11 April 2014

BKKBN Kota Bengkulu Bagi-bagi Kondom di Pasar, Untuk Tekan Penyebaran HIV/AIDS?

Kota Bengkulu, aidsindonesia.com (11/3/2014) - BKKBN Kota Bengkulu bagi-bagi kondom gratis di pasar pada Selasa (11/3/2014). Upaya ini dilakukan untuk menekan angka penularan HIV.

Sasaran pertama di dilakukan pada pedagang di Pasar Barukoto dianjutkan ke Pasar Pagar Dewa, Perumdam, Panorama, Pasar Minggu dan Pematang Gubernur.

Kasi KB dan Kesehatan Reproduki BKKBN Kota Bengkulu Siherman menyatakan, sebanyak 10.000 unit kondom dibagikan kepada masyarakat yang rawan penularan HIV.

"Kita siapkan 10.000 lebih. Sebelumnya sudah diumumkan melalui pengeras suara di Mesjid terdekat," ujar Siherman.

Pihaknya juga menyediakan pelayanan KB gratis berbentuk klinik keliling sebagai upaya jemput bola bagi 12.000 akseptor KB Kota Bengkulu. Layanan yang dilakukan berupa suntik KB, IUD, pemasangan Implant dan pembagian Pil Kb.

Susilawati (32) warga Kelurahan Pondok Besi mengaku terbantu dengan program ini. Janda satu anak yang sehari-hari berjualan tempe di Pasar Barukoto tersebut hanya tersenyum ketika menerima kondom yang dibagikan gratis. "Untuk jaga-jaga," ujarnya sambil bergegas.

Sementara itu, Meri Safitri (16) menolak menerima kondom, dia hnya mengambil 5 kaplet Pil Kb. "Untuk persiapan satu bulan mas," ujar Meri yang nih dibaawah umur dan belum bersuami. (Yuliardi Hardjo Putra/health.liputan6.com).

Risma Kesulitan Tutup Dolly Karena Jumlah PSK Capai Ribuan

Surabaya, aidsindonesia.com (12/4/2014) - Pemkot Surabaya mulai mempersiapkan penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak sebelum memasuki bulan Ramadan atau akhir Juni 2014. Saat ini Pemkot telah mengajukan anggaran rehabilitasi ke Kementerian Sosial (Kemensos).

"Program rehabilitasi ini berupa pemberian bekal sebelum para PSK ini pulang kembali ke kampung halaman atau menekuni profesi lain," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, seperti dilansir dari Antara, Jumat (11/4).

Ia mengatakan, ada sebanyak 375 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sudah terdata untuk program rehabilitasi berupa pemberian latihan keterampilan. "Latihan keterampilan itu antara lain menjahit dan beberapa keahlian lain, sehingga ketika sudah tidak menjadi PSK lagi, maka mereka bisa hidup dari keterampilan yang dimiliki," katanya.

Sebelumnya sudah ada empat lokalisasi yang sudah ditutup, di antaranya Klakahrejo, Sememi, Morokrembangan, dan Dupak Bangunsari. Sekarang, tinggal Dolly dan Jarak di Kecamatan Sawahan yang masih buka.

Namun Risma mengakui ada banyak kendala dalam penutupan Dolly dan Jarak. Ada saja pihak tertentu yang menghalang-halangi. Sayang, Risma tidak menyebut pihak mana yang dimaksud.

"Selain itu, jumlah PSK yang cukup banyak di Dolly dan Jarak juga menjadi kendala. Kalau yang lain-lain itu kan jumlahnya sedikit. Mungkin 100 hingga 300 PSK. Nah, di Dolly ini ribuan," katanya.

Sepanjang tahun ini, kata dia, pemerintah menyiapkan dana lebih dari Rp 27 miliar untuk rehabilitasi eks wilayah lokalisasi di Surabaya, yakni Klakahrejo, Sememi, Morokrembangan, dan Dupak Bangunsari.

Rinciannya sebesar Rp 585 juta dari dana program Kementerian Sosial (Kemensos), Rp 25 miliar dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan sebesar Rp 1,4 miliar dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim).

"Dalam rehabilitasi ini, kami tidak membongkar wisma yang selama ini digunakan sebagai tempat pemuas nafsu lelaki hidung belang. Wisma ini harus difungsikan sebagai rumah pada umumnya," katanya. (Muhamad Hasits/merdeka.com).

10 April 2014

Komunitas Lelaki Pencinta Sesama Jenis Jadi Perhatian di Semarang

Semarang, aidsindonesia.com (11/4/2014) - Perilaku seksual "lelaki suka lelaki" (LSL) mulai menjadi perhatian di Kabupaten Semarang sebab komunitas ini rentan tertular penyebaran HIV/AIDS. 

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang mendata, sedikitnya lima dari 30 anggota komunitas LSL terinveksi HIV/AIDS selama kurun 2014. Data itu diperoleh setelah dilakukan Voluntary Counseling Test (VCT) HIV terhadap komunitas tersebut.


"Informasi yang kami peroleh di 2014 ini dilakukan VCT 30 orang ditemukan ada lima orang yang terinfeksi HIV," kata pihak Divisi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan, Kamis (10/4/2014) kemarin. 


KPA menyatakan, selain pada komunitas LSL, potensi penyebaran HIV/AIDS ini juga berpotensi terjadi pada laki-laki yang bergonta-ganti pasangan atau biasa disebut laki-laki dengan seks berisiko tinggi (LSB). 


"Kelompok LSB ini biasanya mereka juga beristri, sehingga sangat dikawatirkan jika menular di keluarganya," kata Taufiq. 


Menurut Taufiq, kelompok LSB ini termasuk kelompok yang sulit untuk terdeteksi peredaran HIV/AIDS-nya sebab kesadaran untuk memeriksakan diri kurang. 


"Ada tiga anak yang positif mengidap HIV yang ditularkan dari orangtuanya. Hal ini menjadi pertimbangan kami untuk mengapa perlu melakukan pengawasan pada kelompok LSB ini," kata dia. 


Berdasarkan catatan KPA, hingga 2014 ini ada sekitar 90 orang penderita HIV di Kabupaten Semarang yang masih dalam pendampingan para relawan. Tugas para relawan ini memberikan pendampingan secara mental dan obat secara berkala. 


