11 Maret 2016

AIDS di Kab Sukabumi Jabar: Gay Bukan (Karena) Korban Sodomi

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Tata cara pelaporan kasus HIV/AIDS yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Ditjen PP&P, Kemenkes RI, yang disebutkan adalah faktor risiko (cara penularan) berupa orientasi seksual, yaitu heteroseksual, homoseksual (gay dan waria), dan biseksual. Celakanya, di Kabupaten Sukabumi, Jabar, pelaporan kasus HIV/AIDS bertentangan dengan kebijakan pemerintah yaitu menyebutkan gay.

“Sedikitnya 44 gay (lelaki suka lelaki) di Kabupaten Sukabumi tertular penyakit HIV/AIDS. Jumlah pengidap HIV/AIDS dari komunitas gay ini lebih tinggi dibanding pengidap penyakit mematikan ini dari kalangan pekerja seksual komersil (PSK).” Ini lead berita “44 Gay di Sukabumi Tertular HIV/AIDS” (poskotanews.com, 10/3-2016).

Judul berita ini bombastis dan sensasional serta bertentangan dengan kebijakan cara-cara penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Sedangkan lead berita di itu juga amat sangat tidak membantu penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia karena mengadung stigma (cap buruk) serta menyebarkan informasi yang tidak akurat.

Pertama, HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus yang menular dari pengidap HIV/AIDS ke orang lain melalui cara-cara yang sangat khas yaitu: (a) hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) di dalam dan di luar nikah dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, (b) melalui transfusi darah, (c) melalui jarum suntik dan benda-benda yang bisa menyimpan darah, dan (d) melalui menyusui ASI. Sedangkan AIDS adalah kondisi yaitu keadaan seseorang yang sudah tertular HIV/AIDS antara 5-15 tahun yang ditandai dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga mudah diserang penyakit lain.

Kedua, data 44 gay tsb. tidak akurat karena dalam berita tidak dijelaskan kasus pada lesbian, biseksual, dan transgender (waria). Bisa jadi 44 itu adalah kasus pada kalangan homoseksual.

Ketiga, HIV dan AIDS tidak mematikan. Sampai detik ini tidak ada kasus kematian karena HIV atau AIDS atau karena HIV/AIDS. Kematian pada pengidap HIV/AIDS disebabkan oleh penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll.

Keempat, kasus HIV/AIDS pada PSK akan kecil karena 1 PSK melayani 3-5 laki-laki per malam. Lagi pula kasua HIV/AIDS pada PSK hanya diperoleh melalui kegiatan survailans yang tidak berkesinambungan.

Dengan empat hal di atas lead berita ini sama sekali tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat agar lebih waspada, tapi mendorong masyarakat memusuhi ‘gay’, dalam hal ini bisa saja homoseksual.

Selain itu judul dan lead berita ini pun merusak tatanan penanggulangan HIV/AIDS karena mengabaikan fakta berupa kasus pada heteroseksual. Judul dan lead berita ini pun membuat banyak orang, terutama laki-laki heteroseksual, lalai sehingga mereka melakukan perilaku berisiko karena mereka menganggap tidak berisiko karena bukan gay.

HIV/AIDS pada gay ada di ‘terminal’ terakhir karena mereka tidak akan menyebarkan HIV/AIDS di masyarakat. Bandingakan dengan 1 laki-laki dewasa yang beristri. Jika dia mengidap HIV/AIDS, maka laki-laki ini akan jadi mata ratai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Bisa jadi ada yang beristri lebih dari satu, dan sering pula ngeseks dengan PSK. Jika istri dan pasangan seks mereka tertular HIV ada pula risiko penularan HIV secara vertikal dari ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Entah apa yang ada di benak Wakil Supervisor Pengendalian Penyakit HIV/AIDS dan Inveksi Seksual Menular, Dinkes Kabupaten Sukabumi, Didi Sukmadi, ini sehingga dia hanya menyebutkan gay.

