Catatan: Tulisan ini memberikan gambaran pada tahun 2009 sebagai
perbandingan untuk kondisi sekarang.
Oleh Syaiful W. Harahap*
KASUS HIV dan AIDS yang terus terdeteksi di negeri ini men-dorong kalangan yang
peduli me-mikirkan upaya untuk mencegah penyebaran HIV, khususnya melalui
hubungan seks, secara konkret. Angka resmi yang dikeluarkan oleh Depkes RI
sampai 30 Juni 2009 adalah 17.699 kasus AIDS. Dari jumlah itu ternyata 48,8 persen tertular melalui hubungan seks.
Estimasi kasus antara 90.000-120.000. Untuk itulah pencegahan melalaui hubungan
seks menjadi salah satu prioritas utama dalam penanggulangan epidemi HIV di
Indonesia.Apakah ada negara yang berhasil menurunkan infeksi HIV melalui
hubungan seks? Thailand berhasil menurunkan insiden kasus infeksi HIV baru
melalui hubungan seks di kalangan dewasa. Jika di tahun 1991 kasus infeksi HIV
baru terdeteksi 142.819, maka di tahun 2003 kasus baru yang terdeteksi 23.676.
Ini artinya terjadi penurunan 83,42 persen.
Apa yang dilakukan Thailand untuk menurunkan kasus infeksi HIV? Thailand
menjalankan program wajib memakai kondom 100 persen pada hubungan seks di
lingkungan industri seks, seperti lokalisasi pelacuran dan rumah bordir sejak
tahun 1989.
KONSUMSI KONDOM
Program itu memaksa laki-laki memakai kondom pada hubungan seks yang berisiko,
yaitu hubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK). Kalau di awal program
pemakaian kondom secara nasional di Thailand hanya 14 persen, maka pada tahun
1992 meningkat menjadi 90 persen. Sedangkan di Indonesia diperkirakan ada 3,3
juta laki-laki yang menjadi pelanggan PSK, tapi hanya 1,3 persen dari mereka
yang memakai kondom pada saat melakukan hubungan seks dengan PSK.
Diperkirakan penggunaan kondom yang meningkat di Thailand mencegah lima juta
infeksi HIV baru. Kasus IMS (infeksi menular seksual, seperti GO, sifilis,
virus hepatitis B, klamidia, dll.) di Thailand juga turun berkat peningkatan
pemakaian kondom di industri seks dari 400.000 kasus/tahun menjadi di bawah
15.000 kasus/tahun sejak tahun 2000.
Kontrol ketaatan terhadap pemakaian kondom dilakukan melalui survailans tes IMS
rutin terhadap PSK. Jika ada PSK yang terdeteksi mengidap IMS maka itu
membuktikan ada laki-laki yang tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan
seks dengan PSK. Ada sanksi untuk pengelola lokalisasi atau rumah bordir mulai
dari peringatan sampai penutupan usaha.
Keengganan memakai kondom pada hubungan seks berisiko dapat dilihat dari kasus
infeksi HIV yang tinggi. Ini terjadi di Cina. Penelitian Durex (2003)
menunjukkan 70 persen laki-laki tidak memakai kondom pada hubungan seks
berisiko. Maka, jangan heran kalau kemudian kasus HIV/AIDS di Cina terbesar
kedua di Asia setelah India.
Sedangkan di Prancis hanya
sembilan persen laki-laki yang enggan memakai kondom. Sedangkan di Jepang 70
persen laki-laki memakai kondom sebagai alat kontrasepsi. Kebiasaan laki-laki di
Negeri Mata Hari Terbit ini pun membuat kasus HIV/AIDS di Negeri Sakura itu
kecil. Di Indonesia dari 50 juta peserta Keluarga Berencana (KB) hanya 0,9
persen yang menggunakan kondom. Maka, tidak mengherankan kalau kemudian kasus
infeksi HIV mulai banyak dideteksi di kalangan ibu-ibu rumah tangga.Fakta yang
menunjukkan penurunan risiko terinfeksi HIV melalui hubungan seks jika memakai
kondom mendorong banyak orang di beberapa negara untuk memakai kondom pada
hubungan seks berisiko.
Kesadaran ini meningkatkan penjualan kondom. Dengan penduduk 90 juta jiwa
Thailand menghabiskan 200 juta kondom/tahun (2,2 kondom per kapita/tahun),
sedangkan di Malaysia dengan jumlah penduduk 30 juta jiwa terjual 100 juta
kondom/tahun (3,3 kondom per kapita/tahun). Sedangkan di Indonesia dengan
jumlah penduduk 230 juta jiwa ’konsumsi’ kondom hanya 100 juta/tahun (0,43
konom per kapita/tahun). Program wajib kondom 100 persen itu kemudian
diterapkan pula oleh Kamboja, Vietnam, Cina, Myanmar, Filipina, Mongolia, dan
Republik Laos.
Mengapa tingkat pemakaian kondom untuk mencegah HIV dan alat kontrasepsi di
Indonesia sangat rendah? Selama ini ada mitos (angapan yang salah) yang
berkembang di masyarakat yang mengait-ngaitkan kondom dengan zina dan
pelacuran. Akibatnya, pasangan suami-istri enggan memakai kondom. Selain itu
ada pula mitos yang menyebutkan kondom berpori-pori. Kondom yang berpori-pori
adalah kondom yang terbuat dari usus binatang dan tidak dipasarkan di
Indonesia. Sedangkan kondom yang beredar di Indonesia terbuat dari getah lateks
sehingga tidak ada berpori-pori.
