12 Juli 2017

Berita AIDS yang Tidak Akurat

Tanggapan terhadap berita HIV/AIDS di “Liputan6 SCTV”

Oleh: Syaiful W. Harahap
LSM “InfoKespro” Jakarta

Berita “Penderita AIDS Meningkat, Razia Pelacur Dilancarkan” yang disiarkan “Liputan6 SCTV” tanggal 12 Juni 2006 menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS yang tidak komprehensif.

Disebutkan “Penertiban terhadap pelacur jalanan dan gelandangan pengemis (gepeng) digiatkan menyusul laporan Dinas Kesehatan setempat bahwa delapan orang di Kalimantan Selatan tewas akibat virus Human Immunodeficiency Virus (HIV)”. Pernyataan ini tidak akurat.

Pertama, tidak ada kaitan langsung antara kematian karena HIV/AIDS dengan pelacur jalanan. Penularan HIV bisa terjadi melalui cara-cara yang sama sekali tidak terakit dengan pelacur jalanan. Lagi pula, yang menularkan HIV kepada pelacur jalanan adalah laki-laki yang bisa jadi sebagai suami, remaja, lajang atau duda dari berbagai kalangan
dan status sosial.

Kedua, HIV dan AIDS tidak menewaskan. Seseorang yang tertular HIV dan sudah mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV) meninggal karena penyakit lain yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, ruam, TBC, dll.

Di bagian lain disebutkan “Setelah diambil contoh darah untuk diperiksa, mereka mendapat siraman rohani …”. Dalam dunia kedokteran pengambilan contoh darah untuk tes semua penyakit harus seizing yang bersangkutan. Izin diberikan yang bersangkutan setelah dia mengetahui dengan jelas untuk apa tes dilakukan. Tes yang dilakukan itu sifatnya survailans sehingga harus sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang baku yaitu (a) menganut asas anonimintas, (b) konfidensial dan (c) ada konseling sebelum dan sesudah tes.

Dalam kaitan ini wartawan justru mempertanyakan: Apakah pengambilan darah pelacur jalanan itu sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang baku? Kalau tidak maka hal itu merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran barat terhadap HAM. Ini yang menjadi topik pemberitaan karena di sana ada pihak yang diperlakukan dengan semena-mena sebagai pihak yang tidak berdaya. Wartawan barada pada pihak mereka sebagai `corong’ untuk pemberdayaan.

Karena yang menularkan HIV kepada pelajar jalanan adalah laki-laki, mengapa siraman rohani tidak diberikan kepada laki-laki yang menjadi pelanggan pelacur (jalanan)? Ini menunjukkan berita bias gender. *


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.