20 Oktober 2017

Menekan Laju Penyebaran HIV/AIDS di Banten

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati HIV/AIDS melalui LSM (media watch) “InfoKespro”, Jakarta dan instruktur pada pelatihan wartawan untuk penulisan berita HIV/AIDS yang komprehensif]

Awal tahun 1990-an Thailand sudah diingatkan oleh kalangan epidemiolog untuk menanggulangi epidemic HIV agar kelak tidak menjadi masalah. Thailand menampik dengan alasan penduduk negeri itu berbudaya dan beragama. Apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Devisa dari sektor pariwisata hanya bisa menutupui dua pertiga biaya penanggulangan HIV/AIDS. Hal yang sama akan terjadi Indonesia.

Kasus HIV/AIDS di Thailand terus meroket sampai awal tahun 2000-an jumlahnya mencapai 1 juta. Untunglah kalangan agamawan, dalam hal ini vihara, menjadi tulang punggung pemerintah menangani kasus HIV/AIDS. Vihara menampung orang-orang yang sudah mencapai masa AIDS.

Indonesia sebduru menjadi negara ketiga tercepat pertambahan kasus HIV/AIDS di Asia setelah India dan Cina. Tahun 2001 Dr Peter Piot, waktu itu direktur eksekutif UNAIDS, sudah mengingatkan Indonesia di ICAAP VI, Melbourne, Australia, tentang percepatan kasus HIV/AIDS, terutama di kalangan pengguna narkoba.

Peringatan itu tidak ditanggapi pemerintah. Sekarang lebih dari 40 persen kasus AIDS di Indonesia terdeteksi di kalangan pengguna narkoba. Berbagai kalangan mulai panik menghadapi pertambahan kasus HIV/AIDS yang terus meningkat yang dapat disimak dari berita di media massa.

Pada priode Maret-Agustus 2008 ada 13 berita HIV/AIDS di harian ”Radar Banten”. Luar biasa. Ini merupakan tanggung jawab sosial. ”Radar Banten” sudah menempatkan diri sebagai agen perubahan, di sisi lain pernyataan narasumber tidak akurat. Kemampuan wartawan untuk menulis berita HIV/AIDS yang komprehensif pun masih rendah.

Mata Rantai

Pada berita ”Lakukan Tes Darah Secara Intens, Antisipasi Penyabaran HIV/AIDS” (31/3) ada fakta yang luput. Kasus HIV/AIDS pada pekerja seks dan karyawan tempat-tempat hiburan justru merupakan gambaran ril kasus HIV/AIDS di masyarakat lokal.

Pertama, pekerja seks yang terdeteksi HIV-positif di Banten tertular HIV dari laki-laki penduduk lokal atau pendatang. Kalau ini yang terjadi maka konsentrasi HIV di masyarakat, terutama laki-laki dewasa yang sering melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pekerja seks, sudah tinggi. Laki-laki yang menularkan HIV kepada pekerja seks itulah yang justru menjadi mata rantai penyebaran HIV antar penduduk. Laki-laki ini dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai suami, pacar, duda, lajang, perjaka, remaja yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, sopir, pedagang, petani, nelayan, mahasiswa, pelajar, perampok, dll.

Kedua, pekerja seks yang terdeteksi HIV-positif di Banten sudah mengidap HIV ketika mulai ’praktek’ di Banten. Kalau ini yang terjadi maka laki-laki penduduk lokal atau pendatang berisiko tinggi tertular HIV jika mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seks dengan pekerja seks. Laki-laki yang tertular HIV dari pekerja seks itulah kelak yang akan menjadi mata rantai penyebaran HIV antar penduduk.

Penularan HIV bisa terjadi setiap saat ketika terjadi hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks. Biar pun tes HIV dilakukan setiap hari risiko penularan tetap tidak bisa dicegah. Tes yang ada sekarang yaitu rapid test dan ELISA hanya mencari antibody HIV bukan virus HIV. Antibody HIV baru bisa terdeteksi pada darah seseorang yang tertular HIV setelah tiga bulan tertular.

Pada rentang waktu sebelum terdeteksi HIV-positif (disebut masa jendela) sudah terjadi penularan tanpa disadari. Hal ini terjadi karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5-10 tahun).

Jika sudah masa AIDS akan mulai muncul penyakit yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, pnemonia, sariawan, TB, dll. Karena penyakit yang seharusnya mudah sembuh ini tapi sangat sulit sembuh pada Odha (Orang dengah HIV/AIDS) maka mereka akan berobat ke rumah sakit. Dokter yang jeli akan melihat kaitan gejala itu dengan HIV/AIDS berdasarkan prilaku pasien. Di hari-hari mendatang kasus HIV/AIDS akan terus terdeteksi di rumah sakit. Fakta ini tidak terungkap pada berita ”RSUD Kembali Temukan Penderita HIV/AIDS” (24/7).

