26 Desember 2013

Nasib Mereka yang Tertular Virus HIV*


Darah putrinya baru diambil agi hari oleh dokter puskesmas untuk diperiksa di laboratorium, tapi sore harinya sudah ada berita di koran tentang penyakit anaknya itu.

Itulah yang membuat keluarga Kartam, penduduk Cibuaya, Kab Karawang, Jabar, pusing tujuh keliling.

Pengambilan darah itu pun menurut petugas yang datang ke rumahnya karena putrinya baru pulang dari seberang (maksudnya Prov Riau, khusunya Riau Keplauan).

Tampaknya, pengambilan darah itu sendiri bertolak dari pemberitaan beberapa koran yang terbit hari itu tentang pemulangan tiga wanita asal Karawang oleh Pemda Prov Riau. Ketiga wanita itu dinyatakan seropositif (tertular virus HIV/AIDS) berdasarkan pemeriksaan terhadap wanita-wanita berisiko tinggi yang bekerja di kawasan Riau Kepualuan.

Pemberitaan di koran itu pulalah yang menjadi awal melapetaka yang tidak berkesudahan yang dialami keluarganya sampai hari ini. Rupanya, dalam berita tersebut disebutkan Mh, 21 tahun, putri sulung Kartam, mengidap virus HIV/AIDS.

Mh dan dua penduduk Karawang lainnya (Am penduduk Desa Jorang Mekarpohaci, Kec Tempuran, dan NY penduduk Kp Keceot, Tanjungpura) divonis seropositif setelah diperiksa Dinas Kesehatan Riau sekitar Agustus 1993.

Dinas Kesehatan Riau memeriksa wanita-wanita berisiko tinggi (pelacur dan wanita-wanita penghibur), tapi kepada “Mutiara” Mh bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Romlah, tetangganya di Cibuaya, di Tanjung Batu, Kab Riau Kepulauan, Prov Riau.

Hari-hari berikutnya silih berganti yang dating ke rumahnya, semuanya mencibir dan mencaci-maki. “Jangan dekat-dekat nanti nepa (tertular-Red.),” kata penduduk di sana kepada anak-anaknya yang lewat di depan rumah Mh.

Tidak sedikit pula orang lewat di depan rumahnya hanya untuk melihat mereka dari dekat dan mencibir. Aparat-aparat dari berbagai instansi menuding putrinya membikin malu daerah, anak-anak muda mencercanya sebagai penyebar maut.

Bahkan, seorang polisi dengan berkacak pinggang di depan rumah Kartam memaki-maki Mh: “Kami datang ke sini hanya menularkan penyakit.”

Rupanya, Pak Polisi tadi menuduh Mh sebagai pelacur. Ini pulalah yang membuat Kartam naik pitam, tapi ia hanya mengurut dada. “Kalau ketika itu saya tidak sakit akan saya lawan biar pun dia polisi karena menuduh anak saya pelacur,” kata Kartam dengan terbata-bata menahan tangis.

Tetanggannya tahu persis Mh tidak pernah ke luar rumah sejak dipulangkan dari Riau. Apalagi setelah diberitakan koran dan televisi Mh praktis tidak pernah jauh-jauh dari rumahnya. Hanya beberapa tetangganya yang mau menerimanya bertamu, yang lain menolaknya. “Tidak ada lagi yang mau ampreng-ampreng (bertamu-Red.) ke rumah kami,” kata Mh dengan nada sedih.

Sejak pengambilan darah itu orang-orang pun menjauh. Ketika pengmbilan darah itu pun rupanya banyak orang yang datang ke rumah Kartam bersama petugas puskesmas.

Penduduk mengatakan kalau bersentuhan saja penyakitnya akan menular sehingga tidak ada yang mau dekat-dekat denan Mh dan keluarganya. Tetangganya mencibir dan tidak ada yang mau bergaul lagi. “Tidak ada lagi yang mau membeli telur asin dagangan saya,” kata Bu Tarmen, ibu Mh, sambil mengusap air matanya.

