05 Desember 2013

Laki-laki Pelaku “Seks Bebas“ Justru Tidak Mau Pakai Kondom


 * Alasan yang masuk akal: sudah bayar ratusan ribu rupiah  koq penis dibungkus ....

Opini (6 Desember 2013) – Ketika banyak negara di dunia menggalang kekuatan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia justru larut dalam ’debat kusir’ tentang kondom.

’Debat kusir’ sejak sepekan sebelum ”Hari AIDS Sedunia” (HAS) 1 Desember 2013 sampai hari ini (6/12-2013). Media cetak, media elektronik, dan media online diramaikan dengan berita seputar kontroversi kondom.

Ibu-ibu Rumah Tangga

Kontroversi itu terjadi justru berawal dari pemerintah yang selalu menyebutkan bahwa penularan HIV/AIDS karena ’seks bebas’ dan ’seks tidak sehat’. Di masyarakat ’seks bebas’ pun dikesankan sebagai hubungan seksual di luar nikah, tapi yang terkait dengan pelacuran.

Celakanya, hubungan seksual di luar nikah, seperti seks pranikah, perselingkuhan, ’kumpul kebo’, kawin kontrak, dll., yang tidak terkait dengan pelacuran tidak disebut sebagai ”seks bebas”.

”Seks Bebas” adalah terminologi yang ngawur karena merupakan terjemahan bebas dari free sex yang justru tidak ada dalam kosa kata bahasa Inggris. Tidak ada laman free sex dalam kamus-kamus bahasa Inggris.

Akibatnya, setengah orang pun mengait-ngaitkan kondom dengan ”seks bebas”. Padahal, ada fakta yang luput dari perhatian yaitu laki-laki ’hidung belang’ justru tidak mau memakai kondom ketika melakukan ”seks bebas”.

Laki-laki ’hidung belang’ tidak mau memakai kondom ketika melacur dengan berbagai alasan. Memang, adalah tidak masuk akal seorang laki-laki yang sudah membayar ratusan ribu rupiah untuk sekali hubungan seksual tapi penisnya dibalut.

Mengait-ngaitkan kondom dengan ”seks bebas” adalah asumsi belaka. Faktanya, laki-laki justru tidak mau memakai kondom ketika melakukan ”seks bebas”.

Untuk membuktikan bahwa laki-laki yang melakukan ”seks bebas” tidak mau memakai kondom adalah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Data menunjukkan kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga mendekati angka 5.000.

Secara logika kalau suami-suami yang melakukan ”seks bebas” memakai kondom, maka risiko mereka tertular HIV sangat kecil sehingga jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS pun sedikit.

Jika asumsi yang berkembang di masyarakat yang mengatakan bahwa penyebab AIDS adalah ”seks bebas”, maka analoginya adalah: semua orang yang pernah melakukan ”seks bebas” sudah mengidap HIV/AIDS (Lihat Gambar 1).

Mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS yaitu pelaku ”seks bebas” yang sudah pernah atau sering melakukan zina, melacur, seks pranikah, selingkuh, ‘kumpul kebo’, ‘jajan’, dan ‘esek-esek’. ’Esesk-esek adalah eufemisme pelacuran.


Nikah Mut’ah

Jika penularan HIV/AIDS disimak dengan objektif dengan pijakan fakta medis, maka seorang laki-laki yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS ada enam perilaku atau kegiatan yang memungkinkan penularan HIV terjadi (Lihat Gambar 2).

Hal yang sama juga pada perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS ada empat perilaku atau kegiatan yang memungkinkan penularan HIV terjadi (Lihat Gambar 3).

Mengait-ngaitkan ”seks bebas” dengan penularan  HIV merupakan mitos (anggapan yang salah). Dalam matriks di bawah ini bisa dilihat bahwa risiko penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap kali sanggama), bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, dll.).

Dulu ada organisasi mahasiswa berbasis agama yang menganjurkan dilakukan nikah mut’ah (pernikahan singkat) di lokalisasi pelacuran. Ini menunjukkan pemahaman yang jungkir balik. Biar pun hubungan seksual dengan pelacur sah karena di dalam nikah, tapi risiko penularan HIV/AIDS tetap ada kalau ’suami’ tidak memakai kondom.

Yang bisa dilakukan secara realistis bukan menghentikan penyebaran HIV/AIDS, tapi menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui pelacuran.

Orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Selama masih ada pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi, maka selama itu pula terjadi penyebaran HIV di masyarakat yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.