26 Desember 2013

Duka Lara Seorang Wanita yang Divonis Mengidap HIV*


“Wah, mungkin jantung saya sudah copot kalau saya lemah jantung,” kata Am, 21 tahun, seorang janda yang sudah dinyatakan positif mengidap HIV (human immunodeficiency virus) atau virus penyebab AIDS (Aqcuired Immuno Deficiency Syndrome atau penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh) di sebuah desa di Kab Karawang, Jabar.

Rupanya, namanya termasuk sebagai salah satu dari tiga wanita penghibur asal Jabar yang dipulangkan dari Kepulauan Riau, seperti dari Batam dan Tanjungpinang, ke kampong asalnya, dalam berita-berita di media cetak dan siaran televisi swasta nasional.

Begitu ia sampai di kampong halamannya pada Oktober 1993 orang-orang pun menghindarinya dan tidak sedikit pula yang mencibir dan melihatnya seperti makhluk asing. Keadaannya kian menyedihkan karena petugas dari berbagai instansi, mulai dari tingkat desa sampai provinsi pun mendatanginya silih berganti.

Makanya, ketika Mutiara bertandang ke rumahnya pekan lalu, ia pun sedikit marah. “Saya mau tau siapa, sih, yang membikin ini,” katanya seraya memperlihatkan berita yang dimuat sebuah harian terkemukan Ibukota. Waktu pemberitaan sedang ramai-ramainya ia sendiri masih di Tanjungpinang, ia kecewa terhadap berita-berita itu.

“Tahu sendirilah apa yang saya kerjakan di sana,” katanya sambil mengedip-ngedipkan mata. Memang, dalam berita itu disebutkan bahwa rumahnya di desa itu dibangun berkat kiriman uangnya. Dan, sumber berita itu tidak lain adalah kakek dan neneknya, karena menurut pengakuannya ketika itu dia belum pulang dari Tanjungpinang. Di gang itu memang cuma rumahnya yang berlantai semen dan memilik televisi hitam putih 14 inci dan sebuah radio serta satu compo yang semuanya dihidupkan dengan aki.

Anak Meninggal

Kesedihannya kian memuncak karena ketika sampai di kampungnya ia tidak lagi bisa berjumpa dengan anaknya karena anaknya meninggal ketika ia masih di Tanjungpinang. Dan, orang-orang sekampung pun memilih untuk tidak berdekatan dengannya. Tapi, belakangan berkat penyuluhan yang dilakukan oleh aparat desa mereka telah dapat menerima Am. Mereka tidak lagi takut-takut menonton televisi di rumahnya, atau memakan dan meminum suguhannya.

Tetangganya pun dengan ramah akan menunjukkan rumahnya kalau mereka ditanya. “Masuk aja, Pak,” kata seorang ibu di depan rumahnya ketika Mutiara bertandang ke sana. Ketika itu Am tidak sedang di rumah, lalu disusul oleh kakeknya.

“Oo, mau ke rumah Am,” kata seorang lelaki yang sedang duduk berselonjor sambil mendengarkan dongeng dari radio di depan rumahnya di mulut gang menuju rumah Am.

“Dalam berbagai kesempatan kami selalu menyelipkan masalah HIV,” kata Sukarsana, sekretaris Desa Mekarpohaci, Kec Tempuran, Kab Karawang, kepada Mutiara. Berkat penyuluhan itu masyarakat tahu betul seluk-beluk HIV/AIDS sehingga mereka tidak lagi memusuhi Am. Inilah yang menghibur Am.

Saya ‘kan sehat-sehat saja,” ujarnya. Dalam hal ini ada perbedaan persepsi yang serius. Bagi orang awam, sakit berarti jatuh sakit. (semacam demam) dan dirawat di rumah sakit. Sedangkan orang yang tertular virus HIV atau mengisap AIDS tidak harus tergeletak di tempat tidur atau diopname di rumah sakit.