Padahal, dagangan telur itulah salah satu mata pencaharian keluarga ini. Bukan hanya itu. Penduduk kampung itu pun tidak ada lagi yang mau menerima Kartam mengerjakan sawah-sawah mereka.

Bukan cuma bekerja. Pemuda-pemuda di sana pun tidak ada lagi yang mau bergaul dengan Mh. Padahal, sebagai orang tua Kartam dan Tarmen sudah merencanakan akan menikahkan putrinya. “Tidak ada pemuda yang mau mengawini anak saya,” kata Tarmen dengan terisak-isak.

Celakanya, di tempat barunya pun (Kartam dan keluarganya pindah dari desanya ke desa lain di lain kacamatan-Pen.) orang sudah mengetahui perihal Mh. Semula ada seorang pemuda yang sudah mengajaknya menikah, tapi rupanya ada teman sekampung Mh yang membisiki pemuda itu. “Sampai sekarang dia tidak pernah datang lagi,” kata Mh dengan mata berkaca-kaca di rumah petak berdinding gedeg berlantai tanah yang diberikan majikan tempat mereka bekerja di sebuah lio (pembuatan batu bata sekitar 30 km dari Cibuaya-pen.).

Kartam dan keluarganya sampai sekarang tidak mempercayai anaknya mengidap virus HIV/AIDS. “Anak saya sehat, gemuk, tidak pernah mengeluh pusing-pusing kalau sedang bekerja,” kata Kartam dengan nada yakin.

Bahkan, keterangan seorang wartawati sebuah tabloid di Jakarta juga membesarkan hatinya (maksudnya Kartam-pen.), yang mengatakan bahwa putrinya tidak mungkin seropositif karena kelihatan sehat-sehat saja.

Keyakinan Kartam semakin kuat lagi ketika mereka ditolak berobat di RSU Karawang beberapa hari setelah petugas puskesmas mengambil darah anaknya. “Orang sehat, koq, mau diperiksa,” kata petugas di RSU Karawang kepada Kartam dan Mh.

Memang di Indonesia tidak sedikit orang yang masih rancu tentang HIV/AIDS. Ikhwal tentang virus ini masih simpang-siur. Lihatlah penjelasan wartawati tadi yang menjadi anggapan umum di Indonesia.

Tampaknya, banyak orang yang menganggap bahwa pengidap virus HIV/AIDS harus terlentang di tempat tidur atau di rumah sakit. Padahal, gejala penularan virus itu baru bisa diamati secara fisik setelah 7-10 tahun sejak ditanyakan seropositif.

Begitu pula dengan pemeriksaan, aparat kesehatan di daerah, seperti Puskesmas Tempauran, Kab Karawang, Jabar, tidak menghargai Am, salah seorang yang divonis di Riau seropositif, agar darahnya diperiksa di RSCM Jakarta (Lihat: Duka Lara Seorang Wanita yang Divonis Mengidap HIV - http://www.aidsindonesia.com/2013/12/duka-lara-seorang-wanita-yang-divonis.html).

Am dinyatakan seropositif tapi tetap menolak karena darahnya diperiksa di puskesmas. Pendapat Am ini beralasan karena pacarnya, seorang pengusaha di Singapura, mengangap bahwa yang namanya rumah sakit, ya, rumah sakit umum semacam RSCM. Pola pikirnya (maksunya pacar Am-pen.) tentu mengikuti Singapura yang mungkin tidak memiliki puskesmas. Sayang, Puskesmas Tempuran menolaknya. Karena merasa dirinya negatif Am pun sekarang bekerja di sebuah warung nasi di Bekasi.

Tetanggan Mh pun mengatakan bahwa umurnya tinggal dua tahun lagi ketika berita tentang dirinya tersebar luas di beberapa koran dan siaran televisi di “RCTI”. Bahkan, ada tetangganya yang berani bertaruh akan memberikan hadiah kepada Mh kalau bertahan hidup lebih dari dua tahun. “Sekarang sudah empat Lebaran anak saya tetap sehat,” kata Bu Tarmen masih denga mata yang berkaca-kaca.

