10 Agustus 2014

RS Khusus HIV/AIDS di Papua Mendorong Diskriminasi dan Stigma Terhadap Pengidap HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Pemerintah Provinsi Papua berencana membangun rumah sakit khusus untuk menangani dan merawat warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS. Ini lead pada berita  “Pemprov Papua Akan Bangun RS Khusus HIV/AIDS Pada 2015” (beritasatu.com, 4/8-2014).

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Prov Papua sampai 31 Maret 2014 tercatat 25.059 yang terdiri atas 14,943 HIV dan 10,116 AIDS (Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 28 Mei 2014/www.spiritia.or.id). Jumlah ini menempatkan Prov Papua sebagai peringkat pertama dengan jumlah kasus AIDS terbanyak di Indonesia.

Ada beberapa hal yang luput dari perhatian terkait dengan rencana Pemprov Papua itu.

Pertama, penyakit yang diidap oleh pengidap HIV/AIDS bukan penyakit khusus, sehingga tidak diperlukan penanganan bahkan rumah sakit khusus. Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS pada masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun, mulai mudah tertular penyakit, disebut infeksi oportunistik, seperti jamur, diare, TB, dll. Penyakit-penyakit ini tidak memerlukan penanganan khusus.

Kedua, disebutkan rumah sakit tsb. untuk “merawat warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS”. Ini tidak pas karena tidak semua orang yang mengidap HIV/AIDS ototmatis akan dirawat. Apalagi sekarang sudah ada obat antiretroviral (ARV) yang bisa menahan laju perkembangan HIV di dalam darah sehingga kondisi kesehatan pengidap HIV/AIDS tetap terjaga.

Ketiga, rumah sakit khusus AIDS justru akan membuat diskriminasi (perlauan berbeda) karena dikesankan pengidap HIV/AIDS harus mendapatkan perawatan dan dirawat di rumah sakit khusus.

Keempat, rumah sakit khusus AIDS juga akan mendorong stigma (cap buruk) terhadap pengidap HIV/AIDS karena dikesankan mereka berbeda dengan penduduk yang mengidap penyakit yang sama.

Kepala Dinas Kesehatan Prov Papua, drg Aloysius Giyai, mengatakan, selama ini penanganan warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS di rumah sakit umum terkesan masih diskriminatif. Harus ada rumah sakit khusus buat mereka (warga yang sudah positif HIV/AIDS, red.).

Yang jadi persoalan bukan karena rumah sakit, tapi karena perilaku pegawai, karyawan, perawat, dokter, dll. di rumah sakit yang membedakan pengidap HIV/AIDS dan yang tidak diketahui status HIV-nya.

Apakah kelak di rumah sakit khusus AIDS ada jaminan perlakuan pegawai, karyawan, perawat, dokter, dll. terhadap pengidap HIV/AIDS tidak ada lagi stigma dan diskriminasi?

Tentu saja tidak ada karena kesalahan bukan pada rumah sakit tapi tanggapan dan perilaku orang-orang yang bersentuhan dengan pengidap HIV/ADIS di rumah sakit.

Walikota Jayapura pernah sesumbar bahwa tahun 2015 Kota Jayapura “bebas AIDS” (Lihat: Mustahil, Tahun 2015 Kota Jayapura Ditargetkan Bebas HIV/AIDS - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/mimpi-tahun-2015-kota-jayapura_8.html).

Nah, untuk apa lagi bangun rumah sakit AIDS kalau kota itu sudah bebas AIDS?

Pembangunan rumah sakit AIDS itu adalah langkah di hilir. Artinya, Pemprov Papua membiarkan penduduk tertular HIV baru kemudian dirawat di rumah sakit tsb. Ini terjadi kalau Pemprov Papua tidak mempunyai program yang konkret di hulu.

Salah satu mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Prov Papua adalah laki-laki dewasa, bisa lajang, duda atau beristri, yang tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK) baik di lokasi atau lokalisasi pelacuran maupun di luar lokasi pelacuran, seperti di losmen, hotel, dll.

Di setiap kota dan kabupaten di Prov Papua ada tempat pelacuran. Celakanya, program berupa intervensi ke pelacuran yaitu memaksa laki-laki memakai kondom. Yang terjadi justru jerat hukum kepada PSK yang melayani laki-laki tanpa kondom.

Biar pun PSK itu ditangkap sudah ada risiko penularan HIV dari PSK ke laki-laki yang tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

Maka, selama program penanggulangan HIV/AIDS di hulu tidak konkret, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi sehingga penyebaran HIV di masyarakat pun terus terjadi. Kndisi ini akah berakhir pada “ledakan AIDS”, al. ditandai dengan kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.