Keterangan senada juga disampaikan oleh anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Muhammad Yusuf . Ia menyatakan, dua kelompok ini (LSL dan LSB) pada tahun 2015 menjadi target pencegahan HIV/AIDS. 


"Saat ini dua kelompok itu diawasi karena berdasarkan survei nasional pada LSL dari tahun 2011 hingga 2013 lalu peningkatannya sampai tiga kali lipat. Sementara dari tahun 2011 hingga 2011 survei penderita HIV/AIDS pada laki-laki seks berisiko tinggi, peningkatannya hingga tujuh kali lipat. Kita sedang menggodok data itu untuk rencana aksi 2015," kata Yusuf.


Peningkatan jumlah komunitas LSL hingga tiga kali lipat, kata Yusuf, tidak bisa dilepaskan dari makin terbukanya masyarakat kita terhadap keberadaan komunitas ini. 


Mereka makin percaya diri menunjukkan eksistensinya lantaran masyarakat sudah menerima komunitas ini. "Sebenarnya perilaku seks ini yang perlu diawasi dari potensi penyebaran HIV/AIDS," katanya. 


Sementara itu, kelompok LSB juga perlu diawasi karena biasanya mereka merupakan pelanggan pekerja seks komersial (PSK). "Katakanlah 60-70 persen LSB ini merupakan laki-laki beristri, maka potensinya (penyebaran HIV/AIDS) sangat besar," tegas dia. (Kontributor Ungaran, Syahrul Munirkompas.com).

33 Ibu Rumah Tangga di Kota Bekasi, Jabar, Terinfeksi HIV/AIDS

Kota Bekasi, aidsindonesia.com (23/3/2014) – Sebuah fakta mengejutkan ditemukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Sebanyak 33 orang ibu rumah tangga mengidap HIV/AIDS.

Hal itu diungkapkan oleh Kasie Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bekasi, dr. Reni Amalia.

Dia mengungkapkan, di tahun 2013 saja jumlah penderita HIV (Human Immuno Deficiency Virus) sebanyak 401 orang, dan 121 orang di antaranya sudah positif terjangkit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

’’Temuan itu cukup mengejutkan bagi kami karena penularan HIV/AIDS biasanya kan lebih banyak pengguna Narkoba dan pelaku seks berisiko,” katanya.

Setelah dilakukan investigasi, Dinkes mengetahui bahwa penularan yang terjadi kepada ibu rumah tangga adalah berasal dari suaminya sendiri. Dimana seorang suami yang memiliki perilaku seks berlebihan biasanya melakukan hubungan seks berisiko ketika berada di luar kota.

Dengan demikian, sesampainya di rumah, suami yang sudah tertular HIV tersebut menularkan penyakitnya melalui hubungan intim kepada istrinya.

’’Ibu rumah tangga yang tertular itu awalnya memeriksakan kesehatan karena curiga kena keputihan tetapi setelah dicek lebih lanjut ternyata itu HIV,” ungkap Reni.

Melihat ditemukannya kasus penularan baru penyakit berbahaya itu, Dinas Kesehatan berupaya melakukan langkah penyelamatan pada ibu rumah tangga. Terlebih lagi dari kasus ibu rumah tangga yang tertular HIV beberapa orang di antaranya tengah mengandung.

Ibu hamil yang diketahui sudah tertular HIV, lanjut Reni, mereka akan diberikan obat pencegahan untuk memutus rantai penularan dari ibunya. Kemudian langkah yang dilakukan selanjutnya adalah proses kelahiran bayi yang dilakukan secara caesar dan tidak disusui oleh ibu kandungnya.

’’Masih bisa dilakukan upaya penyelamatan, khususnya untuk si bayi,” paparnya.

Dia menambahkan, total penderita HIV/AIDS di Kota Bekasi sejak 2004 hingga 2014 ini tercatat ada 2.767 kasus HIV, dan 902 kasus di antaranya sudah positif terjangkit AIDS.

Pemeriksaan secara gratis oleh masyarakat dapat dilakukan di setiap puskesmas, sementara untuk pengobatan lebih intensif baru disediakan di RSUD Kota Bekasi, RS. Ananda, dan RS. Elisabeth.

Sementara itu Humas LSM yang aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS, Lembaga Kasih Indonesia (LKI), Basuki Setiawan, mengungkapkan, dari tahun ke tahun di Kota Bekasi memang banyak ditemui kasus baru penularan HIV/AIDS.

Akan tetapi dengan banyaknya temuan kasus tersebut bukan berarti mengungkap kebobrokan masyarakat, tetapi justru menunjukkan kesadaran masyarakat yang mau melaporkan untuk diperiksa.

’’Dengan begitu berarti kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan cukup meningkat, sekarang bagaimana kita bersama-sama melakukan penanggulangan itu,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum tahun 2008, jumlah penderita HIV/AIDS lebih didominasi oleh para pengguna Narkoba jarum suntik (penasun), tetapi ke belakangan ini dominasi penularan penyakit berbahaya itu kembali ke era tahun 90-an. Yaitu penularan penyakit HIV/AIDS sebagian besar adalah dari para pelaku seks berisiko. (mas/jpnn.com).

