03 Mei 2016

Menyikapi Kasus AIDS pada Kalangan Lelaki Suka Seks Lelaki (LSL)

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Kegiatan seksual sebagian laki-laki dengan orientasi homoseksual yang dikenal sebagai LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) menjadi bagian dari penyebaran HIV/AIDS. Bukan hanya di komunitas LSL tapi akan menyebar ke populasi jika ada di antara LSL itu berorientasi biseksual (hubungan seksual dengan perempuan dan dengan laki-laki) karena mereka ini beristri.

Seperti berita ini:  Berdasarkan perkiraan Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) Sumbar (Sumatera Barat-pen), hubungan seks kategori menyimpang (LSL-pen.) ini dilakoni antara 3.000 hingga 5.000 pelaku (news.okezone.com, 20/11-2015).

Jika separuh saja di antara jumlah itu dengan orientasi seksual sebagai biseksual, itu artinya ada 1.500 – 2.500 perempuan yang berisiko tertular HIV/AIDS dari suaminya. Probabilitas tertular HIV melalui seks anal lebih besar ketimbang melalui seks vaginal. Kalangan LSL melakukan hubungan seksual dengan cara seks anal (penis ke anus).

Laporan Ditjen PP&P, Kemenkes RI tanggal 26/2-2016, menunjukkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS sampai 31 Desember 2015 di Sumbar mencapai 2.679 yang terdiri atas 1.487 HIV dan 1.192 AIDS. Secara kasus kumulatif HIV/AIDS sampai 31 Desember 2015 mencapai 268.185 yang terdiri atas 191.073 HIV dan 77.112 AIDS.

Jika dibandingkan dengan cara penularan (faktor risiko) heteroseksual, jarum suntik narkoba, dll., secara nasional, persentase kasus HIV/AIDS dengan faktor risiko homoseksual hanya 2,95 persen dan biseksua 0,51 persen. Tapi, LSL menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam penanggulangan HIV/AIDS [Laki-laki Suka (Seks) Laki-laki(LSL) dalam Epidemi AIDS di Indonesia].

Kasus infeksi HIV pada kalangan LSL hampir merata di seluruh Indonesia, terutama di daerah perkotaan. Khusus pada populasi LSL atau gay, prevalensi HIV cukup tinggi di wilayah urban perkotaan di Indonesia. Prevalensi HIV pada LSL tertinggi dilaporkan terjadi di Surabaya sebesar 22,1 persen, Bandung 21,3 persen, dan Jakarta 19,6 persen dari kasus HIV/AIDS di kota dan daerah tsb. (solopos.com, 30/11-2015).

Tapi, angka yang kecil itu tidak boleh dianggap remeh karena bisa jadi ada laki-laki heteroseksual yang menjadi pasangan LSL, sehingga laki-laki heteroseksual pasangan LSL jadi jembatan penyebaran HIV dari komunitas LSL ke masyarakat dan sebaliknya.

Laki-laki heteroseksual yang jadi pasangan LSL tidak bisa diidentifikasi karena tidak kasat mata sehingga perilaku seksual mereka menjadi riskan sebagai mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.

Upaya penjangkuan terhadap LSL, biseksual dan laki-laki heteroseksual pasangan LSL sangat sulit karena komunitas mereka yang tertutup. Selain itu mereka pun tidak bisa dikenal secara fisik seperti waria dan PSK langsung.

Penjangkauan terhadap LSL jadi penting karena mereka di komunitas yang tertutup.  Tanpa penjangkauan yang efektif, maka aktivitas seks di komunitas LSL, termasuk biseksual dan pasangan heteroseksual, akan menjadi bagian dari mata rantai penyebaran HIV secara nasional. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.