11 Juli 2017

Tidak Ada Positif AIDS

Tanggapan terhadap berita di Harian “ANALISA” Medan

Oleh: Syaiful W. Harahap
LSM “InfoKespro

Berita “Ibu Muda Penderita AIDS di Medan Meninggal, 9 Lagi Masih Dirawat” di harian “ANALISA”, Medan, edisi 5/6-2006 menunjukkan yang tidak akurat terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Pertama, pada aliena pertama disebutkan “Jumlah penderita positif AIDS …. ” Ini tidak akurat karena yang positif adalah virus yaitu HIV di dalam darah. Sedangkan AIDS adalah masa ketika jumlah HIV lebih banyak daripada sel darah putih.

Kedua, dalam berita itu tidak disebutkan apa yang menyebabkan `ibu muda’ itu meninggal dunia. Soalnya, yang mematikan Odha (Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS) adalah infeksi oportunistik yang muncul setelah masa AIDS. Maka, tanpa menyebutkan penyebab kematian maka berita itu tidak akurat sehingga pembaca (baca: masyarakat) akan menangkap bahwa yang mematikan adalah AIDS.

Ketiga, disebutkan ” …. penyakit mematikan …. ” Apakah hanya HIV/AIDS yang mematikan? Penderita flu burung, demam berdarah atau diare mati dalam hitungan hari sedangkan Odha ada yang bertahan sampai belasan tahun tanpa obat.

Keempat, disebutkan bahwa suami `ibu muda’ itu tertular HIV karena “…. sering melakukan hubungan seks bebas tanpa kondom ….” Ini tidak akurat karena tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan seks bebas. Kalau seks bebas dalam berita itu diartikan sebagai `hubungan seks di luar nikah’ maka sama sekali tidak ada kaitan langsung antara `seks bebas’ dengan penularan HIV. HIV menular melalui hubungans seks di dalam atau di luar nibah (bisa) terjadi kalau salah satu atau dua-dua dari pasangan itu HIV-positif. Kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak akan pernah terjadi penularan HIV biar pun dilakukan dengan `seks bebas’.

Kelima, dalam berita tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan `hubungan seks berisiko’ sehingga pembaca tidak menangkap makna dari pernyataan ini.

Keenam, disebutkan untuk menghindari HIV adalah dengan “Jauhkan diri dari narkoba ….” Ini menyesatkan karena narkoba diperlukan untuk medis, seperti obat anestesi. Tanpa narkoba maka puluhan, ratusan bahkan ribuan orang setiap hari akan mati di meja operasi. Yang dihindari adalah memakai narkoba dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian menyuntikkan narkoba karena ada kemungkinan salah satu di antara mereka HIV-positif sehingga yang lain berisiko tinggi tertular HIV.

Ketujuh, disebutkan ” …. setelah itu virus berkembang menjadi AIDS ….”. Ini tidak akurat karena HIV tidak berkembang yang terjadi adalah HIV menggandakan diri di sel-sel darah putih. Sel darah putih tempat HIV menggandakan diri rusak. Virus yang baru diproduksi mencari sel darah putih lain. Begitu seterusnya sampai pada suatu saat jumlah
virus lebih banyak daripada sel darah putih maka itulah yang disebut masa AIDS.

Kedelapan, disebutkan “Apalagi obat yang dapat menyembuhkan AIDS belum ada”. Ini juga tidak jujur karena banyak penyakit yang tidak ada obatnya, seperti demam berdarah. Ada lagi penyakit yang ada obatnya tapi tidak bisa disembuhkan, seperti diabetes dan darah tinggi. Tapi, mengapa tidak disebutkan bahwa tidak ada obatnya kalau memberitkan demam berdarah, diabetes atau darah tinggi?

Selama informasi tentang HIV/AIDS tidak akurat berdasarkan fakta medis maka masyarakat hanya menangkap mitos (anggapan yang salah) sehingga penularan HIV akan terjadi antar penduduk tanpa disadari. Kelak epidemi HIV akan menjadi `bom waktu’. ***

Catatan: pernah dimuat di https://aidsmediawatch.wordpress.com/2009/07/24/tidak-ada-positif-aids/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.