04 November 2014

Tahanan di Polres Klaten, Jawa Tengah, Berisiko Tinggi Terhadap Penyebaran HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

* Itu artinya al. terjadi homoseksualitas antar tahanan yaitu seks anal ....

Tahanan merupakan salah satu komunitas yang berisiko tinggi terhadap penyebaran HIV/AIDS. Jadi, kesehatan mereka harus lebih diperhatikan karena tinggal di satu tempat.” Ini pernyataan petugas dari LSM Spek-Ham, Danang Wijayanto, dalam berita “Pencegahan HIV/AIDS, Berisiko Tinggi, Tahanan Polres Klaten Dites HIV/AIDS” di solopos.com, 4/11-2014).

Pernyataan Danang ini membuka aib di tahanan polisi karena jika tahanan berisiko tinggi terhadap penyebaran HIV/AIDS, maka tahanan di Polres Klaten, Jawa Tengah, itu melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS, al.:

(1) Melakukan hubungna seksual antar sesama tahanan, dalam hal ini tahanan adalah satu jenis kelamin yaitu laki-laki, maka mereka melakukan hubungan seksual dalam bentuk homoseksual yaitu seks anal tanpa kondom.

(2) Menyuntikkan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran.

Maka, amatlah gegabah Danang menyebutkan tahanan di Polres Klaten berisiko tinggi terhadap penyebaran HIV/AIDS karena itu membuka tabir berupa perilaku tahanan di dalam sel.

Dikabarkan bahwa 27 tahanan Polres Klaten diperiksa kesehatannya dan diberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS di Mapolres Klaten (4/11-2014) yang merupakan kerja sama Polres Klaten, Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Spek-Ham.

Menurut Danang, laki-laki berisiko tinggi terjangkit HIV/AIDS salah satunya tahanan di Polres Klaten.

Itu artinya tahanan Polres Klaten melakukan perilaku berisiko tertular HIV. Celakanya, Kasi Dokkes Polres klaten, Ipda Sriyanto, mengatakan bahwa dari kegiatan penyuluhan itu diharapkan para tahanan mengerti bahaya HIV/AIDS dan meninggalkan perilaku yang berpotensi menularkan penyakit tersebut.

Tidak jelas apakah tahanan melakukan perilaku yang berpotensi menularkan penyakit tsb. yiatu HIV/AIDS, di luar tahanan atau dberi dalam tahanan.

Tapi, pernyataan ini justru menguatkan dugaan bahwa tahanan melakukan perilaku berisiko di dalam tahanan. “Maka, penyebaran HIV/AIDS di Klaten dapat dicegah khususnya di lingkungan para tahanan Polres Klaten.”

Nah, kalau memang perilaku berisiko tahanan terjadi di ruang tahanan tentulah Polres Klaten harus melakukan intervensi untuk mencegah perilaku berisiko terhadap penyebaran HIV/AIDS atau melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi penularan melalui perilaku berisiko yang dilakukan tahanan. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.