Sejak Delapan tahun terakhir, HIV AIDS di Aceh capai 253 kasus

Banda Aceh, aidsindonesia.com (4/1-2014) -Sejak Desember  2004 hingga Desember 2013,  Kasus HIV AIDS  di Aceh mencapai 253 kasus, dan untuk tingkat kota  Banda Aceh sebanyak 19 kasus
Hal itu ungkapkan wakil walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal pada pembukaan acara diskusi publik yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Kota Banda Aceh, dengan tema “Pemuda Dan Remaja dalam Ancaman HIV AIDS” di gedung balai kota Banda Aceh, Sabtu, (04/14).
Illiza dalam sambutannya menyampaikan kasus HIV AIDS hingga saat ini hanya 14 persen masyarakat bisa memahami tentang HIV AIDS, dan belum memahami secara konferensif. Bahkan penyakit HIV AIDS mudah terjangkit didominasi pada usia produktif, katanya.
“Persoalan hari ini seks komersil, pergaulan bebas hingga saat ini marak terjadi di lingkungan masyarakat,” kata Illiza.
Padahal tambah Illiza Secara Syariat Islam, dalam pergaulan tidak dibenarkan bergaul antara laki-laki yang bukan muhrim.
Ia menjelaskan Mengenai HIV AIDS itu bukan merupakan sesuatu yang sakral di dalam kehidupan, tetapi salah satu pencegahannya bagaimana peran keluarga terhadap anaknya dalam didikannya sehari-hari, khususnya bagi orang tua memberikan arahan yang positif agar terhindari HIV AIDS tersebut.
Selain itu, pencegahannya pihak Pemerintah Kota akan melakukan sosialisai ke sekolah dan ke kampus melalui PIK/PIKMAPUAN yang ada di kampus-kampus Banda Aceh, jelasnya.
Dalam diskusi publik tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta yang terdiri dari berbagai OKP dBanda Aceh, LSM serta organisasi mahasiswa. diskusi ini di pandu oleh pemateri dari KADINKES Kota Banda Aceh, Media Yulizar dan Tgk.H.Faisal Ali dari wakil ketua MPU Provinsi Aceh. (IRFAN FAUZAN/http://www.ajnn.net/)

KPA Temukan 3 Anak di Kab Semarang, Jateng, Positif HIV yang Tertular dari Ibunya

Ungaran, aidsindonesia.com (10/4/2014) - Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Semarang menyoroti adanya potensi penyebaran HIV/AIDS dari kelompok Laki Suka Laki (LSL-Homo).  Hal ini ditemukan pihaknya melakukan Voluntary Counseling Test (VCT) HIV di sebuah komunitas LSL di Kabupaten Semarang.

"Informasi yang kami peroleh di 2014 ini usai VCT pada komunitas LSL di Kabupaten Semarang ditemukan ada 5 orang yang terinfeksi HIV," kata Divisi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan, Kamis (10/04/2014).

Atas hal ini, LPA menyatakan perlu melakukan pencegahan penyebaran HIV/AIDS termasuk pada kelompok komunitas LSL. Menurut Taufik, selain LSL, potensi penyebaran HIV/AIDS ini juga menyasar pada laki-laki yang gonta-ganti pasangan atau biasa disebut Laki-laki Seks Beresiko tinggi (LSB). Kelompok ini dikhawatirkan menular ke keluarganya.

Menurut Taufiq, kelompok laki-laki beresiko tinggi ini termasuk kelompok yang sulit untuk terdeteksi peredaran HIV/AIDS nya. Pasalnya, kesadaran mereka untuk memeriksakan diri masih kurang.  Di kabupaten Semarang telah ditemukan ada tiga anak yang positif mengidap HIV. Hal ini,  diakibatkan penyebaran dari orang tuanya yang diketahui mengidap HIV.
Berdasarkan data dari KPA Kabupaten Semarang, tercatat ada sekitar 90 orang penderita HIV di Kabupaten Semarang yang saat ini masih dalam pendampingan para relawan. Tugas para relawan ini memberikan pendampingan dan pemberian obat secara berkala, serta memberikan pendampingan mental. (*/Laporan Tribun Jateng, Puthut Dwi Putranto)

09 April 2014

SMS-based service to fight HIV/AIDS rolled out in Phlippine

Manila, aidsindonesia.com (4/4-2014) - A mobile telecommunications service aimed at curbing the rise in HIV/AIDS in the Philippine capital region of Metro Manila was launched here today.
The Philippine National AIDS Council (PNAC), a public-private advisory body, partnered with Philippine NGO Support Program and local mobile telecommunications firm Globe Telecommunications for the "TXT HIV to 8504" campaign.
The SMS-based campaign was designed to provide information and referral to HIV counseling, testing, and life-saving treatment programs. Globe subscribers may avail of the service for free for one year.
PNAC said the campaign is also in line with the United Nation's advocacy for information and communication technology-based initiatives to combat HIV which had infected 17,450 Filipinos since 1984.
The public-private initiative, PNAC Executive Director Ferchito Avelino said, hopes to raise awareness about HIV/AIDS particularly in the National Capital Region which was identified as having a high number of new HIV cases.
Based on figures released by the Philippine Department of Health (DOH), the number of new HIV/AIDS cases in the January to February period has already reached 934. In the month of February alone, the DOH recorded 486 new HIV/AIDS cases.
Avelino said the service was made available through mobile phones as Filipinos have come to regard it as indispensable devices for information and services.
Citing 2009 data from Business Wire, PNAC said the Philippines is touted as the "Text Capital of the World" with more than 1.39 million text messages sent daily. (Xinhua/philstar.com)

Pope urges ‘sexual responsibility’ against AIDS

VATICAN CITY, aidsindonesia.com (Apr 8, 2014) – Pope Francis called on Monday for fidelity and chastity to be used to fight the AIDS virus in Africa, in an address to visiting Tanzanian bishops that — in line with Catholic doctrine — did not mention the use of condoms.
Francis thanked medical personnel working for the Catholic Church who “care for those suffering from HIV/AIDS” and praised “all who strive diligently to educate people in the area of sexual responsibility and chastity,” the Vatican said in a statement.
“By promoting prayer, marital fidelity, monogamy, purity and humble service of one another within families, the Church continues to make an invaluable contribution to the social welfare of Tanzania,” he said.
AIDS campaigners often disparage the Catholic Church for not recognising the use of condoms as a means of preventing the spread of the virus.
Francis’s predecessor Benedict XVI was heavily criticised for saying during a trip to Africa that the distribution of condoms “aggravates” the AIDS crisis. (http://www.capitalfm.co.ke/).

08 April 2014

Menunggu ”Ledakan AIDS” di Kota Bogor

Jakarta, aidsindonesia.com (9/4/2014) - "Bima kaget penderita AIDS di Bogor terbanyak ke-5 di Indonesia." Ini adalah judul berita di merdeka.com (9/4/2014).

Disebutkan dalam berita bahwa Wali Kota Bogor, Jabar, Bima Arya Sugiarto, terkejut penderita HIV/AIDS di kota tersebut menempati peringkat ketiga terbanyak di Jawa Barat.

Wali kota ini akan lebih kaget lagi kalau disebutkan bahwa 2.015 sebagai jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS adalah angka kasus yang dilaporkan. Artinya, ada kasus HIV/AIDS yang belum atau tidak terdeteksi.

