13 Juli 2017

Bukan Daerah yang Rawan AIDS, tapi Perilaku Seksual Warga

Tanggapan terhadap berita HIV/AIDS di Harian “Media Indonesia

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Newsletter ”InfoAIDS” edisi No. 5/Maret 2009]

Sulawesi Selatan Rawan HIV/Aids”, Harian “Media Indonesia”, 18 Maret 2009. Berita ini menunjukkan pemahaman terhadap epidemi HIV yang sangat rendah. Buktinya, daerah disebut sebagai rawan HIV/AIDS hanya berdasarkan jumlah kasus dalam empat tahun terakhir.

Padahal, pelaporan kasus HIV/AIDS dilakukan dengan cara kumulatif. Hari demi hari sampai tahun demi tahun kasus HIV/AIDS akan terus membengkak karena kasus-kasus yang baru ditemukan terus ditambahkan ke kasus yang sudah ada. Maka, biar pun insiden infeksi baru kelak bisa berkurang angka kasus akan tetap naik atau bertambah.

Kerawanan Sulsel terhadap HIV/AIDS disebutkan sangat mengkhawatirkan karena “ …. dengan jumlah kasus HIV hingga September 2008 sebanyak 1.585 orang dan jumlah kasus Aids sebanyak 622 orang.” Dalam berita ini tidak dijelaskan sumber angka kasus HIV. Soalnya, banyak kasus HIV yang dilaporkan dari hasil suvailans (tes HIV terhadap kalangan tertentu pada kurun waktu tertentu untuk mendapatkan angka prevalensi yaitu perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif untuk mendapat gambaran epidemi).

Yang menjadi persoalan besar adalah kasus AIDS yang mencapai 622. Sebelum mereka mencapai masa AIDS dibutuhkan waktu antara 5-15 tahun sejak tertular HIV. Pada rentang waktu ini mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik mereka. Tapi, pada kurun waktu itu mereka sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari melalui: a. hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, b. transfusi darah yang tidak diskrining HIV, c. jarum suntik dan alat-alat kesehatan yang dipakai bergiliran, d. cangkok organ tubuh yang tidak diskrining HIV, dan e. air susu ibu (ASI) melalui proses menyusui.

Kondisi penyebaran HIV kian parah kalau di antara kasus AIDS itu ada pengguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik. Seorang pengguna narkoba biasanya menyuntik dengan beberapa orang temannya. Teman-temannya itu pun kemudian mempunyak kelompok pula sehingga jumlah yang berisiko tertular HIV bagaikan deret ukur. Angka-angka kasus yang dilaporkan itu hanyalah sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya di masyarakat. Ini disebut sebagai fenomena gunung es.

Disebutkan pula “Sulsel rawan HIV/Aids, karena secara geografis bukan lagi hanya tempat transit bagi wisatawan, tetapi sudah menjadi daerah tujuan ….” Ini tidak akurat dan hanyalah mitos (anggapan yang salah). Pernyataan ini menyesatkan karena mengaitkan penularan HIV dengan wisatawan. Mitos ini sudah berkembang di Indonesia sejak awal epidemi.

Bahkan, pemerintah sendiri memperkuatnya dengan menetapkan kasus AIDS pertama di Indonesia adalah kasus yang terdeteksi pada seorang turis asal Belanda di RS Sanglah Denpasar, Bali (1987). Padahal, setahun kemudian ada orang Indonesia asli yang juga meninggal di rumah sakit yang sama dengan penyakit terkait AIDS tapi tidak dipublikasikan secara luas.

Kerawanan terhadap penularan HIV terjadi karena perilaku, terutama dalam hubungan seks, orang per orang. Penduduk Sulsel yang berisiko tertular HIV dalah mereka yang pernah atau sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks, di Sulsel atau di luar Sulsel.

Mereka itulah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk di Sulsel. Ini terjadi tanpa disadari. *


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.