20 Oktober 2017

Menghentikan Penyebaran HIV/AIDS di Tanah Papua

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Dalam laporan Ditjen PPM&PL Depkes RI tanggal 14 April 2008 tentang statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia pada priode Januari-Maret 2008 dilaporkan 43 kasus AIDS (baru) di Tanah Papua. Dengan tambahan ini maka kasus AIDS di Papua mencapai 1.382 pada peringkat 3 secara nasional dari 33 provinsi. Angka ini tidak menggambarkan kenyataan kasus yang sebenarnya di masyarakat.

Di kala kita masih berkutat dalam ‘debat kusir’ tentang kondom kasus AIDS kian banyak yang terdeteksi dan infeksi HIV baru di kalangan dewasa terus bertambah. Padalah, pada saat yang sama di beberapa negara di Afrika, Amerika Utara, Eropa Barat dan Australia kasus infeksi baru di kalangan dewasa mulai menunjukkan grafik yang mendatar.

Mengapa hal di atas bisa terjadi? Kasus infeksi baru di kalangan dewasa mulai menunjukkan grafik yang mendatar karena di negara-negara itu penduduknya sudah mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan HIV yang akurat. Sebaliknya, di Indonesia umumnya dan Asia Pasifik khususnya penduduk tidak mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan HIV yang akurat karena selama ini masyarakat dijejali dengan materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) HIV/AIDS yang dibalut dengan norma, moral, dan agama. Hal ini membuat fakta medis tentang HIV/AIDS tidak diketahui masyarakat yang berkembang justru mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS.

Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, pelacuran, ’seks bebas’, ’jajan’, selingkuh, waria dan homoseksual. Padahal, penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seks. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan dengan zina, pelacuran, ’seks bebas’, ’jajan’, selingkuh, waria dan homoseksual.

Narkoba

Mencegah penularan HIV melalui hubungan seks adalah dengan cara tidak melakukan hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, dengan orang yang HIV-positif. Persoalan yang muncul adalah kita tidak bisa mengenali apakah seseorang sudah tertular HIV atau belum dengan mata telanjang karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik seseorang yang sudah tertular HIV. Gejala terkait AIDS baru muncul setelah seseorang yang tertular HIV mencapai masa AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular HIV). Tapi, perlu diingat pada kurun waktu itu sudah bisa terjadi penularan HIV melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah dan cangkok organ tubuh yang tidak diskrining, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan alat-alat kesehatan yang dipakai bergantian, (d) air susu ibu (ASI).

Kondisi di ataslah yang membuat penularan HIV di masyarakat terus terjadi karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV sehingga tanpa disadarinya pun dia menularkan HIV kepada orang lain. Dengan 147 kasus yang terdeteksi pada masa AIDS tentulah sebelum mereka terdeteksi mereka sudah menularkan HIV kepada orang tanpa mereka sadari. Kasus yang terdeteksi ini hanya sabagian kecil karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es (yang muncul ke permukaan laut hanya kecil sedangkan di dalam laut tumpukan es jauh lebih besar).

Yang memprihatinkan adalah dari 147 kasus AIDS itu ternyata 115 terdeteksi di kalangan pengguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik yang dipakai secara bergiliran dengan bergantian. Pengguna narkoba suntikan ini biasanya menyuntik ramai-ramai. Andaikan satu kelompok ada lima, maka kemungkinan ada 575 (115x5) pengguna narkoba suntikan yang berisiko tertular HIV. Kalau yang 575 ini pun mempunyak kelompok lain maka kian banyak pengguna narkoba yang berisiko tertular HIV.

Celaknya, pengguna narkoba juga berinteraksi dengan masyarakat sehingga terjadilah penyebaran HIV ke masyarakat. Bagi pengguna narkoba yang beristri dia akan menularkan HIV kepada istrinya (horizontal). Kalau istrinya tertular maka ada pula risiko penularan HIV kepada bayi yang kelak dikandungnya (vertikal). Bisa pula dia menularkan HIV kepada pasangan seks selain istrinya atau kepada pekerja seks. Sedangkan bagi yang tidak beristri dia akan menularkan HIV kepada pasangan seksnya atau kepada pekerja seks. Kalau ada pekerja seks yang tertular HIV maka laki-laki yang mengencaninya tanpa kondom akan berisiko pula tertular HIV. Inilah salah satu mata rantai penyebaran HIV antar penduduk.

Tes Sukarela

Seseorang (laki-laki dan perempuan) berisiko tinggi tertular HIV jika pernah melakukan perilaku berisiko yaitu melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks. Bagi orang-orang yang pernah melakukan perilaku berisiko ini maka mereka sudah ada kemungkinan tertular HIV tanpa mereka sadari.

Dalam kaitan inilah perlu digalakkan penyuluhan yang terus-menerus dengan materi KIE yang akurat yaitu mengedepankan fakta medis. HIV/AIDS adalah fakta medis artinya dapat diuji di laboratorium dengan teknololgi kedokteran sehingga cara-cara pencegahannya pun dapat dilakukan dengan medis.

HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam (a) darah (laki-laki dan perempuan), (b) air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), (c) cairan vagina (perempuan), dan (d) air susu ibu (perempuan).

Penularan melalui darah bisa terjadi kalau darah yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan alat-alat kesehatan. Penularan HIV melalui hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, bisa terjadi kalau air mani dan cairan vagina yang mengandung HIV masuk ke dalam badan saat melakukan hubungan seks tanpa kondom. Penularan HIV melalui ASI bisa terjadi kalau ASI yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui proses menyusui.

Fakta (medis) di atas terkait penularan HIV menunjukkan tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan norma, moral, dan agama. Untuk itulah dalam memberikan penyuluhan HIV/AIDS diutamakan fakta medis agar masyarakat menangkap fakta bukat mitos.

Orang-orang yang merasa pernah melakukan perilaku berisiko diajak untuk memeriksakan diri dengan menjalani tes HIV secara sukarela. Penduduk yang terdeteksi sudah tertular HIV dapat ditangani secara medis, misalnya, melalui pemberian obat antiretroviral (ARV). Obat ini memperlambat perkembangan HIV di dalam darah sehingga kondisi kesehatan tetap terjaga. Selain itu melalui orang-orang yang terdeteksi HIV mata rantai penyebaran HIV diputus sehingga penularan bisa ditekan. Semakin banyak kasus HIV terdteksi maka kian banyak pula mata rantai penyularan HIV yang dapat diputus. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.