Diawasi

Kabarnya, berbagai pihak terus-menerus tindak-tanduk Am. “Ah, nggak ada, saya bebas ke mana-mana,” kata wanita yang hanya sempat mengecap bangku kelas 2 SD ini. Sekitar 5 km dari rumahnya memang ada lokalisasi pelacuran. Kalau memang penyakit itu ada, ia mengatakan sudah nasib, dan ia berjanji akan menjaga diri agar tidak tertular kepada orang lain. Kalau penduduk sudah mengetahui seluk-beluk HIV/AIDS tentulah tidak perlu mengucilkan atau memusihi Am, karena semuanya terpulang kepada orang lain.

Padahal, salah satu alasan mengapa ia mau diajak oleh seorang wanita dari Cibodas, Cikampung, Kab Karawang, ke Tanjungpinang adalah mencari uang untuk menghidupi anaknya. Ketika itu suaminya meninggalkannya dan ia mengaku sangat bingung. Ia tinggal bersama ibunya, juga seorang janda, kakek dan neneknya (neneknya buta). Karena tawaran wanita itu menggiurkan, yang menyebutkan ia akan dipekerjakan di restoran dengan upah Rp 400.000/bulan, ia pun mengaku sangat tertarik.

Am pun berangkat bersama sembilan rekaannya, semuanya dari Kab Karawang ke Tanjungpinang dengan KM Lawit dari Tanjung Priok.

“Malam pertama menerima tamu saya nangis habis-habisan,” katanya sambil mengenang pengalaman pertamanya. Rupanya, di sana mereka dijadikan pelacur, bukan bekerja sebagai pelayan di restoran seperti yang dijanjikan wanita dari Cibodas itu.

Ia tidak bisa menolak lelaki yang disodorkan kepada karena sebelum berangkat wanita tadi, yang kemudian menjadi germonya di Tanjungpinang, memberikan uang Rp 50.000 kepada ibunya sebagai biaya perawatan anaknya yang ketika itu berumur 18 bulan. Itu berupa pinjaman yang bunganya akan berbunga pula.

Mereka ditempatkan di sebuah lokalisasi yang dihuni ratusan pelacur di Batu 16. Beberapa bulan kemudia mereka dipindahkan ke Batu 24. Am ditempatkan di ruman 17 bersama 12 wanita lainnya.

“Kami tidak bisa ke mana-mana, semuanya diawasi dan kompleks itu dijaga ketat,” ujar Am menggambarkan kehidupannya di tanah rantau itu. Agaknya, di rumah itu ia menjadi primadonanya. Setiap malam ia selalu dipesan dan dibawa ke hotel untuk bermalam dengan si hidung belang, yang umumnya warga negara Singapura.

Masa Kelabu

Salah seorang dari langganannya itu kemudian menaruh hati kepadanya. Pria Cina warga negara Singpura itu pun memacarinya dan menebusnya dari germo dengan imbalan Rp 1 juta. Am kemudian diboyong lelaki lajang berumur 60 tahun itu ke rumah 14 di Batu 16.

Di sinilah berawal masa kelabu baginya pada bulan September 1993. Suatu hari petugas kesehatan (mereka memanggilnya “Pak Dokter”) yang biasa bertugas di lokalisasi itu mengumpulkan penghuni rumah 14. “Di rumah ini ada yang sakit,” kata “Pak Dokter”, seperti ditirukan Am. Memang, beberapa minggu sebelumnya darah mereka diambil untuk diperiksa.

Semuanya diam dan saling berpandangan. Tiba-tiba beberapa orang buka suara dan menuding Am yang sakit. “Dia, Pak, dia ‘kan yang sering ke hotel,” kata mereka. Tampaknya, mereka sudah mengetahui sakit yang dimaksudkan petugas kesehatan tadi karena berkaitan dengan pemeriksaan darah dan kaitannya tentu saja dengan lekaki asing.

