30 Juni 2016

Wahai Perantau Berperilaku Berisiko, Ketika Mudik Janganlah Sebarkan HIV/AIDS di Kampung Halamanmu


Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP

Sebagaimana tradisi yang sudah mengakar, maka pada Lebaran semua perantau akan pulang kampung (mudik). Di antara perantau itu ada pekerja seks komersial (PSK) langsung, PSK tidak langsung, cewek kafe, cewek pemijat, cewek penghibur, dll., serta laki-laki dengan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yang juga ikut mudik.

Perantau yang perilakunya berisiko tertular HIV/AIDS bukan omong-kosong karena mobilitas PSK yang sangat tinggi dan industri seks terselubung yang marak di banyak kota besar, terutama kota yang berkembang karena industri. Lagi pula, ada lima kota yang menjadi tujuan laki-laki melakukan ‘wisata seks’ dunia, yaitu: Puncak, Jabar (dari Timur Tengah dan Afrika Utara), Cilegon, Banten, dan Cikarang, Jabar (dari Korea), Singkawang, Kalbar (Taiwan), dan Batam, Kepri (Singapua dan Malaysia).

Maka, tidaklah mengherankan kalau di Batam ada PSK dari berbagai daerah di Indosia. Bahkan, tahun 2005, misalnya,  ribuan perempuan asal Indramayu, Jabar jadi PSK (6.300 Wanita Indramayu Jadi PSK di Pulau Batam. Mereka Merasa Menjadi Pahlawan Ekonomi Keluarga (Harian “Pikiran Rakyat”, 11/11-2005).

Di Papua pun PSK berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Di daerah lain pun sama saja. Mereka ini sangat rentan tertular HIV/AIDS karena kegiatan pelacura di banyak daerah tidak lagi dikontrol melalui regulasi sehingga tingkat risiko tertular HIV sangat tinggi.

Bisa saja ada di antara mereka yang tertular HIV/AIDS di rantau karena perilaku mereka, yaitu:

(1) Perantau laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di dalam dan di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti,  

(2) Perantau laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung, PSK tidak langsung atau cewek kafe, cewek pemijat, cewek penghibur, dll.,

(3) Perantau perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, di dalam nikah (kawin kontrak, nikah siri, dll.) dan di luar nikah (selingkuh, PIL, dll.), atau

(4) Perantau perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) yang mengalami perlakuan kekerasan seksual atau bujuk-rayu majikan untuk melakukan hubungan seksual dengan kondisi majikan tidak memakai kondom.

Karena perempuan perantau itu tidak menyadari bahwa mereka mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko penularan HIV ke suami mereka di kampung. Risiko penularan terjadi karena suami mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual suami-istri.

Ada juga persoalan yang dihadapi oleh istri-istri yang ditinggalkan suami karena pergi merantau mencari pekerjaan. Kalau suami mereka sering melakukan hubungan seksual yang berisiko di rantau ada kemungkinan suami-suami itu tertular HIV/AIDS di rantau. Karena suami-suami itu tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS, maka ketika melakukan hubungan seksual dengan istri mereka tidak memakai kondom. Itu artinya ada risiko suami menularkan HIV/AIDS ke istri.

Ketika kelak istri yang tertular HIV/AIDS dari suami hamil, maka ada pula risiko istri tsb. menularkan HIV ke janin yang dikandungnya. Dianjurkan agar ibu-ibu yang hamil mau mengikuti konseling HIV/AIDS di puskesmas atau rumah sakit. Konseling dan tes HIV di puskesmas bagi ibu-ibu yang hamil gratis

Kalau ada ibu-ibu yang hamil terdeteksi mengidap HIV/AIDS, pemerintah akan melakukan langkah-langkah pencegaha yang dikenal sebagai pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya dengan bantuan dokter. Obat yang diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah penularan ke bayi yang di dalam kandungan gratis.

Bagi suami yang istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika sedang hamil diminta agar mengikuti konseling dan tes HIV di puskesmas. Ini sangat penting agar suami-suami itu tidak menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Selain itu suami-suami yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS pun akan ditangani oleh dokter agar tetap bisa bekerja seperti biasanya karena dengan penanganan dokter akibat HIV/AIDS bisa dikendalikan.



Di sisi lain persoalan juga dihadapi oleh istri-istri yang pergi merantau untuk bekerja. Berbagai studi menunjukkan banyak suami yang tidak setia sehingga mereka melakukan hubungan seksual berisiko ketika istri merantau. Ada yang jadi pelanggan PSK. Ada pula yang kawin-cerai. Ini bisa terjadi karena mereka secara rutin menerima uang kiriman dari istri yang seharusnya untuk keperluan anak-anak mereka, tapi oleh suami dipakai untuk kawin lagi, selingkuh atau ngeseks dengan PSK.

Terkait dengan kasus di atas, suami-suami yang tidak setia ketika ditinggal istri yang merantau cari kerja dianjurkan agar menjalani konseling dan tes HIV di puskesmas. Jika belum sempat, dianjurkan agar suami-suami yang tidak setia itu memakai kondom ketika sanggama dengan istri yang baru pulang dari rantau.

Yang paling dikhawatirkan adalah kalau ada PSK langsung dan PSK tidak langsung yang mengidap HIV/AIDS  justru 'buka lapak' d kampung halamannya atau pindah ke kota lain. Itu artinya terjadi penyebaran HIV secara massal di masyarakat, yaitu: PSK menularkan HIV ke pelanggan, dan pelanggan menularkan HIV ke istri, pacar, selingkuhan atau PSK lain.

Sudah saatnya kita jujur pada diri sendiri agar tidak mencelakai orang lain, terutama istri dan anak-anak yang akah dilahirkan istri. Untuk itu bagi yang pergi merantau dan pernah melakukan perilaku berisiko di rantau dengan berbagaialasan segeralah ke puskesmas untuk konseling dan tes HIV. *** [kompasiana.com] ***