09 Oktober 2017

AIDS di Purbalingga: Yang Ironis Justru Kasus HIV/AIDS pada Laki-laki Beristri



Oleh: Syaiful W HARAHAP

Ironisnya, dari banyaknya penderita HIV/AIDS di Purbalingga, mayoritasnya adalah kaum remaja kisaran usia 16-20 tahun. Pernyataan ini ada dalam berita “Jumlah Remaja Penderita HIV/AIDS di Purbalingga Terus Meningkat” (kompas.com, 9/10-2017).

Remaja yang tertular HIV ada di terminal terakhir karena mereka tidak punya pasangan tetap sehingga potensi untuk menularkan HIV sangat kecil. Bandingkan dengan seorang suami yang tertular HIV yang ototmatis jadi mata rantai penyebaran HIV, paling tidak kepada istrinya. Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Kalau istri tertular HIV, maka ada pula risiko penularan secara vertikal kepada bayi yang dikandungnya terutama ketika persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Kalau status HIV seorang ibu rumah tangga diketahui sejak awal kehamilan, maka dokter bisa mengangani kehamilan agar risiko penularan ke bayi yang di kandungan dapat ditekan sampai nol persen.

Dalam berita tidak dijelaskan faktor risiko (cara penularan) HIV/AIDS pada remaja-remaja itu, apakah melalui jarum suntik narkoba atau hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, yang berisiko yaitu yang dilakukan tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan.

Disebutkan oleh Wakil Bupati Purbalingga, Jawa Tengah, Dyah Hayuning Pratiwi, bahwa selama ini pihaknya telah berupaya untuk menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS dan juga peredaran narkoba yang semakin marak kepada masyarakat.

Yang perlu disosialisasikan bukan bahaya HIV/AIDS, tapi cara-cara penularan dan pencegahan yang akurat dan realistis. Selama ini informasi tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS selalu dibalut dengan moral sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah), sehingga yang faktual jadi hilang.

Terkait dengan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) pun tidak semerta terkait langsung dengan penularan HIV. Narkoba bisa dikaitkan langsung dengan narkoba jika narkoba dipakai dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan kondisi jarum suntik dan perlengkapannya dipakai bergantian. Soalnya, bisa jadi ada di antara mereka yang mengidap HIV/AIDS sehingga yang lain pun berisiko tertular HIV melalui jarum suntik narkoba yang dipakai pengidap HIV/AIDS.

Disebutkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Purbalingga mencapai 224. Tentu saja ini tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat. Secara epidemiologi penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi (224) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarakan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.

Ini pernyataan Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNK Purbalingga, Tarsito: memberantas narkoba dan obat-obatan terlarang perlu didukung elemen masyarakat.

Adalah hal yang mustahil memberantas narkoba. Lagi pula narkoba juga obat medis. Maka, yang perlu ditingkatkan adalah mencegah penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik yang dipakai bersama-sama dengan bergiliran.

Dengan jumlah kumulatif  kasus HIV/AIDS dari tahun 2010 hingga sekarang sebanyak 224, bukan berarti kasus yang ada hanya 224 karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunug es. Kasus yang terdeteksi (224) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bahwa permukaan air laut.

Maka, program yang mendesak dilakukan adalah mendeteksi kasus-kasus yang ada di masyarakat karena pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi akan jadi mata rantai penyebaran HIV tanpa mereka sadari. Penyebaran tertutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan d luar nikah.

Disebutkan oleh Heny Ruslanto dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Purbalingga bahwa penderita HIV/AIDS di Purbalingga terus meningkat. Ini tidak jelas yang meningkat itu jumlah kasus yang terdeteksi atau insiden infeksi HIV baru. Kalau jumlah kasus akan terus meningkat karena cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif yaitu kasus lama ditambah terus dengan kasus-kasus baru.

Salah satu cara mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat adalah dengan membuat regulasi, seperti peraturan bupati (Perbup) atau peraturan daerah (Perda), untuk memaksa suami-suami yang istrinya hamil untuk menjalani konseling tes HIV. Bagi yang perilakunya berisiko tertular HIV dilanjutkan tes HIV. Jika hasilnya positif istri yang hamil pun menjalani tes HIV.

Dengan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu-ibu hamil sangat berguna untuk mencegah penularan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Penanganan oleh dokter bisa menekan risiko penularan sampai nol persen.

Penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PKS) tidak akan bisa dilakukan karena praktek PKS tidak dilokalisir . Kondisi ini tidak memungkinan dilakukan intervensi karena transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Tanpa penanggulangan yang realistis di hulu, maka penyebaran HIV/AIDS di Purbalingga akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.