Misalnya, disebutka bahwa jumlah kematian terkait HIV/AIDS  di Kota Bogor mencapai 79. Sebelum mati ada kemungkinan 79 orang ini sudah menularkan HIV ke orang lain tanpa mereka sadari.

Jika di antara 79 tsb. ada laki-laki beristri, maka ada risiko istri-istri mereka tertular. Kalau ada yang beristri lebih dari satu, maka kian banyak istri yang tertular HIV.

Kalau di antara 79 itu ada pekerja seks komersial (PSK), maka sudah ratusan bahkan ribuan laki-laki yang berisiko tertular HIV. Soalnya, seorang pengidap HIV/AIDS yang meninggal terjadi di masa AIDS yaitu secara statistik setelah tertular antara 5-15 tahun. Itu artinya seorang PSK pengidap HIV/AIDS yang meninggal sudah berisiko menularkan HIV kepada 3.600 – 10.800 laki-laki (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 5 tahun atau 15 tahun).

Celakanya, fakta ini selalu diabaikan sehingga masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga, tidak memahami risiko yang ada di hadapan mereka. Soalnya, seorang istri wajib patuh dan taat kepada suami sehingga tidak berhak mencurigai apalagi bertanya tentang perilaku seks suami di luar rumah.

Ini dalam berita ”Bima menyebutkan fakta tersebut sangat memprihatinkan sehingga perlu penanganan serius agar jumlah penderita dapat ditekan dan pencegahan dapat dilakukan.”

Yang memprihatinkan bukan angka, tapi perilaku sebagian orang di Kota Bogor, yaitu laki-laki dewasa yang sebagian beristri, yang: (a) Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (b) Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Disebutkan pula oleh Pak Wali Kota: "Angka ini mengkhawatirkan, kita harus segera melakukan koordinasi khusus dari hulu ke hilir, melakukan pembahasan lebih khusus terkait pencegahan dan mengurangi angkanya."

Ada pernyataan ”mengurangi angkanya”. Kalau yang dimaksud Pak Wali Kota ”mengurangi angkanya” adalah mengurangi jumlah kasus yang dilaporkan maka itu tidak pas. Soalnya, cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka kasus yang dilaporkan tidak akan pernah turun biar pun semua penderita HIV/AIDS mati.

Yang bisa dilakukan adalah menurunkan insiden infeksi HIV baru. Maka, yang diperlukan bukan pembahasan secara khusus, tapi menjalankan program yang konkret di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK. Celakanya, langkah ini hanya bisa dilakukan jika pelacuran dilokalisir.

Ada pula pernyataan: ”Selain itu, dari 2.015 jumlah penderita, sebanyak 976 orang di antaranya dinyatakan positif AIDS. ....”

Ini tidak jelas pernyataan dari siapa atau kesimpulan wartawan yang menulis berita ini. Soalnya, yang positif adalah tertular HIV, sedangkan AIDS adalah masa setelah seseorang positif HIV (baca: tertular HIV) antara 5-15 tahun kemudian.

Disebutkan oleh Sekretaris Daerah Kota Bogor yang juga Ketua KPAD, Ade Sarip Hidayat, berbagai upaya dalam pencegahan penularan penyakit mematikan tersebut telah dilakukan, baik dari penjaringan, sosialisasi hingga pendampingan.

Sayang, wartawan tidak merinci dengan jelas apa saja upaya yang sudah dilakukan Pemkot Bogor dalam menanggulangi HIV/AIDS.

Malah pernyataan ”penyakit mematikan” justrut ngawur karena belum ada laporan kasus kematian pengidap HIV/AIDS karena HIV atau AIDS. Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS karena penyakit lain, disebut infeksi oportunistik, al. diare dan TB.

Disebut lagi oleh Ade, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bogor seperti fenomena gunung es, sehingga perlu penanganan khusus dalam melakukan pencegahan, karena adanya stigma di masyarakat.

Fenomena gunung es pada epidemi HIV/AIDS terjadi di seluruh dunia bukan hanya di Kota Bogor. Fenomena es itu artinya kasus yang dilaporkan, dalam hal ini 2.015, (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut) tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut).

Ada lagi penjelasan dari Ade, yaitu: ” .... tetap mengajak masyarakat Kota Bogor untuk mewaspadai penyebaran HIV/AIDS dengan melakukan pencegahan terhadap kemungkinan terinfeksi.”

Adalah hal yang mustahil bagi seorang istri untuk melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dari suami-suami yang perilaku seksnya berisiko, al. sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Maka, selama Pemkot Bogor tidak menjalankan program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK, itu artinya penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Kota Bogor. Kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’.
  

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Mengomentari Komentar Terhadap Berita AIDS di Kota Bogor

Jakarta, aidsindonesia.com (9/4/2014) - Berita ”Bima kaget penderita AIDS di Bogor terbanyak ke-5 di Indonesia” (merdeka.com, 9/4/2014) ditanggapi oleh beberapa pembaca.

Yang dimaksud dengan Bima adalah Wali Kota Bogor, Jawa Barat, yang baru yaitu Bima Arya Sugiarto.

Komentar pembaca terhadap berita itu menggambarkan pemahaman yang tidak akurat terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Komentar dari Surya Kencana - Gadjah Mada University, ini misalnya: Menurut hemat saya sebagai warga bogor kawasan puncak merupakan titik awal penyebaran virus HIV tersebut.

Sebagai virus HIV tidak berada di satu titik atau satu tempat di Bumi, tapi ada di dalam tubuh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS.

Banyak kemungkinan cara penularan HIV terhadap 2.015 penduduk Kota Bogor yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Yang jelas sebagian dari mereka, terutama laki-laki dewasa, tertular HIV karena perilaku seks berisiko, yaitu:

(1) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti, seperti kawin-cerai dan beristri lebih dari satu dengan catatan istri tsb. sudah pernah mempunyai pasangan.

(2) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung (PSK yang kasat mata yang ada di tepi jalan, panti pijat plus-plus, lokasi atau lokalisasi pelacuran, dll.) dan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan ke hotel, anak sekolah, mahasiswi, cewek di diskotek, cewek di pub, cewek di kafe, cewek gratifikasi seks, dll.).

