29 April 2015

Ini Dia Asuransi Kesehatan yang Membayar Klaim Tanpa Kecuali



* Asuransi ini membawa kabar gembira bagi pengidap HIV/AIDS ....

“Cukup dengan tiga langkah Anda sudah menjadi pemegang polis asuransi ‘Jaga Sehat Plus’.” Ini jaminan yang diberikan oleh Asuransi JAGADIRI dengan semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Gampang amat?

“Ya, itu jaminan yang kami berikan,” kata Priska Sari Kurniawan, Vice President JAGADIRI, sebuah perusahaan asuransi kesehatan yang merupakan merek dagang PT Central Asia Financial, bagian dari Salim Group, lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Langkah mudah itu bisa dilakukan secara online melalui website JAGADIRI (jagadiri.co.id). Bukan hanya itu, ketika mendaftar sebagai nasabah sama sekali tidak ada pertanyaan tentang data pribadi, seperti penyakit yang diidap, dll., kecuali nama lengkap dan tanggal lahir serta alamat e-mail dan nomor kontak.

Tanpa Beban

JAGADIRI merupakan jawaban ril terhadap kebutuhan masyarakat yang dinamis terkait dengan asuransi keseahatan, yaitu instant protection  (perlindungan instan dan langsung), claim certainty process (jaminan penerimaan klaim), dan best transparent price (biaya ringan dan transparan).

Karena tidak ada keterangan terperinci tentang kesehatan pemegang polis ketika mendaftarkan diri melalui online, maka, “Kami tidak membayar klaim untuk 30 hari pertama jika pemegang polis rawat inap,” kata Reginald Yosiah Hamdani, President Director “JAGADIRI”.  Tapi, perlu diingat bahwa asuransi kesehatan ini justru menanggung biaya rawat inap yang tidak terbatas dan tanpa kecuali.

Perusahaan suransi yang mulai beroperasi sejak Januari 2015 ini menjalankan asuransi secara faktual karena berdarakan focus discussion group (FGD) dengan berbagai lapisan masyarakat salah satu keluhan yang muncul adalah kesulitan klaim. Untuk itulah, menurut Reggie, panggilan akrab Reginald, pada acara “Kompasiana Nangkring - Perlindungan Tanpa Beban Bersama Asuransi JAGADIRI” di Jakarta, 18/4-2015, JAGADIRI akan langsung membayar klaim maksimal 14 hari.

Asuransi kesehatan JAGADIRI memelopori asuransi yang tidak njelimet (ruwet, rumit) sehingga begitu mudah bagi banyak orang, terjangkau dan menguntungkan. Salah satu faktor yang membuat asuransi ini lebih terjangkau adalah jumlah premi yang murni karena tidak ada beban untuk membayar agen dan jasa bank. Itulah sebabnya tagline JAGADIRI memakai semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh JAGADIRI memberikan peluang bagi masyarakat untuk berasuransi sebagai solusi untuk perlindungan dengan manfaat yang nyata. Hanya dengan premi mulai dari Rp 60.000-an per bulan seseorang sudah bisa menjadi pemegang polis asuransi kesehatan. “Dipakai atau tidak dipakai setiap tiga tahun premi akan dikembalikan 50 persen kepada pemegang polis,” ujar Reggie.

Pilihan program yang ditawarkan JAGADIRI, menurut Reggie, berpijak pada hasil FGD sehingga merupakan gambaran ril yang menjadi harapan masyarakat terhadap asuransi.

Konsep lain yang ditawarkan JAGADIRI adalah potongan premi untuk jumlah pembayaran tertentu serta hadiah nonton gratis di Blitz Megaplex, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat setiap bulan. “Ini bagian dari kenyamanan berasuransi sehingga tidak ada lagi kesan asuransi itu ribet,” ujar Priska dengan nada yakin.

JAGADIRI memberikan santunan perawatan rumah sakit atau rawat inap mulai dari Rp 300.000 - Rp 1,5 juta per hari karena sakit atau kecelakaan. “Tida ada batas rawat inap,” kata Reggie. Santunan meninggal dunia mulai dari Rp 6 juta s/d Rp 30 juta.