Memang, rata-rata tamu Am berasal dari Singapura, dan pernah juga lelaki bule. Menurut pengakuan Am ia selalu meminta teman kencannya memakai kondom, walaupun ada juga yang menolak. Menghadapi hal ini Am tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa mengikuti selera teman kencannya. Vonis pun jatuh kepada Am dan ia kemudian disekap di pos keamanan lokalisasi itu.

“Ah, ‘Pak Dokter’ itu dendam kepada saya,” kata Am. Rupanya, Am selalu menolak  ajakan petugas kesehatan itu untuk bermalam dengannya. Ia bukannya tidak mau duit, tapi menurut pengakuannya ia menghargai jabatan “Pak Dokter” karena ia sendiri hanya seorang pelacur. Lagi pula, masih menurut Am, petugas kesehatan itu sudah beristri dua.

Dipulangkan

Dua minggu lamanya ia disekap di positu sebelum diantar ke kapal KM Lawit dengan tujuan Tanjung Priok oleh seorang hansip yang biasa menjaga lokalisasi itu.

“Suami saya, sih, tidak percaya,” kata Am tentang pemeriksaan di Tanjungpinang itu yang menyebutkan bahwa ia sudah terinfeksi virus HIV. Suami yang dimaksudkan Am adalah lelaki yang menebusnya itu yang katanya sudah menikahinya di rumahnya Lebaran yang lalu. “Ah, cuma sebagai gendak saja,” kata seorang staf desa tentang perkawinan yang disebut Am.

Ketika dipulangkan Am menerima uang Rp 500.000 dari germonya dan Rp 300.000 dari pacarnya. Uang yang dari germonya ini merupakan pinjaman yang harus dikembalikannya jika ia kebali beroperasi di Tanjungpinang.

“Kalau dihitung-hitung penghasilan saya sudah cukup besar,” katanya. Cuma, semua uang dipegang oleh gerno dan setiap bulan mereka hanya ditunjukkan catatan tentang pendapatan dan pengeluaran. Untuk makan mereka dikenakan biaya Rp 50.000 dan kamar Rp 300.000 per bulan. Belum lagi potongan untuk pembelian baju dan kosmetika. Tarif Am ketika itu sekitar Rp 120.000/malam.

“Saya hanya percaya kalau darah saya diperiksa di Cipto (maksudnya RSCM Jakarta-Red.),” katanya berulang-ulang kepada Mutiara. Darahnya sendiri diambil di Puskesmas Tempuran beberapa hari setelah ia tiba di rumahnya Oktober 1993. Kabarnya, di puskesmas itu pun ia menolak ketika hendak diambil darahnya karena ia hanya mau diperiksa di Cipto.

Tapi, karena petugas yang mengambil darahnya itu bahwa ia juga dari Cipto barulah Am mau memberikan darahnya untuk diperiksa. Kalau saja petugas yang akan mengambil darahnya itu sedikit lebih arif dan bijaksana tentulah keingingan Am dipenuhi agar ia mau menerima hasilnya kelak.

Cuma, sampai sekarang ia tidak menerima hasil pemeriksaan itu. Menurut staf desa pemberitahuan tentang hasil pemeriksaan itu memang tida diberikan kepadanya, tapi cukup ke kantor desa saja.  Menurut pengakuannya ia tidak pernah lagi diperiksa setelah darahnya diambil di Puskesmas Tempuran. Selain itu ia sangat yakin bahwa ia sehat sehingga tidak perlu berobat.

Kini, Am tinggal bersama kakek dan neneknya. “Tiap bulan suami saya ngirim Rp 300.000,” kata Am tentang biaya hidupnya. Uang itu dikirimkan melalui bank dan diambil di Karawang. Jika hubunganya putus dengan suaminya itu barulah ia memulai hidup baru. “Ya, cari suami lagi,” katanya dengan nada yakin.

- M/Syaiful W. Harahap

* Dimuat di Tabloid “Mutiara” Edisi No 709 Minggu IV Mei 1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.