Maka, risiko penduduk Kota Bogor tertular HIV tidak hanya di Puncak.

Amat disayangkan kalau Surya Kencana ini seorang mahasiswa dengan pola pikir yang dangkal terkait dengan cara-cara penularan HIV.

Sedangkan ini komentar dari Upang Hutasuhut – USU: Bukan puncak. Tapi sebaran dari Jakarta melalui aktivitas diper-KOTA-an ... Terlalu banyak perkerja DUGEM kale

Astaga. Kalau si Upang ini mahasiswa amatlah pendek akalnya, kata orang Jakarta, maaf, pea. Tidak ada kaitan langsung antara dugem dengan penularan HIV. Apakah di Kota Bogor tidak ada penduduknya yang dugem?

Komentar si Upang ini menunjukkan dia tidak mengetahui informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Padahal, dia tinggal melangkah ke perpustakaan di kampusnya sudah ada buku-buku tentang HIV/AIDS.

Yang ini komentardari Simon Corse – Baru, Jakarta Raya: Sungguh memprihatinkan jau jd apa negara ini dlm 10 tahun kedepan,,

Simon, angka yang dilaporkan itu hanya yang terdeteksi. Sedangkan kasus yang tidak terdeteksi yang ada di masyarakat akan menjadi ’bom waktu’ ledakan AIDS kelak.

Yang ini komentar dari Juhaeriyah Nurachman - Kota Bogor: Dgn membatasi penjuaan kondom salah satu cara mengurangi pergaulan bebas di antara remaja. Pergaulan bebas yg terjadi di kalangan pelajar memicu meningkatnya penderita hiv/aids.

Pertama, kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Kota Bogor tidak hanya terdeteksi pada remaja dan pelajar. Banyak kasus terdeteksi pada laki-laki dewasa beristri dan pada ibu rumah tanggal.

Kedua, jika remaja-remaja putra yang melakukan hubungan seksual pada pergaulan bebas memakai kondom, maka pacar atau pasangan mereka terhindar dari HIV/AIDS dan tidak pula akan hamil.

Ketiga, tidak ada kaitan antara pergaulan bebas dengan penularan HIV/AIDS. Biar pun hubungan seksual dilakukan dalam pergaulan bebas kalau pasangan itu dua-duanya tidak mengidap HIV/AIDS maka tidak akan pernah terjadi penularan HIV.

Yang ”memicu meningkatnya penderita hiv/aids” adalah perilaku seks laki-laki dewasa yang tidak memakai kondom jika melakukan hubungan seksual tanpa kondom: (1) Dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, serti kawin-cerai, kawin kontrak, nikah mut’ah, dan (2) Dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasnangan, seperti PSK.

Ini komentar dari Ryano Gema Mudjiarto: Kalau mau mengurangi pergaulan bebas caranya adalah dengan membekali anak anak kita dengan ahlak yg baik, Orang tua melakukan pengawasan yang ketat agar anaknya tidak terjerumus seks bebas. Kebanyakan orang tua merasa tabu membicarakan pengetahuan seks sehingga mereka mencari tahu sendiri. Ajari mereka bahwa itu bukan hanya perbuatan dosa tetapi juga akan merugikan diri sendiri dan berakibat fatal karena dapat terkena penyakit kelamin, kehamilan diluar nikah dan juga terinfeksi HIV. Kalau sudah terjadi masa depan mereka akan suram dan sulit untuk dapat kembali hidup normal seperti sebelumnya.

Pertanyaan untuk Ryano Gema Mudjiarto: Apakah kalangan dewasa tidak ada yang melakukan pergaulan bebas?

Kalau yang dimaksud dengan pergaulan bebas adalah zina, maka: Apakah laki-laki dewasa dan perempuan dewasa, bahkan yang beristri dan bersuami, tidak ada yang melakukan zina dalam berbagai bentuk?
Lima komentar ini menunjukkan betap pemahaman HIV/AIDS di banyak kalangan sangat rendah. Itu artinya sosalisasi HIV/AIDS tidak merata dan tidak berkesinambungan.

Maka, yang terjadi kelak adalah ”ledakan AIDS” di negeri karena penyebaran HIV terus terjadi tanpa ada program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru. ***


- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Bima kaget penderita AIDS di Bogor terbanyak ke-5 di Indonesia

Kota Bogor, aidsindonesia.com (9/4/2014) - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto terkejut penderita HIV/AIDS di kota tersebut menempati peringkat ketiga terbanyak di Jawa Barat.

"Ternyata Kota Bogor itu jumlah penderita HIV/AIDS nya terbanyak, peringkat ketiga di Jawa Barat dan peringkat kelima di Indonesia," ujar Bima usai meninjau ruang VCT di Puskesmas Bogor Timur, Selasa (8/4).

Bima menyebutkan fakta tersebut sangat memprihatinkan sehingga perlu penanganan serius agar jumlah penderita dapat ditekan dan pencegahan dapat dilakukan.

"Angka ini mengkhawatirkan, kita harus segera melakukan koordinasi khusus dari hulu ke hilir, melakukan pembahasan lebih khusus terkait pencegahan dan mengurangi angkanya," ujar Bima.

Sementara itu, berdasarkan data KPAD sejak 2001 hingga 2013 penemuan kasus HIV/AIDS di Kota Bogor terus meningkat, tercatat sebanyak 2.015 jumlah penderita HIV/AIDS.

Dari 2.015 penderita tersebut, 80 persennya merupakan penderita usia produktif yakni dari 25 hingga 49 tahun. Demikian dilansir dari Antara.

Selain itu, dari 2.015 jumlah penderita, sebanyak 976 orang diantaranya dinyatakan positif AIDS. Dan selama kurun waktu 2001 tercatat sebanyak 79 penderita AIDS telah meninggal dunia.

Sekretaris Daerah Kota Bogor yang juga Ketua KPAD, Ade Sarip hidayat mengatakan, berbagai upaya dalam pencegahan penularan penyakit mematikan tersebut telah dilakukan, baik dari penjaringan, sosialisasi hingga pendampingan.

Menurut Ade, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bogor seperti fenomena gunung es, sehingga perlu penanganan khusus dalam melakukan pencegahan, karena adanya stigma di masyarakat.

