20 Juli 2014

Lokalisasi Pelacuran Bukan Sumber Kemunculan HIV/AIDS


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Data dari dinkes, angka kasus HIV/AIDS di beberapa kawasan di Surabaya seperti Benowo, Krembangan, Pabean Cantikan, Sawahan dan Wonokromo cukup tinggi. Sebelumnya, di kawasan tersebut berdiri lokalisasi atau karena berdekatan dengan lokalisasi.” (Penyebaran HIV/AIDS di Surabaya Banyak Terdampak dari Lokalisasi, detikNews, 17/7-2014).

Ada beberapa hal yang jadi pertanyaan yang sangat mendasar dari pernyataan di atas, yaitu:

Pertama, pada siapa-siapa saja kasus HIV/AIDS tsb. terdeteksi? Ini penting karena akan menunjukkan fakta sebagai realitas sosial karena kalau kasus yang dimaksud cukup tinggi terdeteksi pada pekerja seks komersial (PSK) tentulah hal yang masuk akal karena PSK merupakan orang-orang dengan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Ini terjadi karena mereka melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti tanpa kondom.

Kedua, bagaimana cara yang dilakukan Dinkes Kota Surabaya untuk menemukan kasus-kasus HIV/AIDS tsb.? Jika kasus yang disebut cukup tinggi tsb. diperoleh dengan cara survailans tes terhadap PSK, maka itu bukan merupakan kasus faktual karena survilans bukan untuk menemukan kasus HIV/AIDS.

Ketiga, mengapa tidak ada angka pembanding pada daerah di luar lokalisasi? Ini juga bisa memberikan gambaran terkait dengan penyebaran HIV/AIDS.

Yang jadi persoalan besar bukan kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi pada PSK, tapi banyak laki-laki dewasa, dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, yang menjadi mata rantai penyebaran HIV, yaitu (a) laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK, dan (b) laki-laki yang tertular HIV dari PSK.

Maka, pernyataan ”Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya meneliti beberapa kawasan yang sebelumnya difungsikan sebagai lokalisasi, menjadi sumber kemunculan penyakit HIV/AIDS” menunjukkan pemahanan yang sangat dangkal terhadap epidemi HIV/AIDS secara faktual.

HIV/AIDS tidak muncul dengan sendirinya, tapi merupakan penyakit yang ditularkan yaitu (virus) HIV.

Laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS menularkan HIV kepada PSK karena laki-laki tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Laki-laki ini menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah kepada istri, pacar, pasangan seks lain dan PSK.

Lalu banyak pula laki-laki dewasa yang tertular HIV dari PSK karena karena laki-laki ini tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Laki-laki ini menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah kepada istri, pacar, pasangan seks lain dan PSK.

Ada lagi pernyataan Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kota Surabaya, dr Mira Novia: "Kasus HIV/AIDS banyak ditemukan di kawasan tersebut (eks lokalisasi) karena dampak dari keberadaan lokalisasi. Selain itu, di kawasan terdapat hot spot seperti tempat hiburan.”

Ada fakta yang digelapkan dari pernyataan dr Mira yaitu tentang laki-laki yang membawa HIV/AIDS ke lokalisasi pelacuran dan laki-laki yang membawa HIV/AIDS dari lokalisasi pelacuran.

HIV/AIDS yang terdeteksi pada PSK justru ditularkan oleh laki-laki yang jadi sebagai pelanggan PSK, tapi bisa juga dari laki-laki yang menjadi ”suami” atau ”pacar” PSK. Di beberapa lokalisasi ”suami” atau ”pacar” PSK mereka sebut kiwir-kiwir.

Disebutkan pula oleh dr Mira bahwa sumber kemunculan penyakit di lokalisasi membuat angka penderita HIV/AIDS di Surabaya tinggi.

Kasus HIV/AIDS berdasarkan data Dinkes Kota Surbaya pada periode Januari sampai Mei 2014 ditemukan 281 kasus baru dengan rincian 171 HIV dan 110 AIDS. Ini menambah jumlah kasus HIV/AIDS karena pada tahun 2013 terdeteksi  754 kasus dengan rincian 501 HIV dan 253 AIDS. Sedangkan di tahun 2012 ditemukan 752 kasus dengan rincian 418 HIV dan 300 AIDS. Itu artinya di Kota Surabaya terdeteksi 1.753 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 1.090 HIV dan 663 AIDS.

Lagi-lagi tidak ada penjelasan pada siapa kasus ini terdeteksi. Kalau semua kasus itu terdeteksi pada PSK, maka itu artinya ada puluhan ribu bahkan ratusan ribu laki-laki yang berisiko tertular HIV jika mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tentang PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS disebutkan bahwa ”Mereka kebanyakan berasal dari luar kota seperti Bandung, Indramayu, Malang dan Jember."

Persoalannya adalah laki-laki yang menjadi pelanggan PSK asal luar Kota Surabaya itu sebagian besar adalah penduduk Kota Surabaya.

Maka, pertanyaannya adalah: Apa langkah konkret yang selama ini dijalankan Pemkot Surabaya untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK?

Tentu saja tidak ada. Bahkan, dalam Perda AIDS Kota Surabaya pun sama sekali tidak ada pasal yang mengatur penanggulangan HIV/AIDS di lokalisasi pelacuran (Lihat: Perda AIDS Kota Surabaya - http://www.aidsindonesia.com/2013/07/perda-aids-kota-surabaya.html).

Celakanya, biar pun dalam perda tsb. tidak ada disebutkan lokasi atau lokalisasi pelacuran, tapi dalam perda itu justru diakui ada kegiatan pelacuran (Lihat: Dolly Ditutup, Dalam Perda AIDS Kota Surabaya Justru Ada (Praktek) Pelacuran - http://www.aidsindonesia.com/2014/06/dolly-ditutup-dalam-perda-aids-kota.html).

Fakta ini menunjukkan bahwa perilaku berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS di Kota Surabaya tetap ada biar pun semua tempat pelacuran yang kasat mata ditutup. Soalnya, pelacuran terjadi di sembarang rempat dan sembarang waktu. Bahkan, awal bulan ini Polda Jatim membongkar kasus pelacuran yang melibatkan cewek panggilan dengan tarif jutaan rupiah dengan tempat transaksi seks di hotel berbintang lima (Lihat: Pasca Penutupan “Dolly”, Kasus HIV/AIDS (Akan) Banyak Terdeteksi pada Pegawai, Aparat dan Pengusaha - http://www.aidsindonesia.com/2014/07/pasca-penutupan-dolly-kasus-hivaids.html).

Disebutkan pula bahwa ”Pihaknya berharap dengan alih fungsi lokalisasi yang dilakukan Pemkot Surabaya, jumlah penderita HIV/AIDS bisa terus menurun.” Ini tentu saja tentu saja tidak realistis karena perilaku berisiko al. melalui praktek pelacuran tetap terjadi.

Bahkan, dengan kondisi pelacuran tidak dilokalisir upaya untuk melakukan intervensi berupa sosialisasi pemakaian kondom pada laki-laki ’hidung belang’ tidak bisa dilakukan. Akibatnya, risiko penularan HIV pada praktek pelacuran terus terjadi sehingga penyebaran HIV/AIDS pun terus terjadi yang pada akhirnya akan mendorong ”ledakan AIDS”. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.