Yang paling menyakitkan Tarmen adalah ketika berita yang menyebutkan bahwa keluarganya tergolong berada. Memiliki sawah dan rumah bagus. Apalagi berita menggambarkan seolah-olah rumah dan sawah mereka itu merupakan hasil jerih payah Mh selama di Riau. “Ya, ampun, rumah kami di sana (maksudnya di Cibuaya-pen.) cuma rumah gedeg berlantai tanah. Itu pun rumah kakak saya,” kata Tarmen masih dengan terisak-isak.

Sebagai buruh tani Kartam harus menghidupi istri dan emam anaknya. Mh sendiri hanya bekerja di rumah Romal selama delapan bulan.

Berbulan-bulan mereka menghadapi cercaan. Akhirnya, Kartam semakin terpuruk dan tidak bisa lagi menghadapinya. Merek apun sepakat utuk mengizinkan Mh bekerja di Arab Saudi. Melalui PT Sapta Saguna, sebeuah perusahaan pengerah tenaga kerja di Jakarta Timur, Mh berangkat ke Arab.

Keberangkatan Mh itu pulalah yang semakmin membingungkan Kartam karena pemerisaan keseahatan calon TKI ke Arab khususnya dan ke luar negeri umumnya sangat ketat. “Yang rematik saja tidak lolos,” kata Mh sambil menyebut beberapa temannnya yang tidak bisa ikut karena berbagai penyakt “biasa”, seperti darah tinggi, penyakit jantung, dll.

Lebih mengherankan lagi bagi Mh karena ia menilai pemerisaan darah di Tanjung Batu, Kab Riau Kepualuan, Prov Riau, sangatr janggal karena yang menyuruhnya berobat ke rumah sakit, Muchtar, seorang petugas keamanan di sana, tapi yang menyebutkan hasilnya justru orang yang tidak dikenalnya. “Saya baru bertemu orang itu hari itu,” kata Mh tentang laki-laki tegap tinggi berkulit hitam yang menyebutnya positif mengidap virus HIV/ADS.

Muchtar menyuruhkan ke rumah sakit seminggu setelah darahnya diambil. Di rumah sakit Mh bertemu dengan Dokter Eka. Karena dinyatakan berpenyakit Mh pun bersikeras pulang ke kampugnya. Tapi ketika itu Dokter Eka melarangnya pulang dan memintanya tetap di Tanjung Batu.

Cuma, karena penasaran ia tetap bersikeras pulang ke kampungnya. “Untuk memeriksakan kesehatan,” katanya kepada “Mutiara”. Sampai sekarang pun Mh tidak pernah menerima surat resmi dari aparat terkait tentang dirinya. Kartam berhadap agar penjelasan tentang anaknya langsung diterimanya dari pejabat yang berkaitan. Tapi, sampai hari ini tidak ada keterangan resmi deterimanya tentang anaknya.

Cercaan pulalah yang akhirnya memaksanya dan keluarganya pidah dari Cibuaya ke salah satu kota di Jawa Barat untuk mencari sesuap nasi. Kartam pindah sejak enam bulan yang lalu.

Kartam meninggalkan utang sekitar Rp 500.000 kepada beberapa orang di kampugnnya dan di kampung istrinya di Indramayu, masih di Jabar. Itu, semula Rp 600.000, mereka pakai untuk keperluan mengurus keberangkatan Mh ke Arab sebagai TKI.

Mh sendiri Cuma enam bulan di Arab sehingga uang yang dibawanya, sekitar Rp 500.000, tidak cukup untuk membayar utang. Utang kian banyak karena uang itu dipakai juga untuk menyambung hidup karena Kartam dan istrinya tiak bisa bekerja lagi di kampungnya.

