13 Juli 2014

Siswa SMA di Klaten Idap HIV/AIDS Bukan Turunan dari Orang Tua

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Jakarta, aidsindonesia.com (14/7-2014) - “ …. KPA kemudian menelusuri tentang dugaan penyebab pelajar terkena HIV. Ternyata diketahui bahwa orangtua pelajar itu merupakan penderita AIDS, sehingga penularan penyakit disebabkan karena faktor keturunan.” Ini pernyataan dalam berita ”Pelajar SMA di Klaten Positif HIV” (solopos.com, 11/7-2014).

Pernyataan ini menunjukkan petugas KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) pun ternyata tidak memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis. Pernyataan tsb. menjungkirbalikkan akal sehat karena HIV adalah virus yang menular bukan penyakit yang diturunkan secara genetika.

Secara medis penularan HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual (vaginal dan anal), di dalam dan di luar nikah, dengan yang mengidap HIV/AIDS dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom.

Nah, jika KPA Klaten tetap ngotot mengatakan bahwa pelajar SMA itu tertular dari orang tuanya yang mengidap HIV/AIDS, maka penularan terjadi: (a) Saat pelajar itu di dalam kandungan ibunya, (b) Ketika pelajar itu dilahirkan waktu persalinan, dan (c) Ketika menyusui dengan air susu ibu (ASI). Ini terjadi kalau ibu pelajar itu mengidap HIV/AIDS.

Kalau yang mengidap HIV/AIDS adalah ayah pelajar SMA itu, maka penularan bisa terjadi: (d) Melalui hubungan seks anal kalau pelajar SMA itu laki-laki, (e) Melalui seks vaginal (kalau pelajar SMA itu perempuan) dan (f) transfusi darah yang memakai darah si ayah yang tidak disaring PMI.

Informasi yang menyesatkan dalam berita ini ada pada pernyataan Fauzi Rivai, pegiat di KPA Klaten: “Pelajar yang mengidap HIV itu tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman keras. Bahkan, dia cenderung pendiam dan tidak pernah terlibat kenakalan remaja. Kalau dilihat sekilas, tidak jauh berbeda dengan pelajar pada umumnya. Setelah ditelusuri, ternyata virus itu berasal dari orangtuanya.”

Pertama, tidak ada kaitan langsung antara merokok dan minum minuman keras dengan penularan HIV/AIDS.

Kedua, tidak ada kaitan langsung antara sifat pendiam dan kenakalan remaja dengan penularan HIV/AIDS.

Amatlah naif kalau kemduian Fauzi mengatakan bahwa hasil penelusurannya membuktikan virus yang ada di tubuh pelajar SMA itu berasal dari orang tunya. Kemungkinan itu hanya terjadi ketika pelajar SMA itu dikandungan ibunya.

Dalam berita tidak dijelaskan siapa di antara orang tua pelajar SMA itu yang mengidap HIV/AIDS.

Jika pelajar SMA itu tertular dari ibunya, maka pelajar SMA itu amat beruntung karena belasan tahun bisa bertahan tanpa dukungan obat dan pendampingan.

Informasi lain yang tidak muncul dalam berita adalah tidak dijelaskan kapan dan bagaimana pelajar SMA itu terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Informasi ini penting karena akan memberikan gambaran yang ril tentang faktor risiko (cara penularan) terhadap pelajar SMA tsb.

Disebutkan dalam berita ”Namun, ia tidak bisa membeberkan identitas pelajar tersebut karena ada kode etik bahwa identitas pengidap HIV/AIDS harus dirahasiakan.” Pernyataan ini mendorong masyarakat melihat Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sebagai orang-orang yang diistimewakan sehingga akan muncul stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap Odha.

Secara medis semua informasi tentang penyakit dan pasien: nama, alamat, jenis penyakit dan tindakan medis adalah rahasia yang dikenal sebagai medical record. Informasi ini bisa dipublikasikan atas izin ybs. Maka, kerahasiaan tentang penyakit bukan hanya pada Odha tapi semua orang.


Selama ini banyak kalangan yang selalu menyalahkan wartawan dalam penulisan berita HIV/AIDS, tapi fakta ini membuktikan bahwa justru narasumber, bahkan orang KPA, yang memberikan informasi yang ngawur. Celakanya, wartawan pun tidak mencari narasumber lain agar berita yang dia tulis lebih baik. ***

1 komentar:

  1. maaf baru nemukan web ini.. ane orang klaten dulu waktu baca berita ini di solopos juga mikir.. aneh ada anak bertahan hidup sampai belasan tahun tanpa arv, jika argumen anak tsbt terinfeksi HIV dari ortunya.. mau gak percaya tapi kok narasumber orang KPA..ternyata bapak Syaiful W Harahap juga meragukan..Baca berita tsbt sya parno krn sblm menikah saya nakal dan tidak tahu status hiv saya. saat ini anak sya sdh umur 17 tahun.. jangan2 saya dan anak sya ada virus HIV..berita tersebut memang bikin parnooo...Saya lebih percaya ulasan Bapak Syaiful

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.