Realitas di balik fakta kematian Odha juga sering tidak muncul. Berita ”Sudah 27 Orang Penderita yang Meninggal Dunia, Fenomena Penyebaran Virus AIDS/HIV di Banten” (20/4) tidak muncul realitas terkait kematian Odha. Begitu pula pada berita ”33 Warga Meninggal Terjangkit AIDS, 63 Dinyatakan Positif HIV” (28/6). Sebelum 27 dan 33 Odha itu meninggal tanpa disadari mereka sudah menularkan HIV kepada orang lain. Ini mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk. Bagi yang beristri akan menularkan HIV kepada istrinya, pasangan seksnya atau pekerja seks. Kalau istrinya tertular maka ada risiko penularan terhadap anak yang dikandungnya (vertikal) terutama pada saat melahirkan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Realitas sosial terkait epidemi HIV juga tidak muncul pada berita ”76 Kantung Positif HIV/AIDS” (26/4). Celakanya, pernyataan Arif Mulyawan, Program Officer KPAP Banten, juga tidak akurat. Dalam berita dia mengatakan tidak mengetahui indentitas pendonor yang darahnya HIV-positif karena dia tidak tahu asal donor. Ini ngawur. Di Unit-unit Transfusi Darah (UTD) PMI berlaku unliked anonymous karena yang diskrining bukan donor tapi darah donor. Tidak ada identitas pada darah donor yang diskrining HIV.

Tes Konfirmasi

Fakta ini menujukkan di masyarakat umum, di luar kalangan pekerja seks, waria, dan karyawan tempat hiburan, sudah ada kasus HIV/AIDS. Mereka tidak terdeteksi. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV karena mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV.

Persoalan lain yang sering tidak akurat adalah tentang angka HIV/AIDS. Ada kasus HIV yang terdeteksi dari survailans tes untuk mencari prevalensi (angka perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif pada kalangan tertentu dan pada kurun waktu yang tertentu pula). Ada kasus HIV yang terdeteksi pada skrining darah donor di UTD PMI. Kasus-kasus ini belum positif sebagai HIV karena ada ketentuan setiap tes HIV harus dikonfirmasi dengan tes lain. Hasil tes ini tidak perlu dikonfirmasi karena data itu hanya untuk keperluan epidemiologi, seperti merancang kegiatan penanggulangan, penyediaan obat, dll. Tes di PMI pun tidak dikonfirmasi karena hanya untuk keperluan transfusi.

Angka kasus HIV dan AIDS yang valid adalah tes HIV yang sudah dikonfirmasi. Misalnya, tes pertama dengan rapid test atau ELISAdikonfiramsi dengan tes Western blot. Bisa juga tes dilakukan tiga kali dengan ELISA tapi dengan cara dan reagen yang berbeda. Ini dilakukan jika sudah ada gejala terkait AIDS atau riwayat perilaku yang bersangkutan berisiko tertular HIV. Wartawan sering tidak jeli tentang angka ini. Narasumber pun tidak pula semuanya paham.

Ketika di banyak negara kasus infeksi HIV baru di kalangan dewasa mulai menunjukkan grafik yang mendatar di Indonesia justru sebaliknya. Kasus HIV/AIDS terus muncul. Komentar pun muncul. Ada berita ”Penyebaran HIV/AIDS Harus Ditekan” (5/8). Tapi, Hezi F Zebua, Ketua Komisi B DPRD Lebak, sebagai narasumber justru menyampiakan mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Hezi mengatakan: ”.... peningkatan jumlah penyakit ini, sebagian besar akibat seks bebas ....” Ini tidak akurat karna tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan seks bebas dan narkoba. Penularan HIV melalui hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, bisa terjadi kalau salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap sanggama.

Salah satu faktor yang membuat epidemi HIV/AIDS menjadi persoalan besar adalah karena selama ini materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV selalu dibalut dengan norma, moral, dan agama. Akibatnya, yang muncul hanya mitos. Padahal, HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga pencegahannya pun dapat dilakukan dengan teknologi kedokteran.

Upaya menekan laju penyebaran HIV melalui hubungan seks adalah dengan menganjurkan agar laki-laki yang melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan selalu memakai kondom. Sedangkan melalui jaum suntik pada pengguna narkoba dilakukan dengan program metadhon yaitu mengganti narkoba suntikan dengan narkoba cair sintetis yang ditelan.

Laki-laki dan perempuan yang pernah melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan agar menjalani tes HIV. Semakin banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang diputus. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.