Di bagian lain disebutkan: Kalangan gay, kata Didi, resiko terkena HIV/AIDS sangat tinggi dibandingkan perilaku seksual lainya

Pertanyaan untuk Didi: Kalau begitu, mengapa jumlah kasus AIDS secara nasional lebih banyak pada heteroseksual, yaitu 3,46 persen (homoseksual) dan 66,74 persen (heteroseksual)?

Kalau dipakai analogi pernyataan Didi maka kasusnya terbalik yaitu yang paling banyak ada pada homoseksual.

Lalu, apakah seks anal pada suami-istri dan pada laki-laki heteroseksual dan waria tidak berisiko? Mengapa hanya menyebut seks anal pada gay?

Disebutkan pula dalam berita: “Kami perkirakan jumlah saat ini lebih dari 2.000 gay. Untuk data 2015 belum kami rekap, sehingga belum pasti jumlah penambahannya,” kata Direktur Lensa Sukabumi Daden Sukendar.

Ini benar-benar fantastis karena populasi gay di masyarakat sangat kecil. Apakah Pak Direktur tidak salah paham dengan menyebut waria sebagai gay? Soalnya, dalam berita sama sekali tidak ada catatan tentang kasus HIV/AIDS pada waria. Atau di Kab Sukabumi memang tidak ada waria karena semuanya gay?

Daden katakan pula: “30 persen gay yang ada di Kabupaten Sukabumi adalah korban sodomi dari pelaku sebelumnya. Sehingga dirinya melampiaskan yang pernah dialaminya ke lelaki lain.”

Ini benar-benar salah kaprah. Gay adalah salah satu orientasi seksual yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sodomi. Seks anal berbeda dengan sodomi. Seks anal adalah satu satu cara melakukan hubungan seksual, sedangkan sodomi adalah perbuatan melawan hukum karena melakukan hubungan seksual secara paksa ke bagian yang tidak semestinya.

Penjelasan Daden tentang gay kian ngawur bin ngaco: Untuk faktor ekonomi, biasanya orang tersebut bergaya borjuis tapi tak punya uang, sehingga menjual diri ke lelaki lagi. Gay tidak jual diri tapi mereka menjalin hubungan asmara dengan sesama jenis. ***

06 Maret 2016

Bukan LGBT, Tapi Heteroseksual Penyebar HIV/AIDS yang Potensial



Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

“Rhoma Irama ikut menyuarakan penolakannya terhadap makin maraknya praktek LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Ia mengkaitkan mewabahnya penyakit HIV di dunia saat ini dengan kemarahan Tuhan atas tumbuh suburnya para pelaku LGBT.” Ini lead di berita Bang Rhoma Bicara Soal LGBT yang Resahkan Warga dan HIV Sebagai Azab Allah” (Wisnu Prasetiyo – detikNews, 6/3-2016).

Kesimpulan wartawan yang menulis berita ini menujukkan pengetahuannya tentang HIV/AIDS sangat rendah, hal yang sama juga pada narasumber yaitu Rhoma Irama.

Pertama, HIV bukan penyakit tapi virus yang bisa dicegah penularannya. Virus ini tidak mengenal orientasi seksual karena virus ini menular dari seseorang yang mengidap HIV ke orang lain melalui beberapa cara, al. hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kedua, kasus AIDS pertama yang dipublikasikan memang terdeteksi pada laki-laki gay di San Fransisco, AS, 1981. Tapi, setelah WHO menetapkan HIV sebagai penyebab AIDS dan menyetujui reagen tes HIV (1983) ternyata ada darah pasien, bukan LGBT, yang disimpan di sebuah rumah sakit di Swedia yang diambil tahun 1959 mengandung HIV. Ketika kasus AIDS terdeteksi di San Fransisco pada saat yang sama juga ada kasus AIDS pada pekerja seks di pantai timur AS.

