02 Desember 2013

Selingkuh Tidak Menularkan HIV*


Oleh Syaiful W. Harahap

Saya sepakat dengan dr. Zubairi Djoerban perihal keikutsertaan public figure memasyarakatkan masalah HIV/AIDS karena lebih menarik daripada hanya mendengarkan ceramah dokter yang itu-itu juga.

Tetapi, jika informasi yang disampaikan public figure tidak objektif maka dampaknya pun akan sangat besar karena mereka akan lebih percaya kepada bintang pujaannya. Akibatnya, upaya untuk meningkatkan kepedulian agar setiap orang melindungi dirinya secara aktif agar tidak tertular HIV akan gagal total. Yang berkembang justru mitos (anggapan yang keliru).

Itulah yang terjadi pada acara Redaktur Hebooh yang disiarkan ANTEVE (21/4-2000). Nurul 'Ratu AIDS' Arifin mengatakan selingkuh sebagai salah satu faktor risiko penularan HIV. Ini tidak objektif karena penularan HIV melalui faktor risiko hubungan seks bukan karena sifat hubungan seksnya, tetapi kondisinya. Artinya, penularan bisa terjadi jika salah satu dari pasangan itu sudah positif HIV dan hubungan seks dilakukan tanpa kondom. Jadi, apa pun nama dan sifat hubungan seks yang dilakukan, zina, selingkuh, melacur, di luar nikah, atau pranikah tidak akan terjadi penularan jika pasangan itu negatif HIV.

Saya khawatir yang kawin cerai dalam ikatan nikah akan lengah karena hal itu tidak selingkuh. Padahal, kawin cerai merupakan salah satu perilaku berisiko tinggi terinfeksi HIV karena berganti-ganti pasangan. Sebelum A menikah dengan B keduanya juga sudah mempunyai pasangan. A pernah menikah dengan C dan B pun menikah dengan D. Kemungkinan C dan D juga sebelumnya sudah mempunyai pasangan. Begitu seterusnya. Dalam kondisi ini biar pun setia tetap merupakan perilaku berisiko tinggi.

Sebagai wartawan saya sangat menyayangkan cara-cara wawancara yang sangat vulgar, maaf, kampungan, yang ditampilkan dalam acara itu. Misalnya, ada yang mengatakan AIDS sebagai Akibat Itunya Dipakai Sembarangan. Masya Allah. Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang terinfeksi melalui transfusi darah atau jarum suntik serta istri-istri yang terinfeksi dari suaminya atau bayi yang terinfeksi dari ibu yang mengandungnya? Astagafirullah.

Pernyataan itu tidak etis karena melukai hati banyak orang. Lagi pula dalam sifat dan kondisi apapun 'itunya' dipakai: zina, selingkuh, melacur, seks oral atau anal kalau pasangan itu negatif HIV tidak akan terjadi penularan HIV. Inilah faktanya!***

* Dimuat di Newsletter “HindarAIDS” No. 46, 5 Juni 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.