25 Mei 2014

256 Warga Solo Terjangkit HIV/AIDS

* Masyarakat harus sadar dan tergerak untuk mencegah virus ini.” Ligik Prayoga | Direktur LSM Mitra Alam

Pasar Kliwon, aidsindonesia.com (22/5-2014) - Penyebaran virus HIV/AIDS (Human immunodeficiency virus infection/acquired immunodeficiency syndrome) di Kota Solo mulai merambah masyarakat secara umum melalui hubungan seksual. Sementara data dari LSM Mitra Alam menyebutkan, jumlah penderita HIV/AIDS di Solo saat ini mencapai 256 orang.
Direktur LSM Mitra Alam, Ligik Triyogo mengatakan, penularan HIV/AIDS kini bergeser. Dari semula lebih banyak melalui penggunaan jarum suntik Narkoba, kini lebih banyak melalui hubungan seksual.
Kondisi itu berarti menyebabkan penyebaran HIV/AIDS ke masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga, makin mudah.
Hal itu dikatakan Ligik di sela-sela kegiatan pemeriksaan Voluntary Counseling Test (VCT) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di RW XVII Semanggi, Kamis (22/5).
“Sekarang itu penularannya ada perubahan. Jika dulu di tahun sekitar 1998 sampai 2000-an didorong lewat narkoba jarum suntik tapi sekarang justru lebih banyak lewat hubungan seksual. Bahkan yang terkena pun tidak lagi populasi kunci seperti pekerja seks dan pengguna narkoba, tapi sudah merambah ke masyarakat umum seperti Ibu Rumah Tangga (IRT) dan anak,” terangnya.
Dengan kondisi ini pihaknya membuat strategi baru untuk mengantisipasi dengan fokus pada masyarakat tapi tetap tidak melepas populasi kuncinya. Hal ini karena pihaknya tidak bisa mengindentifikasi secara khusus laki-laki berisiko tinggi yang ada di dalam masyarakat.
“Masyarakat harus sadar dan tergerak untuk mencegah virus ini dan kami terus mensosialisasikan lewat kader-kader kami yang berasal dari warga juga. Penularan virus ini sudah masuk ke masyarakat dan masyarakat sendiri harus dilibatkan dalam upaya pencegahan,” katanya.
Ditanya mengenai jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo, Ligik mengatakan data dari pihaknya mencapai sekitar 256 warga. Jumlah itu tersebar di seluruh kecamatan di Solo.
Menurutnya, jumlah itu mengalami peningkatan sejak tahun 2005 lalu sampai tahun 2014 ini. Sebagai langkah antisipasi sekaligus sosialisasi, maka dilakukanlah pemeriksaan berkala. Dengan pemeriksaan itu, diharapkan bisa mengetahui lebih dini adanya virus itu di tubuh seseorang. “Artinya mereka bisa mencegah atau mempertahankan hanya status HIV, bukan AIDS.
Memang masyarakat masih awam terkait masalah ini,” imbuhnya.
Ligik menambahkan, penderita HIV/AIDS di eks Karesidenan Surakarta saat ini mencapai sekitar 1.260 orang. Sementara Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Surakarta, Harsoyo Supodo menyatakan jika sekarang penyebaran yang menjadi perhatian lewat pelecehan seksual. “Itu yang menjadi perhatian kami sekarang dan akan bekerja sama dengan Pemkot untuk mensosialisasikannya,” katanya. Ari Welianto/http://joglosemar.co/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.