20 September 2017

Menyikapi Kasus HIV/AIDS di Medan

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP*
Sumber: Harian “WASPADA”, Medan, 23 Juni 2008

Berita “4 Persen PSK Di Medan Terjangkit HIV/AIDS” di Harian WASPADA (2 Juni 2008) sama sekali tidak menggambarkan realitas sosial tentang epidemi HIV di Medan. Secara nasional Kota Medan termasuk dalam daftar “100 Kab/Kota Program Akselerasi” penanggulangan HIV/AIDS. Sampai 31/3-2008 dilaporkan 360 kasus AIDS. Angka ini tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat. Akibatnya, akan terus terjadi penularan IMS dan HIV secara horizontal antarpenduduk.

Dalam berita itu yang dipersoalkan adalah Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menganggap jika sudah disuntik antibiotik maka mereka tidak akan tertular penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, yang disebut sebagai infeksi menular seksual (IMS), seperti sifilis, GO, hepatitis B, klamidia, dll., termasuk HIV.

Padahal, ada fakta yang luput terkait dengan temuan data tersebut yang justru menjadi persoalan besar bagi kesehatan masyarakat Kota Medan khususnya dan nusantara pada umumnya.

Mitos AIDS

Pertama, ada kemungkinan PSK yang terdeteksi HIV-positif di Medan tertular HIV dari laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan PSK tersebut. Kalau ini yang terjadi maka di sudah ada (baca: banyak) laki-laki penduduk Kota Medan laki-laki yang mengidap HIV (HIV-positif). Laki-laki itu dalam kehidupan sehari-hari ada yang sebagai suami, lajang, duda, remaja yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, pengajar, mahasiswa, pencopet, perampok, dll. Tapi karena tidak ada mekanisme yang bisa menjaring ‘lelaki hidung belang’ untuk menjalani tes HIV maka mereka pun tidak terdeteksi.

Selain itu mereka (laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK) tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisikorang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular HIV). Tapi, pada rentang waktu ini sudah bisa terjadi penularan HIV melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah yang tidak diskrining HIV, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan alat-alat kesehatan yang dipakai bersama-sama dengan bergiliran, (c) cangkok organ tubuh yang tidak diskrining HIV, dan (d) air susu ibu (ASI) melalui proses menyusui.

Kondisi di atas merupakan salah satu mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antarpenduduk. Bagi yang beristri mereka akan menularkan IMS kepada istrinya atau perempuan lain yang menjadi pasangan seksualnya, termasuk PSK lain (horizontal). Kalau istrinya tertular maka ada risiko penularan kepada bayi yang dikandungnya. Bagi yang tidak beristri mereka akan menularkan HIV kepada perempuan lain yang menjadi pasangan seksualnya, termasuk PSK lain (horizontal).

Kedua, ada kemungkinan PSK yang terdeteksi HIV-positif di Medan itu sudah mengidap HIV ketika mulai praktek di Medan. Kalau ini yang terjadi maka laki-laki penduduk Kota Medan atau daerah lain yang datang ke Medan yang melakukan hubungan seks dengan PSK berisiko tinggi tertular HIV kalau hubungan seks dilakukan tidak pakai kondom. Kondisi ini juga mendorong penularan HIV antar penduduk seperti halnya kemungkinan pertama.

Masalah HIV/AIDS kian rumit karena selama ini materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibumbui dengan norma, moral, dan agama sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan seks bebas, zina, melacur, jajan, selingkuh, waria, dan homoseksual. Padahal, tidak ada kaitan langsung antara seks bebas, zina, melacur, jajan, selingkuh, waria, dan homoseksual dengan penularan HIV.

Seperti pada berita “Sumut Peringkat 4 kasus AIDS” di Harian “WASPADA” (2/6-2008). Tema seminar itu pun sudah mitos yaitu ‘Narkoba, Seks Bebas Hubungannya dengan HIV-AIDS’.

Penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi di dalam atau di luar nikah jika salah satu atau keduadua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak selalu memakai kondom setiap kali senggama dengan pasangannya. Maka, sama sekali tidak ada kaitan langsung antara seks bebas dengan penularan HIV/AIDS. Dalam hal ini tidak pula jelas apa yang dimaksud dengan ‘seks bebas’. Kata ini merupakan terjemahan bebas dari free sex yang tidak dikenal dalam kosa kata bahasa Inggris.

Tes HIV Sukarela

Kalau yang dimaksud dengan ‘seks bebas’ adalah zina atau melacur maka sekali lagi tidak ada kaitan langsung antara ‘seks bebas’ dengan penularan HIV. Kalau sepasang laki-laki dan perempuan yang HIV-negatif melakukan ‘seks bebas’ maka tidak ada risiko penularan HIV.

HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa mengembangbiakkan diri di dalam sel-sel darah putih manusia.

Ketika HIV mengembangbiakkan diri di sel darah putih maka sel-sel darah putih yang dipakai HIV sebagai ‘pabrik’ pun rusak. HIV yang baru diproduksi mencari sel darah putih lain untuk tempat berkembang biak. Begitu seterusnya sehingga sampai pada satu tahap ketika jumlah sel darah putih tinggal sedikit maka muncullah masa AIDS dengan beberapa gejala yang tidak khas AIDS. Pada tahap ini penyakit sangat mudah masuk karena sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah. Penyakit-penyakit yang masuk pada masa AIDS inilah yang kemudian menyebabkan kematian pada Odha (Orang dengan HIV/AIDS).

Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu/ASI (perempuan). Penularan HIV melalui darah (bisa) terjadi kalau darah yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan, dan cangkok organ tubuh. Penularan HIV melalui air mani dan cairan vagina yang mengandung HIV (bisa) terjadi melalui hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Penularan HIV melalui ASI yang mengandung HIV (bisa) terjadi melalui proses menyusui.

Terkait dengan kasus HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan suntikan sering pula terjadi salah kaprah. Ada kesan yang menularkan HIV adalah narkoba. Penularan HIV pada pengguna narkoba suntikan terjadi karena mereka memakai jarum suntik yang sama secara bersama-sama dengan bergantian. Kalau di antara mereka ada yang HIV-positif maka yang lain pun berisiko pula tertular HIV.

Begitu pula dengan data kasus HIV/AIDS terbanyak pada kalangan pengguna narkoba suntik karena bagi yang akan menjalani rehabilitasi diwajibkan menjalani tes HIV. Maka, amatlah masuk akal banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi di kalangan pengguna narkoba. Sebaliknya, tidak ada mekanisme yang memaksa ‘laki-laki hidung belang’ untuk menjalani tes HIV sehingga sedikit kasus yang terdeteksi di kalangan laki-laki yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV.

Untuk itulah dianjurkan kepada penduduk yang pernah melakukan (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (b) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, untuk melakukan tes HIV secara sukarela.

Kian banyak kasus HIV yang terdeteksi maka semakin banyak pula mata rantai penularan HIV yang diputuskan karena orang-orang yang terdeteksi HIV diajak untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain. Mereka pun bisa pula ditangani secara medis agar mereka bisa tetap produktif. Sekarang sudah ada obat antiretroviral yaitu obat untuk menekan perkembangan HIV di dalam darah orang-orang yang tertular HIV.

* Penulis adalah pemerhati masalah HIV/AIDS di LSM “InfoKespro” Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.