07 April 2014

Wajib Pakai Kondom, PSK Kampung Baru Rajin Cek Kesehatan

Palembang, AIDS Watch Indonesia (9/3/2014) - Meski sudah bergelut di dunia prostitusi yang rentan penyakit kelamin, bukan berarti pekerja seks komersial (PSK) Kampung Baru, Palembang, menomorduakan kesehatan. Bagi mereka rizki tak akan mengalir jika 'berpenyakit.'

Di lokalisasi yang berada di Jalan Kolonel H Burlian KM 9, Palembang itu, setidaknya ada 500-an PSK berikut germo. Mayoritas mereka bukan warga pribumi, melainkan pendatang dari pulau Jawa, seperti Bandung, Garut, Indramayu, Brebes, dan beberapa daerah di Jawa lainnya.

Menurut Mawar (bukan nama sebenarnya), ia mencari rizki di tempat itu sebagai PSK sudah lima tahun. Banyak pengalaman suka duka yang dirasakan pendatang dari Garut itu. Ramainya pengunjung setiap malam, membuat ia bertahan di kampung esek-esek itu.

"Lumayan kak, semalam bisa melayani 3 sampai lima tamu. Penghasilan di sini bisa dibilang memang menjanjikan," kata Mawar saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (8/3) malam.

Menurut dia, sejak dulu para PSK di sana sudah terbiasa dengan menjaga kesehatan. Sebab, mereka menyadari prilaku seks seperti itu berisiko tinggi terkena penyakit kelamin.

Selain mewajibkan pasangan menggunakan kondom, PSK Kampung Baru rutin mengecek kesehatan dalam waktu tertentu. Tak heran, hingga kini mereka tetap eksis dalam menggeluti dunia malam dan pelanggan pun tak lari ke tempat lain.

"Kalau pasangan tidak mau pakai kondom kami tidak mau, karena hukumnya wajib. Percuma dong kita cek kesehatan terus tapi penyakitnya datang dari orang lain," kata dia.

Rupanya, kebiasaan itu setelah germo (mami) mereka selalu memaksa dan menolak anak buah yang enggan mengikuti aturan yakni menjaga kesehatan intim.

Paksaan ini bukan tanpa alasan. Selain baik bagi PSK sendiri, dengan kesehatan terjaga, rupiah terus mengalir ke dompet para germo.

"Ga mau ada anak buah yang bandel. Kata orang sih kita kotor, tapi wanita di sini tahu bagaimana mencegah timbulnya penyakit," kata Rini (35), salah satu germo di Kampung Baru. (Irwanto/merdeka.com)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tanggapan (7/4/2014):

Pertama, cek kesehatan rutin tidak bisa mendetiksi HIV/AIDS. Tidak dijelaskan seperti apa rutinitas cek kesehatan. Biar pun dilakjkan setiap minggu cek kesehatan tidak bisa mendeteksi HIV/AIDS karena untuk mendeteksi HIV/AIDS bukan dengan cek kesehatan, tapi tes HIV.

Kedua, apa tolok ukur yang bisa membuktikan bahwa semua laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK memakai kondom? Dalam berita tidak ada penjelasan.

Ketiga, kalau dengan tamu mereka hanya melayani yang memakai kondom tapi dengan pacar atau ’suami’ mereka tidak memaksa pacar atau ’suami’ pakai kondom.

Dalam berita disebutkan ”Mayoritas mereka (maksudnya PSK-pen.) bukan warga pribumi, melainkan pendatang dari pulau Jawa, seperti Bandung, Garut, Indramayu, Brebes, dan beberapa daerah di Jawa lainnya.” Yang jadi persoalan bukan PSK tapi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan mereka, yaitu laki-laki pribumi.

Indikator yang bisa menunjukkan di antara PSK ada yang mengidap IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti sifilis, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamidia, dll.) dan HIV/AIDS dapat dilihat dari kasus IMS dan HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga di daerah itu. Jika ada kasus ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus itu menandakan suami mereka melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Untuk memastikan laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK diperlukan cara-cara yang realistis dan konkret untuk membuktikannya. Jika tidak ada cara yang konkret, maka kewajiban pakai kondom bagi laki-laki ’hidung belang’ hanya sebatas omongan saja.


- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.