga (baca: perempuan) tanpa mengutik-utik suami (baca: laki-laki).

Disebutkan dalam berita “Namun ada hal yang menjadi catatan, ibu-ibu tersebut ada yang tinggal berdekatan dengan kompleks lokalisasi.” Pernyataan ini menyesatkan karena tidak dijelaskan apa kaitan tinggal dekat lokalisasi dengan ibu-ibu yang tertular HIV itu. HIV tidak menular melalui udara, air, dan pergaulan sehari-hari. Maka, tidak ada kaitan lansung antara tinggal di dekat kompleks lokalisasi dengan tertular HIV sepanjang tidak melakukan hubungan seks yang berisiko. Di Arab Saudi tidak ada lokalisasi pelacuran, tapi sampai akhir tahun lalu sudah dilaporkan lebih dari 10.000 kasus HIV/AIDS.

Ada lagi pernyataan “Untuk menjaga etika, dan melindungi ibu rumah tangga yang terkena HIV tersebut, Hendri tidak menyebutkan alamat dan identitas jelas.” Ini juga tidak akurat karena identitas dan jenis penyakit adalah medical record yang merupakan rahasia jabatan dokter. Pembeberan medical record hanya bisa dengan izin pasien atau atas perintah hakim melalui sidang pengadilan. Identitas juga merupakan fakta privat yang tidak bisa dipublikasikan tanpa izin yang bersangkutan atau atas perintah hakim melalui sidang pengadilan.

Selama ada kesan bahwa pekerja seks komersial (PSK) sebagai biang keladi penularan HIV. Ini tidak benar karena yang menularkan HIV kepada PSK adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, remaja, duda atau lajang sebagai mahasiswa, pelajar, karyawan, pegawai, sopir, nelayan, petani, perampok, dll. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.

Penularan HIV terjadi tanpa disadari karena orang-orang yang sudah tertular HIV tidak menunjukkan gejala, tanda, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya sebelum masa AIDS. Orang-orang yang tertular pun tidak pula merasakannya. Inilah yang membuat epidemi HIV/AIDS menjadi persoalan besar.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Selama ini materi KIE (komuniksi, informasi, dan edukasi) tentang HIV/AIDS selalu dibalut dengan norma, moral, dan agama. Akibatnya, fakta medis tentang HIV/AIDS hilang sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, pelacuran, jajan, selingkuh, seks pranikah, dan homoseksual. Padahal, penularan HIV melalui hubungan seks tanpa kondom di dalam dan di luar nikah (bisa) terjadi kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan zina, pelacuran, jajan, selingkuh, seks pranikah, dan homoseksual.

Ada lagi pernyataan “Umumnya, mereka yang terkena HIV tersebut, kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatannya”. Ini juga tidak akurat karena tidak kaitan langsung antara kebersihan dan kesehatan dengan penularan HIV. Penularan HIV melalui transfusi darah, jarum suntik dan alat-alat kesehatan sama sekali tidak terkait dengan kebersihan. Pernyataan ini justru menyuburkan stigma (capa buruk) dan diskriminasi (membeda-bedakan) terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS).

Dikatakan langkah pencegahan al. ‘aktif melakukan penyuluhan di sejumlah lokalisasi’. Pertanyaannya adalah: Siapa yang disuluh? Kalau yang disuluh adalah PSK maka itu namanya langkah mundur karena yang menularkan HIV kepada PSK adalah pelanggan (baca: laki-laki). Fakta menunjukkan PSK tidak mempunyai posisi tawar yang kuat untuk memaksa laki-laki yang mengencani mereka agar memakai kondom jika sanggama.

Kalau laki-laki yang datang ke lokalisasi HIV-positif maka dia akan menularkan HIV kepada PSK selain kepada istrinya atau pasangan seksnya. Sedangkan laki-laki yang HIV-negatif akan berisiko tertular HIV jika sanggama dengan PSK tanpa kondom karena di lokalisasi itu ada PSK yang tertular HIV. Laki-laki inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV adalah dengan meningkatan penyuluhan agar laki-laki yang pernah melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan PSK mau menjalani tes HIV secara sukarela. Laki-laki yang terdeteksi sudah tertular HIV maka penyebaran HIV sudah bisa dihentikan mulai dari diri mereka. Tentus aja materi KIE yang disampaikan pada penyuluhan harus yang akurat dengan mengedepankan fakta medis tentang HIV/AIDS. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.