Namun, Ade tetap mengajak masyarakat Kota Bogor untuk mewaspadai penyebaran HIV/AIDS dengan melakukan pencegahan terhadap kemungkinan terinfeksi.

"Mari kita tanggulangi bahaya penyebaran dan penularan HIV/AIDS dengan terus meningkatkan pengenalan dan pengetahuan terhadap penyakit ini, baik tata cara pencegahannya, dan mari kita perlakukan para penderita HIV/AIDS dengan sebaik ? baiknya sesuai hak azasi yang mereka punyai," ujar Ade. (Didi Syafirdi/merdeka.com).

Tak Punya BPJS, Kakak Beradik Pengidap HIV Ditolak RS Cengkareng, Jakarta Barat

Jakarta, aidsindonesia.com (11/2/2014) - Dua dari tiga anak kakak beradik pengidap HIV ditolak saat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (6/2). Dua anak yang ditolak LTP (12) dan SNR (14) sedangkan adiknya berinisial NS (6) diterima.

Pengurus PKK RW 09 Kelurahan Tanah Sereal, Mintarsih (43) mengatakan, keduanya ditolak karena tidak memiliki kartu Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS). Dia mengaku sudah mengurus kartu BPJS untuk keduanya sudah empat hari lalu, namun hingga kini tak kunjung keluar surat jaminan tersebut, padahal segala persyaratan sudah dipenuhi.

"Untuk membuat BPJS butuh surat keterangan RT, RW, PM 1 kelurahan, tanda bukti Puskesmas kecamatan semua sudah lengkap," kata Mintarsih, Selasa (11/2).

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Widyastuti mengatakan, BPJS merupakan kewenangan pemerintah pusat. Pihaknya hanya bisa berkoordinasi untuk mempermudah warga mendapatkannya jika sangat gawat darurat.

Widyastuti menjelaskan, setelah pihaknya mengkroscek RSUD Cengkareng, tidak ada pasien rujukan dari rumah sakit yang ditolak. Ia pun membenarkan jika LTP dan SNR belum mempunyai BPJS.

"Si LTP memang belum punya BPJS, makanya kami akan bantu urus jika keadaannya genting. Saya juga sudah cek tidak ada pasien yang ditolak," ujarnya. (
Ramadhian Fadillah/merdeka.com)

Suami Sering ”Jajan” di Luar, 600 Istri di Bali Terjangkit HIV

Buleleng, Bali, aidsindonesia.com (22/12-2013) - Sebanyak 600 ibu rumah tangga di Kabupaten Buleleng, Bali, terjangkit HIV/AIDS. Para ibu rumah tangga ini tertular dari suami yang memiliki kebiasaan seksual menyimpang.

"Sampai saat ini jumlah penderita HIV/AIDS di Buleleng mencapai 1.813 orang, sekitar 600 di antaranya kalangan ibu rumah tangga yang terjangkit HIV," kata Siska, Ketua Waria dan Gay Singaraja, Kabupaten Buleleng, seperti dilansir dari Antara, Minggu (22/12).

Ia mengatakan, kalangan ibu rumah tangga yang terjangkit HIV bersuamikan pria yang suka berhubungan seksual dengan beberapa perempuan lain. "Kemungkinan besar, suami tersebut berganti-ganti pasangan sebelum menikah secara resmi," katanya.

Karena itu, masyarakat harus diberikan pemahaman tentang bahaya HIV/AIDS. "Apalagi belakangan ini di Buleleng banyak kafe remang-remang yang di dalamnya ada pelayan khusus seksual," ujarnya.

Dari segi usia, penderita HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng berusia 19 hingga 65 tahun. "Anak muda termasuk kalangan berisiko tinggi karena mudah dipengaruhi pornografi," katanya.

Sampai saat ini lembaganya aktif memberikan bimbingan konseling kepada 26 orang yang positif terjangkit HIV/AIDS. "Ini sebagai bentuk kepedulian kami dalam upaya menekan jumlah penderita," kata Siska. (
Muhammad Hasits/merdeka.com).

40 Mahasiswa dan 4 Siswa di Sulut Terjangkit HIV/AIDS

Manado, aidsindonesia.com (10/12-2013) - Hingga September 2013 tercatat sebanyak 40 mahasiswa di Provinsi Sulawesi Utara mengidap penyakit human immuno deficiency virus/acquired immuno deficiency syndrome (HIV/AIDS). Bahkan 4 siswa di Sulut juga terjangkit penyakit mematikan itu.

"Selain puluhan mahasiswa, empat siswa juga diidentifikasi mengidap penyakit ini," kata Wakil Gubernur Sulut, Djouhari Kansil, pada sosialisasi penyebaran HIV/AIDS SMA/SMK Provinsi, di Manado, seperti dikutip dari Antara, Selasa (10/12).

Wagub mengajak, siswa memiliki pemahaman mendalam akibat dampak buruk tertularnya penyakit ini sehingga kegiatan sosialisasi menjadi kunci pengurangan risiko penularan.

"Semakin tinggi pemahaman masyarakat termasuk siswa, maka semakin besar peluang upaya pencegahan yang dilakukan. Karena itu murid melalui wadah organisasi siswa intra sekolah atau OSIS harus berperan maksimal menyebarluaskan informasi tentang upaya-upaya pencegahannya," katanya.

Wagub mengajak, setelah memiliki pemahaman tentang dampak buruk penularan penyakit ini, siswa tidak menjauhi orang pengidap HIV/AIDS.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulut, dr Tangel-Kairupan mengatakan, selain sosialisasi kepada seluruh warga masyarakat lewat jalur sekolah, mimbar-mimbar keagamaan, komunitas rentan penularan juga terus diberikan penyadaran.

"Inti dari sosialisasi atau upaya-upaya penyadaran agar tidak ada lagi kasus penularan baru," katanya.

Dia menambahkan, hingga saat ini jumlah pengidap HIV/AIDS di Sulut ini telah mencapai 1.378 orang tersebar di 15 kabupaten dan kota, serta menginfeksi berbagai profesi termasuk siswa dan mahasiswa. (
Hery H Winarno/merdeka.com).

Delapan Provinsi Endemik HIV/AIDS

Sukabumi, aidsindonesia.com (19 Maret 2014) - Kementerian Sosial mencatat bahwa delapan provinsi di Indonesia merupakan daerah endemik Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome atau HIV/AIDS.

