07 Mei 2014

Kapal Tambat Laris, Waspada Imbas AIDS ke Warga

Melihat THM di Pemukiman Terpencil

Kutai Barat, aidsindonesia.com (7/5/2014) - Dimana ada gula di situ ada semut. Pribahasa ini cocok terhadap keberadaan tempat hiburan malam (THM) yang masih menjamur di sejumlah lokasi. Ironisnya, keberadaan THM tidak saja terpusat di ibukota kecamatan, melainkan juga ada di sejumlah perkampungan bahkan setingkat rukun tetangga (RT).

DATA Dinas Kesehatan (Diskes) Kubar, sudah ada 41 orang yang terjangkit AIDS. Ini jumlah akumulasi sejak lima tahun terakhir. Melihat data ini boleh juga dikatakan menakutkan. Lebih miris lagi, data ini bisa lebih sedikit dari penderita sebenarnya. Karena data yang terungkap ini, diketahui pasien yang memeriksakan diri ke rumah sakit. Bagaimana jika pasien yang terkena tapi mendiamkan diri?


Bupati Kubar Ismail Thomas sudah memerintahkan Diskes Kubar dan dinas terkait untuk berupaya menghentikan meluasnya penyakit yang bisa mematikan tersebut. Keprihatinan orang nomor satu di Pemkab Kubar ini sangat beralasan. Tidak ingin meluasnya HIV/AIDS kepada warga.


Apalagi sampai kepada anak cucu yang tidak tahu persoalannya. HIV/AIDS salah satunya menular dari hubungan badan, yang dilakukan suami kepada penderita yang tak lain penjaja seks. Jika suami sudah terjangkit virus HIV/AIDS rentan tertular kepada istri. Apalagi jika istri mengandung, maka bisa menular ke anak dalam kandungan. Bisa dibayangkan, jika satu suami menularkan kepada istri dan anak. Sudah pasti, jumlah penderita HIV/AIDS akan dengan cepat meluas.


Diskes dan dinas terkait dengan sigap melakukan pengambilan darah kepada setiap THM atau lokalisasi di sejumlah kecamatan. Melalui laboratorium, akan diketahui pekerja seks komersial (PSK) tersebut menderita HIV/AIDS. Namun kendalanya, PSK kerap berpindah-pindah. Sehingga sulit dideteksi. Hal inilah mengudang kerawanan bagi warga lokal.


Seperti THM di RT 4 Kampung Gunung Bayan, Kecamatan Muara Pahu. Letaknya, jauh dari pengawasan pihak kesehatan. Lantas penggunanya warga luar. Pekerja di tugboat penarik ponton batu bara. Bisa jadi pembawa virus HIV/AIDS. Jika penghuni THM ini melayani seks kepada warga setempat, tidak menutup kemungkinan akan berpindah virus HIV/AIDS kepada warga.


“THM ini ramai kalau ada kapal batu bara yang datang,” kata salah seorang warga setempat yang menolak identitasnya disebutkan beberapa hari lalu. Dua THM tersebut, kerap beroperasi malam hari. Tapi tergantung jumlah pengunjung. Kadang beroperasi siang, jika ada tugboat yang masuk ke Sungai Kedang Pahu, anak Sungai Mahakam.


Meski diakui, dua tahun terakhir sudah sepi. Imbas dari menurunnya harga batu bara. Disingung soal tim kesehatan? Warga tadi tidak mengetahui. Yang pasti jaraknya sangat jauh ke Puskesmas Muara Pahu. Apalagi ke ibukota kabupaten. (kpnn/nin/http://www.sapos.co.id/
)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.