Ketika program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia mengedepankan kondom
sebagai salah satu alat mencegah penularan HIV mulailah muncul penolakan
besar-besaran dari berbagai kalangan. Protes keras kembali berkumandang ketika
kondom dipromosikan sebagai alat untuk mencegah penularan HIV pada hubungan
seks berisiko, dalam bahasa moral zina atau pelacuran. Target sosialisasi
kondom itu pas dan realistis. Tapi, karena selama ini masyarakat sudah dijejali
dengan informasi HIV/AIDS yang ngawur (dikait-kaitkan dengan norma, moral, dan
agama) sehingga yang dipahami masyarakat luas hanya mitos tentang HIV/AIDS.
Akibatnya, yang muncul justru protes terhadap promosi kondom sebagai alat untuk
mencegah penularan HIV.
LEDAKAN PENDUDUK
Promosi kondom itu pun ternyata diadopsi dari program nasional penanggulangan
HIV/AIDS Thailand. Dalam program penanggulangan AIDS yang komprehensif di
Thailand ternyata promosi kondom itu merupakan program terakhir. Thailand
menjalankan program penanggulangan terpadu yang dijalankan secara konsisten.
Dimulai dengan penyebarluasan informasi HIV/AIDS yang akurat melalui media
massa secara terus-menerus yang diikuti dengan program lain secara bersamaan.
Sedangkan di Indonesia program terakhir di Thailand itu dijadikan program utama
di saat masyarakat belum memahami cara-cara penanggulangan epidemi HIV secara
akurat. Penyebarluasan informasi HIV/AIDS yang akurat pun tidak dilakukan
secara konsisten melalui media massa. Begitu pula program lain juga dijalankan
secara parsial dan tidak terpadu.
Program-program penanggulangan HIV/AIDS yang dijalankan di Indonesia selalu
diwanti-wanti agar memperhatikan norma, budaya dan agama. Padahal, pencegahan
HIV merupakan fakta medis yang realistis yang tidak ada kaitannya secara
langsung dengan norma, budaya dan agama. Penularan HIV melalui hubungan seks
dapat terjadi di dalam atau di luar nikah jika salah satu HIV-positif dan
laki-laki tidak memakai kondom. Ini fakta. Tapi, karena selama ini informasi
tidak akurat maka yang diketahui masyarakat secara luas adalah HIV menular
melalui zina, pelacuran, ’jajan’, selingkuh, seks menyimpang, dan homoseksual
maka sosialisasi kondom pun dikhawatirkan akan mendorong orang untuk berzina,
melacur, ’jajan’, selingkuh, seks menyimpang, dan homoseksual.
Di Thailand sasaran program wajib kondom 100 persen sangat jelas yaitu
laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seks dengan PSK di lingkungan industri
seks. Nah, ketika program itu ’dijalankan’ di Indonesia, al. melalui peraturan
daerah (Perda), hasilnya tidak efektif karena sasarannya tidak jelas dan
mekanisme kontrolnya pun tidak akurat. Selain itu muncul pula gelombang
penolakan yang sangat kuat. Soalnya, di Indonesia tidak ada lokasi pelacuran
yang ’resmi’ sehingga orang beranggapan memasyaratkan kondom berarti ’menyuruh’
orang berzina atau melacur. Promosi kondom juga dianggap sebagai legalisasi
pelacuran.
Biar pun anggapan itu tidak benar karena laki-laki ‘hidung belang’ justru
enggan memakai kondom, tapi penolakan kian keras karena kondom dipromosikan
secara umum kepada masyarakat luas tanpa sasaran yang jelas. Begitu pula ketika
‘ATM Kondom’ mulai dioperasikan sebagai upaya mendekatkan alat pencegahan
kepada masyarakat muncul protes yang sangat keras dengan membawa-bawa moral dan
agama.
Ketika lokalisasi pelacuran ditutup di negeri ini muncullah anggapan yang
moralistik bahwa negeri ini bersih dari maksiat (baca: pelacuran, zina).
Padahal, secara empiris praktek pelacuran terus terjadi kapan saja (siang dan
malam) dan di mana saja (rumah, losmen, hotel, dll.). Kegiatan yang luput dari
perhatian inilah yang kemudian menjadi pemicu penyebaran HIV secara horizontal.
Salah satu bukti bahwa biar pun tidak ada lokalisasi pelacuran tapi tetap
terjadi praktek pelacuran dapat dilihat dari jumlah ibu-ibu rumah tangga yang
terdeteksi tertular HIV. Ini menunjukkan suami mereka melakukan hubungan seks
berisiko dengan pasangan seks mereka yang lain, seperti PSK atau selingkuhan.
Karena kondom merupakan alat yang berfungsi ganda yaitu sebagai alat
kontrasepsi dan mencegah penularan IMS dan HIV maka akan lebih baik kalau
program KB secara nasional mengedepankan kondom untuk kontrasepsi. Soalnya,
tanpa KB Indonesia akan mengalami ledakan jumlah penduduk, dikenal sebagai baby
booming. Tanpa KB jumlah penduduk di tahun 2015 mencapai 247,5 juta, tahun 2025
melonjak menjadi 273 juta. Jumlah penduduk yang besar ini akan berdampak
terhadap pengeluaran pemerintah untuk beras, pendidikan dasar, imunisasi,
kesehatan, dll. yang akan menyedot anggaran belanja negara. Pengeluaran negara
akan bertambah untuk membeli obat antiretroviral (ARV) jika banyak penduduk
yang tertular HIV.
Maka, dengan memakai kondom sebagai alat kontrasepsi angka kelahiran dapat
ditekan sekaligus juga mencegah penularan IMS dan HIV khusus bagi suami yang sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.(*penulis, koresponden khusus kesehatan SKH Swara Kita di Jakarta)
[Sumber: Harian “Swara Kita”, Manado,
Rabu, 25 November 2009]