26 Agustus 2014

Penderita HIV di Pekanbaru Kebanyakan Kaum Ibu

Pekanbaru, baranews.co Ibu rumah tangga ternyata menjadi kelompok yang paling rentan terserang HIV AIDS. Bahkan, dari ratusan pengidap penyakit mematikan itu di Kota Pekanbaru, kebanyakannya adalah ibu rumah tangga.

Fakta ini tentu saja menimbulkan perhatian serius dari sejumlah pihak. Karena, sebagai ibu rumah tangga yang kebanyakan aktivitasnya di dalam keluarga, semestinya bukan menjadi orang yang rentan terjangkit HIV AIDS.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru, Helda S Munir kepada Tribun, Senin (16/6/2014), dari data yang mereka miliki, pengidap HIV di Pekanbaru sudah mencapai 558 orang. Sementara pengidap AIDS sebanyak 571 orang. "Dari data yang masuk ini terbesar adalah dari kelompok ibu rumah tangga. Artinya mereka yang tidak bekerja di luar rumah," tuturnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Karena kalau mereka jadi Orang dengan HIV AIDS (ODHA), maka akan beresiko terhadap anak-anaknya.

Ditanya bagaimana para ibu rumah tangga itu bisa tertular, Helda menjelaskan bahwa bisa jadi ketika tranfusi darah. Atau malah ditularkan oleh suami mereka. Hanya saja, kaum pria kebanyakan enggan memeriksakan kesehatannya. Sementara, kaum ibu mengetahui terkena HIV AIDS ketika memeriksakan kesehatan diri.

Dilanjutkannya, kecenderungan, masih sedikit laki-laki yang melakukan tes kesehatan. Karena itu, dengan kesadaran akan bahaya HIV AIDS, para laki-laki harus memiliki kemauan sendiri untuk diperiksa. Menurut Helda, kelompok yang rentan terjangkit virus ini adalah yang berusia 15-49 tahun.

Karena itu, kemarin Diskes bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit itu ke Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diharap, lewat sosialisasi ini PNS mengerti apa itu HIV dan AIDS. Lalu tahu bagaimana memperlakukan ODHA dan gencar menginformasikan ke masyarakat sekitar terkait bahaya-bahayanya.

Hal senada disampaikan Master trainers Kementerian Kesehatan, dr Evalina yang juga narasumber dalam kegiatan ini. Menurutnya, orang yang terjangkit HIV biasanya tidak serta merta mau mengakui kondisi dirinya. Karena dampak sosialnya banyak.

Oleh karena itu, semua yang terjangkit HIV AIDS haruslah ditopang orang disekitarnya. Karena tak semuanya pengidap penyakit itu diakibatkan perilaku mereka. Tapi bisa jadi dari faktor lain.

Di masyarakat, ada beberapa hal juga yang perlu didobrak. Misalnya, masih ada kaum ibu yang ingin memeriksakan diri ke Puskesmas harus izin suami. Padahal hal itu jelas bisa menjadi kendala dalam menekan angka penderita HIV AIDS.

Ketua Harian KPA yang juga Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi SSi menjelaskan, tugas KPA diantaranya mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan angota KPAK Pekanbaru, mengadakan kerjasama regional dalam rangka penanggulangan HIV AIDS, menyebarluaskan informasi mengenai HIV dan AIDS kepada aparat serta masyarakat.


Hanya saja, untuk menekan angka HIV AIDS, terkadang mengalami hambatan. Diantaranya, masih ada anggapan tabu membicarakan HIV AIDS di kalangan masyarakat. Padahal, seharusnya mereka jangan tabu membicarakan ini. "Dari pada belajar sendiri sebaiknya. (Laporan wartawan Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias/tribunnews.com/bh).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.