Bukan hanya tidak ada batas rawat inap, JAGADIRI juga akan membayar klaim rawat inap tanpa melihat penyebab penyakit. “Penderita AIDS yang rawat inap pun kami ganti,” ujar Reggie. Ini dilakukan oleh JAGADIRI karena anjuran pemerintah kepada perusahaan asuransi tidak boleh membuat diskriminasi terkait dengan penyebab penyakit baik rawat jalan maupun rawat inap. 

Pengidap HIV/AIDS

Padahal, ada asuransi yang selalu menolak klaim jika pemegang polis ternyata mempunyai riwayat kesehatan sebagai pengidap HIV/AIDS. Celakanya, kalau pasien datang dengan riwayat kesehatan dengan HIV/AIDS juga ditolak di banyak rumah sakit. Kalau seorang pasien tidak menyebutkan status HIV/AIDS-nya ketika masuk rumah sakit, maka sudah bisa dipastikan jika dalam perawatan diketahui status HIV/AIDS pasien akan mengalami diskriminasi (perlakuan berbeda) dalam berbagai bentuk pelayanan medis dan nonmedis.

Itulah yang dilihat Reggie sebagai hal yang tidak boleh terjadi di Indonesia. Untuk itulah asuransi JAGADIRI sama sekali tidak melihat latar belakang penyakit yang membawa seorang pemegang polis dirawat di rumah sakit.

Lalu, kalau ada rumah sakit yang menolak pasien dengan status HIV/AIDS itu urusan regulator, dalam hal ini pemerintah, karena, “JAGADIRI sudah membuat komitmen dengan lebih dari 450 rumah sakit di seluruh Indonesia, disebut provider, bahwa JAGADIRI akan membayar klaim biaya rawat inap tanpa mempersoalkan penyakit penyebab rawat inap,” kata Reggie dengan nada yakin. Namun, kalau klaim terkait AIDS lama rawat inap 60 hari dan penyakit lain 90 hari.

Bandingkan pula JAGADIRI dengan asuransi yang selalu mencari-cari kelemahan pemang polis yang mengajuka klaim. Misalnya, asuransi kecelakaan akan menolak klaim jika ternyata ada penyakit pemegang polis yang menyebabkan kecelakaan tsb. Misalnya, seorang pemegang polis jatur di kamar mandi. Ternyata pemegang polis tsb. mengidap penyakit jantung. Maka, klaim ditolak karena kecelakaan itu dianggap tidak murni kecelakaan karena ada riwayat penyakit jantung pada pemegang polis.

Satu hal yang masih dipikirkan Reggie adalah membantu pengidap HIV/AIDS melalui pertanggungan rawat jalan, khususnya obat antiretroviral (ARV) melalui asuransi kesehatan. Soalnya, pengidap HIV/AIDS harus meminum obat ARV sepanjang hidupnya sejak CD4-nya terdeteksi di bawah 300 (CD4 adalah ukuran sistem kekebalan tubuh yang diketahui melalui tes darah). Sekarang harga obat ARV Rp 360.000/bulan.

Jika harus diminum sepanjang hidup tentulah sangat berat bagi pengidap HIV/AIDS karena dalam perjalanan hidup mereka tentu akan ada juga penyakit yang membawa mereka rawat inap. Kesulitan yang dihadapi pengidap HIV/AIDS, disebut Odha (Orang dengan HIV/AIDS), yang dilihat Reggie.

Tapi, karena asuransi adalah perusahaan tanggung renteng (pembayaran klaim dibayar oleh dua pihak sebara bersama), maka, “Kami akan bicarakan dulu dengan pihak re-asuransi,” kata Reggie menjanjikan.

Tentu saja langkah Reggie itu merupakan harapan besar bagi Odha agar mereka tetap bisa melakukan kegiatan keseharian tanpa harus diganggu penyakit. Soalnya, Odha sudah masuk pada masa AIDS sangat mudah terserang penyakit, apalagi mereka tidak meminum obat ARV.

Langkah yang dipilih JAGADIRI sebagai asuran yang menguntungkan dan sangat terjangkau merupakan gaya hidup tanpa beban karena menjadi pemegang polis yang begitu mudah dan terjangkau. *** [Syaiful W. Harahap] ***

Ilustrasi (Repro: www.sushilfinance.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.