Ketiga, LGBT adalah Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (waria) yang secara seksual tertarik kepada sesama jenis. Risiko penularan HIV pada gay, biseksual dan waria terjadi karena pada seks anal probabilitas penularan lebih besar daripada seks vaginal jika tidak memakai kondom.

Keempat, hubungan seksual pada Lesbian tidak ada laporan telah terjadi penularan HIV. Maka, Lesbian tidak termasuk kalangan yang disebut Rhoma Irama sebagai  ‘kemarahan Tuhan’.

Kelima, kasus HIV/AIDS pada gay, biseksual dan transgender jauh lebih sedikit daripada kasus HIV/AIDS di kalangan heteroseksual (laki-laki tertarik pada perempuan dan sebaliknya). Ini data yang dikeluarkan oleh Ditjen PP&P, Kemenkes RI, tanggal 26 Februari 2016, berupa data kasus di Indonesia sampai Desember 2015 yaitu: dari 77.112 kasus AIDS yang terdeteksi pada homoseksual (gay dan waria) 2.272 atau 2,95 persen dan pada biseksual 390 atau 0,51 persen. Bandingkan dengan kasus AIDS pada heteroseksual 51.467 atau 66,74 persen.

Keenam, ‘tumbuh suburnya para pelaku LGBT’ tidak ada kaitannya secara langsung dengan penyebaran HIV/AIDS karena penyebaran HIV dilakukan oleh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS kebanyakan tanpa mereka sadari.

Di bagian lain disebutkan “HIV itu kan penyakit yang menyengsarakan dan belum ada obatnya”. Nah, ini yang membuat kacau karena ketidaktahuan bahwa HIV adalah virus bukan penyakit sehingga tidak akan ada obatnya. Terhadap virus bukan obat, tapi vaksin. Belum da vaksin HIV. Virus tidak bisa dimatikan dengan obat di dalam tubuh manusia, seperti virus flu. Yang ada yaitu obat antiretroviral (ARV) yang berguna untuk menekan laju perkembangbiakan HIV di dalam darah. Setiap hari HIV berkembang biak antara 10 miliar – 1 triliun. Ini yang menyebabkan sistem pertahanan tubuh pengidap HIV/AIDS cepat rusak sehingga mudah dimasuki penyakit.

Dikatakan Rhoma Irama lagi: Ia menambahkan, perilaku LGBT bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, utamanya sila pertama.

Apakah perilaku laki-laki beristri yang selingkuh, berzina, atau melacur bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, utamanya sila pertama?

Tampaknya, hanya hubungan seksual pada LGBT yang disoal, sedangkan seks oral dan seks anal pada suami-istri tidak diperbincangkan.

Yang perlu diingat adalah HIV/AIDS pada LGBT, khususnya gay, ada pada terminal terakhir karena kalaupun ada kemungkinan ditularkan hanya kepada kalangan gay juga.

Sedangkan pada transgender HIV akan menyebar ke laki-laki heteroseksual karena laki-laki heteroseksual yang ngeseks dengan waria selalu jadi ‘perempuan’ (dalam bahasa waria disebut ‘ditempong’). Posisi itu membuat laki-laki heteroseksual berisiko tinggi tertular HIV jika waria mengidap HIV karena waria melakukan penetrasi penis ke anus laki-laki heteroseksual (menempong). Seorang waria di Malang, Jatim, mengatakan laki-laki heteroseksual selalu mencari waria yang mau jadi ‘suami’ agar memperlakukan dia sebagai istri.

Persoalan besar ada pada laki-laki biseksual karena mereka jadi jembatan penyebaran HIV dari masyarakat ke waria dan LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) dan sebaliknya. Istri mereka akan menjadi tujuan penyebarn berikutnya dan berakhir pada anak yang dikandung istrinya. Sedangkan laki-laki juga berpotensi menularkan ke perempuan lain, waria, LSL dan pekerja seks.

Selama informasi tentang HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral dan agama, maka selama itu pula fakta tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV tidak akan bisa diketahui banyak orang. Kondisi ini akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***