07 Juli 2017

Sensor Kendur, Informasi tentang Seks Menyesatkan

Oleh: Syaiful W Harahap
Tulisan ini dikirim dari Melbourne, Australia.

MELBOURNE – Angka kumulatif kasus HIV/AIDS secara global menunjukkan, penularan terbanyak terjadi melalui hubungan seks, terutama heteroseks (antara laki-laki dan perempuan). Dalam kaitan inilah masalah media dan seksualitas menjadi salah satu aspek yang dibicarakan pada Kongres Internasional AIDS di Asia dan Pasifik VI di Melbourne, Australia.

Globalisasi dan reformasi di beberapa negara mengendurkan kekangan (sensor) terhadap media massa. Tetapi, untuk berita politik, tetap saja ada aturan yang membuat media menyensor diri sendiri. Namun, sangat lain halnya terhadap berita-berita yang terkait dengan masalah seks.

Karena erat kaitannya dengan epidemi HIV, AIDS Society of the Philippines dan The Rockefeller Foundation Bangkok membuka pembahasan tentang “Media and Sexuality: Between Sensationalism and Censure” pada hari ketiga kongres. Menurut Dr Rosalia Sciortino, perwakilan The Rockefeller Foundation Bangkok, Thailand, program ini merupakan salah satu fokus kegiatan Rockefeller di Asia Pasifik.

Empat pembicara, masing-masing dari Cina, Filipina, Thailand, dan Vietnam, mengupas pemberitaan seputar seks di negara mereka. Sebagai kolumnis di Philippine Daily Inquirer, Dr Michael L Tan melihat, liputan media massa tentang seks, termasuk HIV/AIDS, jika menyangkut aspek sensasionalitas media di negeri itu melakukan sensor menurut media masing-masing.

Berita-berita seputar AIDS sering dikaitkan dengan promiskuitas seks di kalangan remaja, pelacuran, dan lainnya. Berita-berita tersebut justru sering dikaitkan dengan moral dan cap negatif terhadap seks secara umum. Hal ini, menurut Tan, justru membuat masalah kesehatan reproduksi berada pada posisi yang berisiko.

Tidak Akurat

Ruj Komonbut, staf pengajar di Fakultas Jurnalistik, Thammasat University, Bangkok, mengatakan, media massa di Thailand sering membuat kesalahan dalam pemberitaan seputar seks. Misalnya, berita tentang masturbasi dan menghindarkan kehamilan yang tidak diinginkan sering tidak akurat. Padahal, banyak remaja Thailand yang sudah melakukan hubungan seks pada usia muda, baik dengan pasangannya maupun de- ngan pasangan yang berganti-ganti, seperti pekerja seks.

Begitu pula dengan pemberitaan seputar HIV/AIDS, media massa di Thailand selalu mengaitkannya dengan kelompok atau kalangan tertentu, seperti pekerja seks dan laki-laki gay. Hal ini, menurut Komonbut, membuat banyak orang yang menepis  kemungkinan terinfeksi HIV karena mereka tidak masuk dalam kelompok itu. Akibatnya, mereka pun melakukan sanggama yang tidak aman. Hal yang sama juga terjadi di Cina dan Vietnam. Bahkan, media massa di Cina dilarang memberitakan kasus-kasus HIV/AIDS.

Dengan mengedepankan moral dalam berita seputar seks, media massa berharap dapat menyadarkan seseorang agar tidak melakukan hal-hal yang salah jika dipandang dari aspek moral. Tetapi, akan lebih baik kalau media massa tidak mengait-ngaitkan moral dengan berganti-ganti pasangan, seks sebelum atau sesudah menikah, karena yang paling penting adalah saling menjaga dan melindungi kesehatan reproduksi pasangan masing-masing.

Dalam kaitan inilah diperlukan berita yang akurat dan objektif, bukan sensasional, karena berita seputar seks erat kaitannya dengan epidemi HIV. Jadi, media massa memegang peranan yang penting untuk menyebarluaskan informasi yang akurat, objektif, dan fair seputar seks agar tidak muncul salah persepsi.

Jika kemudian yang muncul salah persepsi, epidemi HIV pun akan menjadi bencana besar karena penularannya tidak memandang umur, jenis kelamin, ras, agama, status ekonomi, dan sosial. Yang diperlukan justru pemahaman objektif terhadap HIV/ AIDS sehingga setiap orang dapat melindungi dirinya sendiri secara aktif.

[Sumber: Harian “Suara Pembaruan”, 11 Oktober 2001]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.