02 April 2014

Dinkes Bireuen Tangani 24 Penderita HIV/AIDS

* 13 Diantaranya Meninggal Dunia

Bireuen,  AIDS Watch Indonesia - (30 Maret 2014) - Hingga akhir Maret, jumlah penderita HIV/AIDS yang ditangani jajaran Dinkes Bireuen tercatat 24 orang, 13 orang di antaranya sudah meninggal dunia dalam setahun terakhir.

“Jumlah penderita HIV/AIDS yang terdata dan berobat di Bireuen 24 orang. Mungkin saja ada beberapa penderita lainnya yang belum terdeteksi,” kata Kadiskes Bireuen, dr Yurizal kepada Serambi Sabtu (29/3). Yusrizal dimintai konfirmasi terkait adanya informasi pasien HIV dari luar Bireuen yang berobat ke Bireuen.

Kadiskes yang didampingi Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinkes Bireuen dr Irawati MKes mengakui beberapa penderita  HIV yang ditangani Dinkes Bireuen memang berasal dari luar Bireuen. “Mereka warga kabupaten/kota lain datang berobat ke Bireuen dan diketahui terjangkit virus mematikan,” katanya.

Disebutkan, saat mereka berobat ke Bireuen dari awal sudah diinformasikan, pasien telah mendapat perawatan di tempat lain dan berobat lanjutan ke Bireuen.  Disebutkan, berdasarkan data awal tahun 2013, jumlah penderita HIV yang didapatkan tenaga medis di Bireuen berjumlah 12 orang. Artinya, dalam setahun terakhir terjadi peningkatan 100 persen, sehingga jumlahnya menjadi 24 orang.

Dari jumlah tersebut, 13 orang diantaranya sudah meninggal dunia, sedangkan lainnya dalam pengawasan dan berobat di Bireuen. Kemudian dari jumlah tersebut dua diantaranya masih di bawah umur yaitu berusia 5 dan 9 tahun. Terungkapnya mereka sebagai penderita penyakit tersebut berdasarkan hasil  uji sampel darah di laboratorium yang dilakukan tim medis Dinkes Bireuen dan RSUD Bireuen.

Para penderita HIV itu sekarang menjalani pengobatan. Mereka minum obat seumur hidup untuk meningkatkan kekebalan, tapi tak bisa menghilangkan virus mematikan itu dari dalam tubuhnya. Cara mendeteksi penyakit itu, menurut dr Irawati, pada periode tertentu petugas medis memeriksa kesehatan dan darah orang-orang yang digolongkan rentan terkena HIV.

Selain itu ada juga yang ditemukan saat pemeriksaan darah rutin di puskesmas atau rumah sakit serta balai pengobatan lainnya. Pencegahan agar tidak terjangkit HIV, kata Irawati, dapat dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan intensif yang ditujukan pada perubahan cara hidup dan perilaku seksual.

Juga diperlukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada usia remaja sampai usia tua. Selain itu, kata Irawati, yang lebih utama adalah memperdalam agama dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas dan benar.(yus/tribunNews.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.