Seorang pemuda yang bekerja sebagai anak buah kapal atau pelaut, sebut saja Andi, berumur 30-an tahun, mengakut tidak mempunyai orang tua dan sanak saudara lagi, karena orang tuanya telah memutuskan hubungan dengannya sejak ia mengaku bahwa dirinya telah tertular virus HIV/AIDS. Hal itu diketahuinya ketika ia menerima kiriman sebuah surat kabar yang memuat iklan pemutusan hubungan itu. Andi masih beruntung karena dalam iklan itu tidak disebutkan alasan pemutusan hubungan tsb. karena tertular HIV/AIDS.

Rupanya, orang tua dan adik-adik Andi marah besar ketika mereka menerima kabar itu. Bahkan, ayahnya seakan-akan menyesali diri mengapa dulu ia memasukkan anaknya ke AIP (Akadimi Ilmu Pelayaran) Jakarta. ”Akibatnya kamu sekarang terkena penyakit kutukan setan itu karena berlayar keliling dunia dengan kapal asing,” kata Andi menirukan bentakan ayahnya.

Andi sendiri mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV/AIDS ketika diadakan pemeriksaan darah rutin di rumah sakit perusahaannya di Singapura. Andi pun mengaku ketika pertama kali ia menerima kabar tentang dirinya ia marah besar. Semua barang-barang di kapal dibuangnya. Hanya satu stel pakaian dan baju kerja di kamar mesin yang disisakannya. Teman-temannya berusaha mengorek alsannya mengapa ia depresi, tapi ia menutupinya karena takut dikucilkan teman-temannya.

Tapi, kini Andi mengaku sudah bisa menerima kenyataan. Ini berkat konseling yang diterimanya di sebuah klinik AIDS di Singapura. Ia selalu menyemapatkan diri ke sana jiak sedang berlabuh di ’Kota Singa’ itu. ”Yah, kalau kondisi saya kuat virus HIV/AIDS itu baru memasuki stadium AIDS 10 atau 15 tahun yang akan datang,” katanya dengan nada yakin.

Sekarang Andi sudah menyisishkan sebagian penghasilannya (gaji bersih yang diterimanya 1.500 dolar AS/bulan) untuk menyumbang sebuah gereja di Indonesia bagian Timur  yang juga mempunyai rumah penampungan orang-orang jompo dan sakit. Rupanya, Andi membayangkan bawah kelak dia akan menjadi salah seorang penghuninya.

Andi merasa ia tertular virus HIV/AIDS antara Indonesia dan Muangthai. “Waktu itu saya lagi getol-getolnya plesiran di Bangkok menikmati gadis-gadis yang cantik dan seksi-seksi,” kata Andi dengan nada parau. Sekarang ia semakin percaya diri karena ia menganggap dirinya sama saja dengan orang yang mengidap kanker ganas yang juga tidak bisa sambuh total.

Seorang ayah di Jakarta, sebut saja Pak Ahmad, mengaku kini sering bertengkar dan saling menyalahkan dengan istrinya sejak salah soerang anaknya dinyatakan seropositif.

“Rasanya seperti mimpi buruk, selalu membayangi pikiran saya di mana saja saya berada,” kata Ahmad seakan menyesali dirinya. Sekarang Ahmad berusaha menutupinya agar tidak diketaui sanak famili, rekan-rekan anaknya, dan relasi bisnisnya.

Anaknya  itu pun sudah dipindahkannya ke sebuah kota hidup dalam suasana pertapaan untuk menjauhkan anaknya dari pergaulan dunia ramai. Sekali sebulan mereka menjenguknya.

Sedangkan Andi, karena tidak mempunyai orang tua dan sanak saudara lagi setiap kali cuti hanya menghabiskan waktunya di Jakarta. Padahal, biasanya ia selalu terbang ke bagian Timur Indonesia menjumpai orang tua dan sanak familinya.

- M/Syaiful W. Harahap (Karawang) dan Gustaf P (Jakarta).

* Dimuat di Tabloid “Mutiara” Edisi 28 Maret-3 April 1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.