18 Juli 2016

Di Jawa Barat Ibu Rumah Tangga Lebih Banyak Mengidap HIV/AIDS Dibanding PSK .... Kok, Bisa?



Oleh; SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Ada ironi yang berkembang dari tahun ke tahun sejak epidemi HIV/AIDS dilaporkan di Indoensia (sejak 1987). Celakanya, ironi itu juga mendorong mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS sehingga kasus insiden infeksi HIV baru terus-menerus terjadi di Indonesia.

Di awal epidemi pernyataan resmi pemerintah menyebutkan HIV/AIDS adalah penyakit orang bule  dan penyakit homoseksual. Dekade berikutnya disebutkan pula HIV/AIDS berkecamuk di lokalisasi pelacuran yang melibatkan pekerja seks komersial (PSK). Selanjutnya yang jadi ‘kambing hitam’ adalah PSK yang dipojokkan sebagai penyebar HIV.

Setelah itu pernyataan kemudian menyebutkan HIV/AIDS di Indonesia terkonsentrasi pada PSK. Celakanya, pernyataan ini hanya berdasarkan survailans tes HIV (tes HIV secara anomim tanpa tes konfirmasi) pada kalangan PSK di lokalisasi pelacuran tanpa ada survailans tes HIV pada kalangan atau kelompok lain sebagai pembanding.

Belakangan yang mencuat ke permukaan adalah HIV/AIDS sudah masuk ke keluarga yaitu kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga.

Yang jadi pertanyaan besar dari perjalanan pernyataan di atas adalah:

Pertama, yang membawa HIV/AIDS ke lokalisasi pelacuran justru laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari ada yang sebagai suami, pacar, selingkuhan, duda atau lajang. Fakta ini digelapkan sehingga sasaran tembak hanya kepada lokalisasi pelacuran.

Kedua, yang menularkan HIV kepada PSK justru laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari ada yang sebagai suami, pacar, selingkuhan, duda atau lajang. Fakta ini juga digelapkan sehingga sasaran tembak hanya kepada PSK.

Ketiga, PSK juga adalah bagian dari masyarakat yang hidup dalam keluarga. Ada yang bersuami dan mempunyai anak, mereka juga hidup dalam keluarga dengan ayah dan ibu atau dengan mertua.

Maka, pernyataan di berita ini pun memakai landasan pemikiran seperti di atas: Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat (Jabar) semakin menakutkan. Pengidapnya kini tidak hanya dialami oleh wanita pekerja seks komersial (PSK), melainkan sudah merambah ke rumah tangga. Bahkan jumlahnya pun melebihi dari pengidap HIV/AIDS dari golongan PSK (Ibu Rumah Tangga Pengidap HIV/AIDS Lebih Banyak Ketimbang PSK, jawapos.com, 15/7-2016).

Pernyataan dalam berita itu menggambarkan pola pikir seperti alur yang disebarluaskan media massa selama ini. Padahal, kalau berpijak pada realitas, maka tidak ada yang aneh, menakutkan, dll. Soalnya, 1 PSK meladeni 3-5 laki-laki setiap malam (Lihat Gambar 1).

Laporan Kemenkes (2012): Laki-laki dewasa pelanggan PSK langsung di Indonesia ada 6,7 juta, 2,2 juta di antaranya adalah suami. Itu artinya ada 2,2 juta istri yang berisiko terular HIV dari suami. Suami-suami yang tertular HIV akan menularkan HIV ke istri, sedangkan PSK yang sudah tertular HIV jumlahnya akan tetap sama biar pun terular HIV lagi dari laki-laki pelanggannya [Lihat: Dibanding PSK, Ibu RumahTangga Lebih Banyak yang (Berisiko) Tertular HIV/AIDS].

Disebutkan dalam berita “Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jabar, sebanyak 812 orang ibu rumah tangga (IRT) mengidap HIV/AIDS. Sementara PSK yang terkena HIV/AIDS hanya 366 orang.”

Nah, kalau 366 PSK yang mengidap HIV/AIDS itu melayani 3-5 laki-laki itu artinya setiap malam ada 1.098 – 1.830 laki-laki yang berisiko tertular HIV, di ujung ada 1.098 – 1.830 istri yang  berisiko tertular HIV dari suami, dan pada terminal terakhir ada 1.098 – 1.830 bayi yang berisiko pula tertular HIV yang dilahirkan istri-istri yang terular HIV dari suami.

Disebutkan oleh Ketua Harian Komisi Penanggulangan (KPA) AIDS Jabar, Iwa Karniwa: Oleh karena itu, menurutnya perlu upaya serius untuk menanggulanginya. Apabila tidak berbuat sama sekali, maka akan terjadi kehilangan generasi masa depan.

Persoalannya, adalah dalam semua peraturan daerah (Perda) penanggulangan AIDS yang ada di Jawa Barat sama sekali tidak ada pasal yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Memang, di Jawa Barat tidak ada lokalisasi pelacuran, tapi pratek pelacuran tetap saja terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Yang diperlukan adalah pasal yang konkret untuk memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK. Tapi, ini hanya bisa dilakukan jika PSK dilokalisir. Celakanya, di Jawa Barat PSK tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi untuk memaksa laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK.

Ada juga ‘agen’ penyebar HIV/AIDS yaitu perempuan Jawa Barat yang bekerja sebagai PSK langsung dan PSK tidak langsung di Jawa Barat atau di luar Jawa Barat. Mereka menularkan HIV ke pasangannya (suami atau pacar) atau laki-laki yang menjadi pelanggan mereka ketika pulang kampung dan mudik Lebaran (Lihat: Wahai Perantau BerperilakuBerisiko, Ketika Mudik Janganlah Sebarkan HIV/AIDS di Kampung Halamanmu).

Penyebaran HIV/AIDS kian runyam di Jawa Barat karena selain PSK lansung (PSK yang kasat mata, seperti di lokasi pelacuran dan di jalanan), ada pula PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek diskotek, ABG, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu, cewek gratifikasi seks, dll.). PSK tidak langsung ini tidak bisa diintervensi karena mereka ‘praktek’ berdasarkan perjanjikan dengan kurir, telepon, SMS, media sosial, dll.

Selama tidak ada intervensi terhadap PSK langsung di Jawa Barat untuk memaksa laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang pada gilirannya HIV/AIDS tersebar luas di masyarakat pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang mereka lahirkan. Kondisi ini merupakan ‘bom waktu’ untuk menuju ke ‘ledakan AIDS’. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.