"Dari delapan provinsi tersebut terdapat 79 daerah yang endemik penyakit ini, yakni Provinsi Papua, Papua Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, serta Jawa Tengah," kata Mensos RI Salim Segaf Al Jufri kepada wartawan, Rabu.

Menurut beliau setiap tahunnya warga di Indonesia yang tertular atau terjangkit penyakit ini terus bertambah dan jumlah provinsi yang epidemi semakin meluas. Bahkan, dari data pihaknya dari 220 juta warga sebanyak 170 ribu sampai 220 ribu orang mengidap HIV/AIDS.

Lebih lanjut, perkiraan prevalensi keseluruhannya adalah 0,1 persen di Indonesia dengan pengecualian Papua. Dimana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4 persen dengan cara penularan utamanya melalui hubungan seksual tanpa pengaman (pelindung).

Bahkan dari datanya kasus kematian akibat AIDS diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Penularan utama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang berkecimpung di dunia prostitusi serta pria penyuka sesama jenis.

"Maka dari itu, pihaknya terus berupaya menekan angka penyebaran penyakit ini melalui progam penanggulangan AIDS dengan cara pencegahan melalui perubahan perilaku serta melengkapi dengan layanan pengobatan dan perawatan," tambahnya.

Sejak 30 Juni 2007 lalu, 42 persen dari kasus AIDS ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53 persen dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Hingga akhir 2013 pengidap berjumlah sebanyak HIV 127.416 dan AIDS 52.348 tetapi saat ini mayoritas penularannya melalui hubungan seks.

Salim mengatakan saat ini pihaknya juga tengah fokus dalam pencegahan penularan HIV/AIDS khususnya dalam merehabilitasi orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Bantuan ini ditujukan untuk mewujudkan pemberdayaan bagi ODHA karena bagaimana pun juga mereka adalah anak bangsa yang mempunyai hak dan kewajiban sama di mata negara. (Aditya A Rohman/ANTARA News).

170 Ribu Penduduk Indonesia Terjangkit HIV/AIDS

Jakarta, aidsindoensia.com (20 Maret 2014) – Sedikitnya  di delapan provinsi Indonesia terdapat 79 daerah yang menjadi epidemi penyebaran AIDS . Yaitu Papua, Papua Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, serta Jawa Tengah. Untuk itu, Kementerian Sosial terus berupaya melakukan program penanggulangan AIDS.
“Program penanggulangan AIDS menekankan pencegahan melalui perubahan perilaku serta melengkapi dengan layanan pengobatan dan perawatan, “  kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Kamis (20/3).
Menurutnya, dari 220 juta penduduk Indonesia, 170.000 hingga 210.000 di antaranya mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1 persen di Indoensia dengan pengecualian Papua,  dimana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4 persen dengan cara penularan utamanya melalui hubungan seksual tidak menggunakan pelindung.
“Kasus kematian akibat AIDS diperkirakan 5.500 jiwa. Epidemi terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang berkecimpung di dunia prostitusi serta pria penyuka sesama jenis, ” jelasnya.
Kementerian Sosial, lanjutnya,  melakukan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) potensial, bekerja sama dengan 25 Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di seluruh Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan dengan pemberian dan pemenuhan kebutuhan dasar, yaitu nutrisi dan obat-obatan bagi ODHA non potensial di 16 provinsi. (tri/yo/Pos Kota/ds).

07 April 2014

Wajib Pakai Kondom, PSK Kampung Baru Rajin Cek Kesehatan

Palembang, AIDS Watch Indonesia (9/3/2014) - Meski sudah bergelut di dunia prostitusi yang rentan penyakit kelamin, bukan berarti pekerja seks komersial (PSK) Kampung Baru, Palembang, menomorduakan kesehatan. Bagi mereka rizki tak akan mengalir jika 'berpenyakit.'

Di lokalisasi yang berada di Jalan Kolonel H Burlian KM 9, Palembang itu, setidaknya ada 500-an PSK berikut germo. Mayoritas mereka bukan warga pribumi, melainkan pendatang dari pulau Jawa, seperti Bandung, Garut, Indramayu, Brebes, dan beberapa daerah di Jawa lainnya.

Menurut Mawar (bukan nama sebenarnya), ia mencari rizki di tempat itu sebagai PSK sudah lima tahun. Banyak pengalaman suka duka yang dirasakan pendatang dari Garut itu. Ramainya pengunjung setiap malam, membuat ia bertahan di kampung esek-esek itu.

"Lumayan kak, semalam bisa melayani 3 sampai lima tamu. Penghasilan di sini bisa dibilang memang menjanjikan," kata Mawar saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (8/3) malam.

Menurut dia, sejak dulu para PSK di sana sudah terbiasa dengan menjaga kesehatan. Sebab, mereka menyadari prilaku seks seperti itu berisiko tinggi terkena penyakit kelamin.

Selain mewajibkan pasangan menggunakan kondom, PSK Kampung Baru rutin mengecek kesehatan dalam waktu tertentu. Tak heran, hingga kini mereka tetap eksis dalam menggeluti dunia malam dan pelanggan pun tak lari ke tempat lain.

"Kalau pasangan tidak mau pakai kondom kami tidak mau, karena hukumnya wajib. Percuma dong kita cek kesehatan terus tapi penyakitnya datang dari orang lain," kata dia.

Rupanya, kebiasaan itu setelah germo (mami) mereka selalu memaksa dan menolak anak buah yang enggan mengikuti aturan yakni menjaga kesehatan intim.

Paksaan ini bukan tanpa alasan. Selain baik bagi PSK sendiri, dengan kesehatan terjaga, rupiah terus mengalir ke dompet para germo.

"Ga mau ada anak buah yang bandel. Kata orang sih kita kotor, tapi wanita di sini tahu bagaimana mencegah timbulnya penyakit," kata Rini (35), salah satu germo di Kampung Baru. (Irwanto/merdeka.com)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tanggapan (7/4/2014):

Pertama, cek kesehatan rutin tidak bisa mendetiksi HIV/AIDS. Tidak dijelaskan seperti apa rutinitas cek kesehatan. Biar pun dilakjkan setiap minggu cek kesehatan tidak bisa mendeteksi HIV/AIDS karena untuk mendeteksi HIV/AIDS bukan dengan cek kesehatan, tapi tes HIV.

