21 Mei 2014

Seks Bebas Remaja Mengkhawatirkan, Penderita HIV di Sintang, Kalbar, Meningkat

Sintang, aidsindonesia.com (20/5-2014) - Kasus HIV terus bergerak meningkat. Dinas Kesehatan Sintang mencatat sejak 2006 hingga 2014 pengidap HIV sebanyak 166 orang. Mirisnya lagi 18 pengidap diantaranya berumur antara 10 sampai 22 tahun. Penanggulangan penyebaran penyakit menular ini terus diupayakan, terutama di kelompok umur remaja.
“Saya meng-update data terakhir pada pekan lalu untuk kasus HIV. Paling mengkhawatirkan adalah 11 persen dari semua kasus berada di kelompok umur usia 10 hingga 22 tahun. Kita perlu membuat terobosan agar bisa memutus rantai penyebaran HIV,” kata kepala Dinas Kesehatan Sintang Marcus Gatot Budi Priyono, Senin (19/5).
Menurut Marcus, pengidap yang tercatat, semuanya warga Sintang. Data berbeda bila ikut dimasukkan warga pendatang. Lantaran pengelompokan dilakukan berdasar asal domisili. Sementara pemeriksaan VCT Sintang tidak hanya melayani warga Sintang, tetapi juga warga asal kabupaten terdekat.
Marcus merincikan, dari keseluruhan pengidap HIV di Sintang, dua bayi teridentifikasi virus tersebut. Data yang dimiliki sepenuhnya hasil pemeriksaan VCT, dengan mengoptimalkan peran konselor. Sehingga yang dianggap berisiko bersedia dengan sukarela memeriksakan diri. “Pola pendekatan dimaksimalkan. Kalau berdasar inisiatif pribadi sangat sulit,” ujar Marcus.
Ia menjelaskan, lompatan terbesar peningkatan kasus HIV di Sintang terjadi pada 2011 hingga 2014. Selama tiga tahun itu kasus HIV bertambah sebanyak 76 kasus. Sementara sejak Oktober 2006 hingga November 2011, sebanyak 90 kasus tercatat. Pertambahan di lima tahun sejak VCT berdiri di Sintang itu tidak sebesar periode 2011-2014.
Menurut Marcus, sebagian pengidap yang terdata sudah meninggal. Kematian disebabkan HIV itu sebanyak 30-an orang. Sementara sebaran  pengidap hampir merata di semua kecamatan di Sintang. Terakhir, yang terindentifikasi pada 2014 yakni di Kecamatan Binjai. “Setiap kecamatan berisiko. Maka kita harus bekerja keras menanggulangi,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan juga mengupayakan penambahan konselor. Keberadaan konselor masih dirasakan sangat minim. Kedudukan juga lebih banyak di Sintang. Minimal, setiap kecamatan mempunyai satu konselor. Pasalnya tenaga penjangkau tersebut amat penting, guna membantu penanggulangan sekaligus memetakan resiko penularan.
Menurut Marcus, pencegahan HIV bisa dilakukan dengan menghindari hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bersama. Kemudian keberadaan café-café remang, disinyalir berpotensi menjadi salah satu tempat paling berisiko. Lantaran pekerjanya sulit terpantau dan terkadang suka berpindah tempat. (din/http://www.rakyat-kalbar.com/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.