20 Oktober 2017

AIDS 'Bom Waktu' di Kalangan Pengguna Narkoba

Syaiful W. Harahap, Direktur Eksekutif LSM InfoKespro Jakarta
[Sumber: Harian “Lampung Post”, 2 Desember 2004]

Dalam laporan kasus HIV/AIDS nasional yang dikeluarkan Ditjen PPM & PL, Depkes, 5 Oktober 2004, periode Juli--September 2004 ada lima kasus AIDS yang dilaporkan dari Provinsi Lampung. Sampai 30 September 2004, kasus kumulatif HIV/AIDS di Lampung tercatat 25 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 19 HIV dan 6 AIDS dengan tiga kematian serta lima kasus AIDS di kalangan pengguna narkoba suntikan (IDU). Secara nasional Lampung menduduki peringkat ke-20.

Secara nasional kasus HIV/AIDS sampai 30 September 2004 tercatat 5.701 yang terdiri atas 3.338 HIV dan 2.363 AIDS. Kasus HIV/AIDS global sampai akhir 2001 tercatat 40 juta orang. Angka yang dilaporkan Depkes tidak menggambarkan angka yang sebenarnya.

Epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es (iceberg phenomenon). Artinya, angka yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kasus yang tidak terdeteksi (lihat gambar). Kalangan ahli epidemilogi memperkirakan kasus HIV/AIDS di Indonesia antara 80 ribu dan 120 ribu.

Lebih dari separo kasus HIV/AIDS dunia dideteksi di kalangan perempuan. UNAIDS (Badan PBB untuk HIV/AIDS) menetapkan tema Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2004, yaitu Perempuan, Remaja Putri, dan HIV/AIDS. Tema ini terkait posisi perempuan yang rentan tertular HIV karena ulah suami, pacar atau pasangannya. Sebagian perempuan tertular HIV karena kekerasan, seperti pemerkosaan.

Di banyak negara, ledakan kasus HIV/AIDS dipicu pengguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan suntikan. Di Lampung tercatat lima kasus AIDS di kalangan pengguna narkoba suntikan. Angka ini bisa menjadi pemicu HIV/AIDS di Lampung karena seorang pengguna narkoba yang positif HIV akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal.

Awalnya penularan terjadi di kalangan sesama pengguna narkoba yang memakai jarum suntik dan semprit dengan bergiliran dan bersama-sama. Selanjutnya, penyebaran masuk masyarakat. Bagi pengguna narkoba yang beristri, dia akan menularkannya pada istrinya. Jika istrinya tertular, dia pun akan menularkan HIV kepada bayi yang dikandung saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Lima pengguna narkoba di Lampung yang mencapai masa AIDS tidak menyadari kalau selama bertahun-tahun mereka menyuntikkan narkoba dengan berganti-ganti jarum suntik dan semprit dengan pengguna narkoba lain. Soalnya, sebelum masa AIDS, ada rentang waktu 5--10 tahun. Biar pun pada rentang waktu itu seorang yang positif HIV tidak menunjukkan gejala AIDS, dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain.

Bahkan, ada kemungkinan ada di antara mereka yang juga melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK). Jika ada PSK yang tertular maka laki-laki yang menjadi pengguna PSK itu pun berisiko pula tertular HIV. Pada akhirnya laki-laki pengguna PSK pun menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat antara lain kepada istri, pacar, pasangan atau PSK lain.

HIV (human immunodeficiency virus) yang menyebabkan AIDS (acquired immunedeficiency syndrome), yaitu sindrom cacat kekebalan tubuh dapatan hanya menular melalui; (1) hubungan seks, heteroseks (laki-laki dengan perempuan), biseks (laki-laki dengan perempuan atau dengan laki-laki), seks oral dan seks anal tanpa kondom di dalam dan di luar nikah serta homoseks (gay) dengan seseorang yang positif HIV, (2) melalui transfusi darah yang tercemar HIV, (3) melalui jarum suntik, alat-alat kesehatan, jarum tindik atau jarum tato yang tercemar HIV, dan (4) dari seorang wanita yang positif HIV kepada bayi yang dikandung terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Persoalan yang dihadapi dalam epidemi HIV/AIDS adalah kita tidak bisa mengenali orang-orang yang positif HIV secara fisik. Hampir 80% ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS) tidak menyadari dirinya tertular HIV. Gejala-gejala panas, berat badan turun, diare, dll. tidak otomatis terkait HIV/AIDS karena gejala itu juga terjadi karena penyakit lain.

Kalau ada seseorang yang mengalami panas, berat badan turun, diare, dll. ternyata dia pernah melakukan kegiatan yang berisiko tinggi tertular HIV, gejala tersebut bisa terkait HIV/AIDS. Kegiatan yang berisiko tinggi tertular HIV adalah (1) melakukan hubungan seks penetrasi, heteroseks (laki-laki dengan perempuan), biseks (laki-laki dengan perempuan atau dengan laki-laki), seks oral dan seks anal tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah serta seks oral dan seks anal di kalangan homoseks (gay), (2) melakukan hubungan seks, heteroseks, biseks, seks oral dan seks anal tanpa kondom dengan seseorang yang suka berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks atau waria di dalam dan di luar nikah, (3) menerima transfusi darah yang tidak di-screening HIV, dan (4) memakai jarum suntik dan semprit bersama dengan bergiliran dan bergantian.

Karena epidemi HIV sudah masuk masyarakat, antara lain ditandai kasus HIV positif di kalangan ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak, upaya memutus mata rantai penyebaran HIV adalah meningkatkan penyuluhan dengan mengedepankan fakta medis tentang HIV/AIDS bukan mitos (anggapan yang salah).

Selama ini HIV/AIDS dikait-kaitkan zina, pelacuran, gay, waria, dll. Padahal tidak ada kaitan langsung antara zina, pelacuran, gay, waria dll. dan penularan HIV/AIDS.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal, antarpenduduk perlu ditingkatkan penyuluhan agar laki-laki dan perempuan yang pernah melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS menjalani tes HIV secara sukarela.

Dengan mengetahui status HIV/AIDS seseorang dapat dibimbing agar tidak menularkannya kepada orang lain. Selain itu dapat pula ditangani secara medis, antara lain dengan memberikan obat antiretroviral (untuk menekan pertumbuhan HIV di dalam darah) sehingga yang bersangkutan tetap hidup produktif sebelum dan sesudah mencapai masa AIDS. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.