06 Juli 2014

Pemerintah ‘’Membiarkan’’ Suami Menularkan HIV/AIDS ke Istri


Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia


4,9 Juta Ibu Rentan Tertular HIV/AIDS”. Ini judul berita di Harian “TERBIT’ Jakarta (4/7-2014). Angka ini sangat besar jika dikaitkan dengan penyebaran HIV/AIDS. Dalam berita itu sama sekali tidak ada informasi tentang cara atau langkah konkret yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS dari suami ke istri (ibu rumah tangga).

Dilaporkan bahwa estimasi jumlah laki-laki dewasa ‘pembeli seks’ mencapai 6,7 juta. Dari jumlah ini ada 4,8 juta laki-laki tsb. yang mempunyai istri. Jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS pada tahun 2013 sebanyak 6.213.

Ada beberapa hal terkait dengan fakta di atas, yiatu penularan HIV dari sumai ke istri (horizontal) dan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya (vertikal). Yang dilakukan pemerintah sekarang adalah program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya, tapi tanpa regulasi.

Penanggulangan di Hilir

Tapi, program ini adalah langkah di hilir. Artinya, sudah terjadi penularan HIV yaitu dari suami ke istri atau ibu rumah tangga. Ini sama saja dengan pembiaran yakni pemeirntah membiarkan suami menularkan HIV ke istri mereka.

Selain itu program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya pun tidak dilakukan secara sistematis dengan regulasi sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi.

Akan lain halnya jika pemerintah membuat regulasi, misalnya, setiap perempuan hamil wajib mengikuti konseling pasangan. Bagi suami yang perilakunya berisiko diwajibkan tes HIV beserta istri.

Regulasi itu pun hanyalah di hilir karena ketika seorang ibu rumah tangga terdeteksi mengidap HIV ketika hamil itu artinya suami sudah menularkan HIV ke istrinya.

Yang diperlukan adalah program penanggulangan HIV/AIDS di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Program ini bisa dijalankan dengan intervensi melalui regulasi.

Risiko penularan HIV/AIDS ke laki-laki dewasa, sebagian di antaranya adalah suami, terjadi melalui:

(1) Hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti. Risiko terjadi karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan ke laki-laki. Selanjutnya, laki-laki yang tertula HIV/AIDS menularkan HIV ke perempuan lain, al. kepada istrinya.

(2) Hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK. Risiko terjadi karena ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tertular HIV. Selanjutnya laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK berisiko pula tertular HIV/AIDS. Laki-laki yang tertular HIV/AIDS dari PSK akan menularkan HIV ke perempuan, al. kepada istri dan PSK.

Intervensi terhadap Laki-laki

(3) Hubungan seksual dengan perempuan atau cewek gratifikasi seks. Cewek gratifikasi seks melayani laki-laki yang berganti-ganti tanpa kondom sehingga berisiko tertular HIV/AIDS. Selanjutnya laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan cewek gratifikasi seks berisiko tertular HIV/AIDS. Laki-laki inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam nikah (dengan istri, ada pula yang beristri lebih dari satu) dan di luar nikah (dengan perempuan lain dan PSK).

Pada kondisi (1) dan (3) tidak bisa dilakukan intervensi karena hubungan seksual terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Sedangkan pada kondisi (2) pemerintah bisa melakukan intervensi melalui regulasi yaitu menjalankan program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Yang perlu diingat adalah intervensi hanya bisa dilakukan jika PSK dilokalisir.

Masalah baru (akan) muncul karena secara de jure tidak ada celah untuk melokalisir PSK. Padahal, secara de facto pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu di seluruh Nusantara.

Tanpa intervensi terhadap laki-laki yang melacur dengan PSK, maka risiko laki-laki pelanggan PSK tertular HIV sangata tinggi. Laki-laki yang tertular HIV dari PSK akan menularkan HIV ke istrinya. Jumlah perempuan yang tertular HIV kian banyak karena ada laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Agaknya, pemerintah tetap tidak melakukan langkah-langkah yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki. Itu artinya jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS pun akan terus bertambah dan pada gilirannya melahirkan anak dengan HIV/AIDS.

Selain jadi beban negara, anak-anak yang lahir dengan HIV/AIDS juga tidak bisa diandalkan sebagai generasi penerus bangsa. ***

1 komentar:

  1. PUSAT PEMBESAR PENIS, OBAT KUAT TAHAN LAMA, PERANGSANG WANITA, KOSMETIK, DAN ACCESORIES SEX P/W TERLENGKAP...!!



    Pembesar Penis Cepat

    Vakum Pembesar Penis

    Obat Kuat Sex

    Obat Penggemuk Badan

    Pelangsing Tubuh Cepat

    Perontok Bulu Kaki

    Penis Ikat Pinggang

    Alat Pembesar Payudara

    Obat perangsang wanita

    Vagina Center

    Obat Penyubur Sperma



    HOTLINE : 0812 3377 0077

    PIN BB : 2A70 31BC

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.