10 April 2014

Komunitas Lelaki Pencinta Sesama Jenis Jadi Perhatian di Semarang

Semarang, aidsindonesia.com (11/4/2014) - Perilaku seksual "lelaki suka lelaki" (LSL) mulai menjadi perhatian di Kabupaten Semarang sebab komunitas ini rentan tertular penyebaran HIV/AIDS. 

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang mendata, sedikitnya lima dari 30 anggota komunitas LSL terinveksi HIV/AIDS selama kurun 2014. Data itu diperoleh setelah dilakukan Voluntary Counseling Test (VCT) HIV terhadap komunitas tersebut.


"Informasi yang kami peroleh di 2014 ini dilakukan VCT 30 orang ditemukan ada lima orang yang terinfeksi HIV," kata pihak Divisi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan, Kamis (10/4/2014) kemarin. 


KPA menyatakan, selain pada komunitas LSL, potensi penyebaran HIV/AIDS ini juga berpotensi terjadi pada laki-laki yang bergonta-ganti pasangan atau biasa disebut laki-laki dengan seks berisiko tinggi (LSB). 


"Kelompok LSB ini biasanya mereka juga beristri, sehingga sangat dikawatirkan jika menular di keluarganya," kata Taufiq. 


Menurut Taufiq, kelompok LSB ini termasuk kelompok yang sulit untuk terdeteksi peredaran HIV/AIDS-nya sebab kesadaran untuk memeriksakan diri kurang. 


"Ada tiga anak yang positif mengidap HIV yang ditularkan dari orangtuanya. Hal ini menjadi pertimbangan kami untuk mengapa perlu melakukan pengawasan pada kelompok LSB ini," kata dia. 


Berdasarkan catatan KPA, hingga 2014 ini ada sekitar 90 orang penderita HIV di Kabupaten Semarang yang masih dalam pendampingan para relawan. Tugas para relawan ini memberikan pendampingan secara mental dan obat secara berkala. 


Keterangan senada juga disampaikan oleh anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Muhammad Yusuf . Ia menyatakan, dua kelompok ini (LSL dan LSB) pada tahun 2015 menjadi target pencegahan HIV/AIDS. 


"Saat ini dua kelompok itu diawasi karena berdasarkan survei nasional pada LSL dari tahun 2011 hingga 2013 lalu peningkatannya sampai tiga kali lipat. Sementara dari tahun 2011 hingga 2011 survei penderita HIV/AIDS pada laki-laki seks berisiko tinggi, peningkatannya hingga tujuh kali lipat. Kita sedang menggodok data itu untuk rencana aksi 2015," kata Yusuf.


Peningkatan jumlah komunitas LSL hingga tiga kali lipat, kata Yusuf, tidak bisa dilepaskan dari makin terbukanya masyarakat kita terhadap keberadaan komunitas ini. 


Mereka makin percaya diri menunjukkan eksistensinya lantaran masyarakat sudah menerima komunitas ini. "Sebenarnya perilaku seks ini yang perlu diawasi dari potensi penyebaran HIV/AIDS," katanya. 


Sementara itu, kelompok LSB juga perlu diawasi karena biasanya mereka merupakan pelanggan pekerja seks komersial (PSK). "Katakanlah 60-70 persen LSB ini merupakan laki-laki beristri, maka potensinya (penyebaran HIV/AIDS) sangat besar," tegas dia. (Kontributor Ungaran, Syahrul Munirkompas.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.