28 Oktober 2017

Ilustrasi (Sumber: www.leadershiponline.co.za)


Oleh: Syaiful W HARAHAP

“Masyarakat Disarankan Cek HIV/AIDS di RS” Ini judul berita di aceh.tribunnews.com (27/10-2017).  Dari judul berita ini saja muncul beberapa pertanyaan yang sangat mendasar, al.:

Pertama, dalam kaitan HIV/AIDS bukan ‘cek HIV/AIDS’, tapi tes HIV karena yang bisa dideteksi pada orang-orang yang sudah tertular HIV (virus) adalah antibody HIV yang akan dibentuk tubuh setelah tertular tiga bulan.

Perilaku Berisiko
           
Kedua, Aceh sebagai daerah istimewa memberlakukan syariat Islam sehingga secara de jure tidak ada hiburan malam, panti pijat, diskotek dan pelacuran sehingga jadi tanda tanya besar mengapa ada anjuran agar masyarakat Aceh melakukan ‘cek HIV/AIDS’.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 24 Mei 2017 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di DI Aceh aealah 684 terdiri atas 346 HIV dan 338 AIDS  per 31 Maret 2017.

Ketiga, terkait dengan tes HIV tidak semua orang (masyarakat) berisiko tertular HIV sehingga yang dianjurkan tes HIV bukan masyarakat tapi orang-orang, laki-laki dan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tertular HIV, yaitu:

(1) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom di dalam ikatan pernikahan yang sah (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu di antara perempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(2) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di dalam ikatan pernikahan yang sah (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri)  dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(3) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri)  dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara prempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(4) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan laki-laki yang berganti-ganti (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(5) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom (di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri) seperti pekerja seks komersial (PSK) dan waria. PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:

(a) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat plus-plus, ‘artis’, ‘spg’, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu rumah tangga, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Transfusi Darah

Maka, untuk warga Aceh yang tidak pernah melakukan salah satu atau beberapa perilaku berisiko di atas tidak perlu tes HIV karena tidak ada risiko tertular HIV.

Yang dikecualikan adalah ibu-ibu rumah tangga yang hamil karena bisa terjadi ada di antara suami ibu-ibu rumah tangga yang hamil itu perilakunya berisiko sehingga kalau suami mengidap HIV/AIDS maka ada risiko penularan secara horizontal ke istri. Kalau istri tertular HIV ada pula risiko penularan vertikal dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Untuk itulah dianjurkan agar ibu-ibu hamil menjalani tes HIV. Kalau ada ibu hamil terdeteksi mengidap HIV/AIDS maka dokter akan melalukan langkah-langkah medis agar bayi yang dikandung ibu tsb. tidak tertular HIV [Di Aceh (Ada) Suami Yang Menularkan HIV kIstrinya].

Tampaknya. Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO), Dinas Sosial Aceh, MY Putra Utama, menggeneralisasi perilaku warga Aceh atau dia berpijak pada cara penularan melalui transfusi darah karena dalam berita disebutkan bahwa penularannya (maksudnya HIV-pen) tidak hanya melalui hubungan seksual, tapi juga bisa melalui transfusi darah.

Tapi, dengan mengatikan penularan HIV dengan transfusi darah pun tidak layak menyebut masyarakat karena: (a) tidak semua warga Aceh pernah menerima transfusi darah, dan (b) PMI secara ketat melakukan skirining HIV terhadap darah donor sehingga darah yang ditransfisikan benar-benar bebas HIV.

Di bagian lain Putra mengatakan bawah penderita HIV/AIDS kadang sangat takut mencari solusi agar bisa mendapatkan pemulihan, dan kadang kala, rasa malu dan takut diketahui itu justru menjadi bomerang. Pasien tidak dapat dilakukan pemulihan karena penanganannya sudah terlambat.

Pernyataan ini jelas tidak akurat karena orang-orang yang terdeteksi terular HIV melalui tes di Klinik-klinik VCT yang dirutuk pemerintah justu otomatis mendapatkan pendampingan, pengobatan dan perawatan jika diperlukan. Setelah hasil tes HIV positif dilanjutkan dengan tes CD4 untuk mengetahui apakah seseorang yang terdeteksi HIV sudah harus meminum obat antiretroviral (ARV).

Langkah Konkret

Yang jadi masalah besar adalah banyak orang yang merasa dirinya tidak berisiko terular HIV karena termakan mitos (anggapan yang salah). Sejak awal epidemi HIV di Indonesia, tahun 1987, informasi terkait cara-cara penularan HIV dibalut dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis hilang. Misalnya, disebutkan penularan HIV hanya terjadi di kalangan ‘kaum homo’, di pelacuran dan ‘orang bule’.

Nah, laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang bukan istri meras tidak berisiko karena perempuan tsb. bukan pelacur dan tidak pula dilakukan di lokalisasi pelacuran. Tapi, cewek atau perempuan tsb. adalah PSK tidak langsung yang tetap berisiko tinggi tertular HIV karena melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu atau beberapa di antara laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tidak langsung tadi berisiko tertular HIV.

Disebutkan pula oleh Dokter Gunardi, SpPS, RSUD Langsa, yang meminta setiap warga peduli kesehatan dan bisa secara sukarela melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi kesehatan karena rumah sakit mempunyai fasilitas VCT HIV/AIDS. Ajakan ini juga tidak pas karena tidak semua orang berisiko tertular HIV.

Memang, seperti dikatakan Putra epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es yaitu kasus yang terdeteksi (digambarakan sebagai puncak gunung es yang muncul  atas ke permukaan air laut, jika dikaitkan dengan Aceh adalah angka yang dilarpokan (684) tidak menggamarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). Tapi, bukan  berarti semua orang atau warga harus tes HIV.

Langkah konkret yang bisa dijalankan pemerintah Aceh untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat adalah dengan membuat peraturan yang mewajibkan suami ibu rumah tangga yang hamil menjalani konseling HIV/AIDS yang dilanjutkan dengan tes HIV jika hasil konseling menunjukkan perilaku suami berisiko tertular HIV.

Sedangkan untuk menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru hanya bisa terjadi kalau warga Aceh yang dewasa tidak ada yang melakukan perilaku-perilaku berisiko di atas. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.