22 April 2014

Penderita HIV-AIDS di Medan 3.091 Kasus

Medan,  aidsindonesia.com (22/4/2014)—Penderita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus Infection/Acquired Immunodeficiency Syndrome) di Sumatera Utara (Sumut), paling banyak terdeteksi di kota Medan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut, sejak tahun 1992 hingga Februari 2014, sebanyak 3.091 orang penderita HIV/AIDS terdeteksi di Medan. Jumlah ini mendominasi penemuan kasus HIV/AIDS yang berjumlah 5.722 orang.
Manager Officer Global Fund Dinkes Sumut, Andi Ilham Lubis mengatakan selama ini, ada 27 kabupaten/kota yang melaporkan penemuan kasus HIV/AIDS. Penemuan terbanyak dari Kota Medan dengan 3.091 kasus, diikuti 1.066 kasus dari Kabupaten Deli Serdang dan 341 kasus dari Kabupaten Karo.
“Banyaknya penemuan kasus HIV/AIDS karena program penanggulangannya sudah berjalan baik. Namun, seperti kita ketahui, kasus HIV/AIDS ini terus meningkat dan perlu dikonseling untuk menanggulanginya,” ujarnya, Minggu (20/4).
Dari 5.722 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan ini, penemuan kasus terbesar dijumpai pada golongan usia 30-39 tahun, dengan jumlah 2.300 kasus. Begitu juga golongan usia 20-29 tahun dengan jumlah 2.272 kasus, usia 40-49 tahun sebanyak 768 kasus dan lebih dari 50 tahun sebanyak 185 kasus.
“Jumlah kasus HIV/AIDS pada anak juga cukup besar. Mulai dari usia kurang dari 1 tahun hingga usia 19 tahun, ada 197 kasus yang dijumpai sepanjang 20 tahun ini,” tuturnya.
Karenanya, untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS, perlu adanya kesadaran dari semua pihak terkait. Dukungan berbagai pihak untuk penanggulangannya juga sangat dibutuhkan.
Sebelumnya, Kepala Tata Usaha Konselor di klinik VCT Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan, Indah Kumala Sari mengungkapkan pengetahuan tentang penyakit HIV dan AIDS di daerah-daerah sangat minim. Terbukti, saat berkunjung ke daerah beberapa waktu lalu, pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang dilontarkan kepadanya sangat banyak.
“Saya heran, padahal sosialisasi sudah banyak dilakukan, tapi buktinya ketika saya ikut reses bersama anggota dewan ke pedesaan banyak juga yang belum tahu. Jadi sayapun kaget, bahkan masyarakat yang disitu sudah bisa dibilang kelas menengah,” katanya.
Menurut Indah, sebenarnya ketidaktahuan ini juga disebabkan karena adanya ketakutan-ketakutan dari masyarakat. Untuk itu, stigma negatif terhadap penyakit HIV dan AIDS ini harus dihilangkan. (Bar/inspirasibangsa.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.