20 Agustus 2016

Penyebaran HIV/AIDS pada Prostitusi Berkedok Penyewaan Jasa Pramugari, Artis, SPG dan Model

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Karena informasi HIV/AIDS di awal-awal epidemi selalu dibalut dengan norma, moral dan agama muncullah mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari perilaku seksualnya berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Salah satu mitos yang berkebang pesat adalah HIV/AIDS hanya menular melalui pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Maka, laki-laki yang tidak ngeseks dengan PSK di lokalisasi pelacuran tidak menyadari perilakunya tsb. berisko tertular HIV karena cewek-cewek atau perempuan yang bekerja seperti PSK tetap saja risikonya sama dengan PSK yang melayani laki-laki di lokasi atau lokalisasi pelacuran.

Itulah salah satu faktor yang mendorong praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung yaitu cewek atau perempuan yang melakukan praktek PSK di luar lokasi dan lokalisasi pelacuran, seperti yang ada di judul berita ini “Prostitusi Berkedok Penyaluran Jasa SPG dan Model Terbongkar” (kompas.com, 20/8-2016).

Perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS adalah:

(1) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti.

(2) Perempuan yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.

(3) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK yang beroperasi di lokasi atau lokalisasi pelacuran).

(4) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK tidak langsung [PSK yang tidak kasat mata yaitu perempuan yang beroperasi sebagai PSK, seperti cewek panggilan, cewek pemijat plus-plus, cewek kafe, cewek disko, cewek yang disamarkan sebagai SPG (sales promotion girl) , cewek yang disamarkan sebagai model, cewek yang disamarkan sebagai artis, ibu-ibu, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.].

Terkait dengan berita di kompas.com itu yang terjadi adalah poin nomor (4). Cewek-cewek yang disebut sebagai pramugari, model, SPG, dan artis adalah perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang menjadi pasangan kencan mereka mengidap HIV/AIDS sehingga cewek-cewek itu pun berisiko tertular HIV/AIDS.

Soalnya, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka sampai belasan tahun sebelum mencapai masa AIDS.

Biar pun tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, mereka bisa menularkan HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual, terutama seks vaginal dan seks anal, tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Cewek-cewek PSK tidak langsung itu sering mengaku memeriksakan kesehatan  secara rutin tiap bulan, maklum mereka punya banyak uang sehingga bisa saja ada “dokter pribadi”, itu tidak jaminan karena:

(a) Pemeriksaan kesehatan rutin dan medical check up tidak otomatis termasuk tes HIV,

(b) Tes HIV dengan reagen ELISA hanya akurat jika tertular HIV sudah lebih tiga bulan,

(c) Hasil tes HIV di bawah tiga bulan (masa jendela) dengan reagen ELISA bisa menghasilkan negatif palsu (HIV ada di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (HIV tidak ada di darah tapi tes reaktif), dan

(d) Hasil tes HIV hanya berlaku sampai pengambilan darah waktu tes HIV karena setelah itu bisa saja ybs. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko tertular HIV.

Dalam berita disebutkan: “Kepada anggota yang menyamar, AN sempat menawarkan seorang pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta untuk sekali kencan.”

Alangkah sialnya kalau dengan uang Rp 7 juta pada hubungan seksual juga terjadi penularan HIV/AIDS. Yang jadi korban berikutnya adalah istri dan akan berakhir pada bayi yang akan dilahirkan istri.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga yang hanya melakukan hubungan seksual dengan suami tertular HIV/AIDS. Catatan Kemenkes RI sampai tanggal 1 Desember 2015 jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai 9.096.

Angka tsb. (9.096) tidak menggambarkan jumlah kasus yang ril pada ibu rumah tangga karena kasus itu terdeteksi al. pada pemeriksaan ibu hamil dan persalinan di sarana kesehatan yang sudah menjalankan program konseling kepada ibu hamil.

Tidak semua fasilitas kesehatan yang menjalankan program konseling HIV/AIDS bagi ibu-ibu hamil, sehingga jumlah ril ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak diketahui. Belakangan ini ibu-ibu terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika bayi mereka sakit dengan penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS.

Ketika bayi mereka dites HIV dan hasilnya positif, maka ibu dan ayah anak itu pun menjalani tes HIV. Celakanya, banyak suami yang menolak menjalani tes HIV sehingga mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: prostitutionrecovery.org) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.