30 April 2014

Pelacur Lokal di Bali Sebagai ‘’Pintu Masuk’’ HIV/AIDS ke Masyarakat

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Diberitakan dari Legian, Bali, bahwa pelacur (pekerja seks komersial/PSK) lokal di sana lebih suka melacur dengan laki-laki bule (Pelacur lokal di Legian lebih suka dikencani bule, merdeka.com, 30/4-2014).

Ada realitas sosial di balik informasi yang disampaikan merdeka.com itu, yakni: ada risiko penularan HIV dari laki-laki bule ke PSK lokal. Risiko penularan HIV kian besar jika PSK lokal itu tidak memaksa laki-laki bule pakai kondom ketika sanggama.

Ada beberapa hal yang luput dari perhatian terkait dengan PSK lokal tsb., yaitu:

Pertama, PSK lokal itu juga akan melayani laki-laki lokal, baik penduduk Bali maupun pelancong. Jika ini terjadi, maka laki-laki Bali dan pelacong yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK lokal berisiko tertular HIV. Kalau mereka tertular, maka ada pula risiko penularan kepada pasangan mereka, seperti istri dan pacar. Ini dapat dilihat dari kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga.

Kedua, PSK biasanya mempunyai ”suami” atau pacar. Yang mereka sebut ”suami” dan pacar itu tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK sebagai ”istri” dan pacar. Maka, ”suami” dan pacar PSK itu berisiko tertular HIV. Dalam prakteknya ”suami” dan pacar PSK itu menjadi jembatan penyebaran HIV/AIDS dari PSK ke perempuan atau laki-laki yang menjadi pasangan mereka di masyarakat.

Dua fakta di atas luput dari perhatian pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Bali sehingga penyebaran HIV/AIDS terus terjadi. Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI per  14 Februari 2014 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Prov Bali sampai tanggal 31 Desember 2013 mencapai 11.589 yang terdiri atas 7,791 HIV dan 3.798 AIDS. Dengan jumlah ini Bali ada di peringkat 5 secara nasional.

Diakabarkan bahwa PSK asal Indonesia di Legian, Bali, menjadi buruan para pelancong bule dan Timur Tengah. Tarif sekali sanggama untuk satu jam berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 500.000.

Mengapa ada risiko penularan HIV ke PSK lokal dari laki-laki bule dan laki-laki asal Timur Tengah?

Yang perlu diingat adalah laki-laki bule dan laki-laki asal Timur Tengah tsb. ada yang sudah singgah di daerah tujuan wisata (DTW) di negara lain, seperti di Thailand, Malaysia, Filipina, dll. sebelum ke Bali. Bahkan, ada di antara mereka yang singgah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Ada kemungkinan mereka pun melacur dengan PSK di negara-negara atau kota-kota itu sehingga ada risiko mereka tertular HIV.

Prevalensi (perbandingan antara PSK yang mengidap HIV/AIDS dan PSK yang tidak mengidap HIV/AIDS) di kalangan PSK di DTW di kawasan Asia Tenggara tergolong tinggi. Di Denpasar, misalnya, prevalensi mencapai 20 persen. Itu artinya dari 100 PSK ada 20 PSK yang mengidap HIV/AIDS.

Dengan prevalensi itu risiko tertular HIV sangat besar jika sanggama dengan PSK laki-laki tidak pakai kondom.

Celakanya, di kota-kota yang menjadi DTW di Indonesia tidak ada program penanggulangan HIV/AIDS yang konkret dan sistematis. Selain itu praktek pelacuran pun tersebar luas di berbagai tempat mulai dari lokasi pelacuran, penginapan, losmen, hotel melati sampai hotel berbintang.

Praktek pelacuran yang tidak dilokalisir itu membuat program penanggulangan melalui intervensi tidak bisa dilakukan. Akibatnya, pemakaian kondom pada laki-laki ’hidung belang’ tidak bisa diterapkan secara faktual.

Selama praktek pelacuran di Bali tidak dilokalisir, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi karena ada di antara laki-laki dewasa penduduk Bali yang melacur dngan PSK.

Laki-laki dewasa penduduk Bali yang melacur tanpa kondom dengan PSK menjadi jembatan penyebaran HIV/AIDS secara horizontal dari PSK ke masyarakat, terutama ke keluarga yaitu kepada istrinya.

Jika istri mereka tertular HIV, maka ada pula risiko penularan secara vertikal dari ibu ke bayi yang dikandungya.

Kondisinya kian runyam karena tidak ada program yang konkret dan sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil.


Maka, penyebaran HIV/AIDS di Bali pun kompletlah sudah: suami ke istri dan istri ke anak yang dikandungmnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.