Kedua, apa tolok ukur yang bisa membuktikan bahwa semua laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK memakai kondom? Dalam berita tidak ada penjelasan.

Ketiga, kalau dengan tamu mereka hanya melayani yang memakai kondom tapi dengan pacar atau ’suami’ mereka tidak memaksa pacar atau ’suami’ pakai kondom.

Dalam berita disebutkan ”Mayoritas mereka (maksudnya PSK-pen.) bukan warga pribumi, melainkan pendatang dari pulau Jawa, seperti Bandung, Garut, Indramayu, Brebes, dan beberapa daerah di Jawa lainnya.” Yang jadi persoalan bukan PSK tapi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan mereka, yaitu laki-laki pribumi.

Indikator yang bisa menunjukkan di antara PSK ada yang mengidap IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti sifilis, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamidia, dll.) dan HIV/AIDS dapat dilihat dari kasus IMS dan HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga di daerah itu. Jika ada kasus ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus itu menandakan suami mereka melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Untuk memastikan laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK diperlukan cara-cara yang realistis dan konkret untuk membuktikannya. Jika tidak ada cara yang konkret, maka kewajiban pakai kondom bagi laki-laki ’hidung belang’ hanya sebatas omongan saja.


- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

The real cost of HIV/AIDS

By Alice Holbrook
Alice Holbrook writes for NerdWallet Health, a website that empowers consumers to find high quality, affordable health care and insurance.
Miami, FL, US, AIDS Watch Indonesia (Apr 5, 2014) - There are currently 1.1 million people living with HIV/AIDS in America, and 19% of these individuals are Latino. While African Americans are the group most impacted by HIV/AIDS, the Latino population is still disproportionately affected.
This group makes up 16% of the total U.S. population but 21% of new HIV infections. According to the Centers for Disease Controland Prevention, 1 in 36 Latino men and 1 in 106 Latino women will eventually receive an HIV diagnosis.
When diagnoses fall disproportionately on one community, so do costs. Unfortunately, HIV/AIDS treatments create a very real—and very expensive—financial burden for both individuals and governments, on top of the emotional and physical toll it takes on those affected.
The cost to individuals
Those diagnosed with HIV have a lot to be hopeful about. Thanks to advances in research, individuals who are diagnosed early enough and stay on top of their treatment protocol have an average life expectancy of 24.2 years from the time they enter treatment—much higher than when the infection was first reported.
However, the cost of so many appointments and prescriptions is prohibitive for many.Monthly treatment regimes can range  from $2,000 to $5,000—which, in combination with longer life expectancy, can total more than half a million dollars.
Luckily, there are ways for individuals to defray HIV-related medical bills. Under the Affordable Care Act, insurers can’t enforce a maximum dollar amount they’ll spend on essential health benefits and can’t deny coverage based on pre-existing conditions—both huge wins for the HIV/AIDS community.
For those who can’t afford private insurance, there are other programs that can help with AIDS treatment costs, including Medicaid and the Ryan White HIV/AIDS Program.
The Cost to the Nation
When a patient qualifies for financial help with HIV/AIDS treatment, the government picks up the bill. For 2014, the president has requested $5.9 billion for Medicaid and $2.4 billion for the Ryan White Program, as well as $332 million in housing assistance for people living with AIDS and $3.5 billion in prevention and research initiatives through the CDC and the National Institutes of Health.
These and other budget items total more than $23 billion in HIV/AIDS-related spending for 2014. While the amount the government spends on these programs is a small part of its overall budget, it’s an important lifeline for many people, including many Latinos.
What can be done?
Because Latinos have so much to gain from HIV/AIDS advances, the CDC has targeted them specifically in a series of new initiatives, including Act Against AIDS and the Care and Prevention in the United States Demonstration Project.
In combination with other programs, the CDC hopes to reduce the stigma against HIV/AIDS and encourage regular testing among Latinos. It also hopes to help more Latinos with HIV/AIDS remain involved in their recommended treatment programs, with special funding for health departments serving their communities.
As an individual, you can be sure to have an HIV screening performed at least once in your lifetime—and the good news is, it’s one of many free preventive care services, so you won’t have to pay a dime for the test. (http://voxxi.com/)

Tanzania: NGO Supports People Living With HIV/Aids

Tanzania, AIDS Watch Indonesia (6 April 2014) - A total of 149,184 people living with HIV/ Aids have been enrolled in HIV care and support programmes supported by a non governmental organization, Elizabeth Glaser Pediatric Aids Foundation (EGPAF).
The EGPAF Associate Director of Field Programmes, Mr John Stephen, revealed this on Friday when handing over three cars worth 115,118 US dollars procured by EGPAF through United States Centres for Disease Control and Prevention (CDC).
The vehicles are expected to support programme implementation at Nkinga Mission hospital in Tabora, Kilwa and Nzega District hospitals.
Mr Stephen said that they are committed to taking care of people living with HIV/Aids, and make sure they don't feel isolated in the society.
"EGPAF has enrolled 84,000 people on antiretroviral therapy (ART) for HIV, including 8,300 children under the age of 15 and we have strengthened psychological support for children and families living with HIV," he said.
He further added that the main aim of EGPAF is to make sure they are supporting the prevention of mother to child HIV transmission and expanding its services to the whole community.
Mr Stephen said that the cars will be supporting different activities in the society, especially patients who live in remote areas.
"The vehicles will help the districts in supportive supervision and mentorship activities to all health facilities in the districts. They will also help in outreach services at the areas where there are no care and treatment centres especially for HIV/AIDS patients," he said.
For his part, the Nzega District Medical Officer, Dr Emmanuel Mihayo, said that in his district there are many challenges but by receiving that car to some extent it will reduce the problem to reach far places which they failed to reach before.
"The percentage of people living with HIV/Aids in Nzega is 5.2. I hope this car will help us reach remote areas to educate and help those who are living with this dreadful disease", he said.
Dr Yohana Masonda who works as Medical Officer at Nkinga Mission hospital said that the HIV transmission has gone down, but some people die for failure to get treatment early. (FRANK KIMARO/http://allafrica.com/)