07 Desember 2013

Bupati Kendal, Jateng, Diundang Tes HIV



Tanggapan Berita (7 Desember 2013) – Ini dua judul berita tentang tes HIV di Kab Kendal, Jateng: (1) ”Diundang Tes HIV/AIDS, Bupati Kendal Mangkir.” (kompas.com, 6/12-2013), dan (2) ”Bupati Kendal Mangkir dari Tes HIV/AIDS.” (tribunnews.com, 7/12-2013).

Dua judul berita itu sangat provokatif dan sensasional. Judul itu pun cenderung mendiskreditkan bupati.

Pertana, tes HIV adalah sukarela karena tidak ada UU yang mewajibkan setiap orang menjalani tes HIV.

Kedua, langkah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kab Kendal, Jawa Tengah, yang menggelar tes Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau uji HIV/AIDS adalah penangangan atau penanggulangan di hilir.

Ketiga, yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu agar tidak ada lagi penduduk Kendal yang tertular HIV.

Keempat, apakan ada program KPA Kab Kendal untuk menangani insiden infeksi HIV di hulu?

Disebutkan bawah tes VCT dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia untuk umum itu, diikuti oleh penjaja seks komersial (PSK) Alas Karet ( Alaska) Sukorejo, Gambilangu (GBL) Kaliwungu, pelajar, dan masyarakat umum.

Dalam berita disebutkan: Namun sayang, tidak ada satupun pejabat Pemkab Kendal yang ikut serta dalam test VCT tersebut.

Jika dikaitkan sasaran tes dengan perilaku berisiko, maka KPA Kab Kendal sudah menyamaratakan perilaku semua pejabat Pemkab Kendal yaitu mereka berisiko melalui kegiatan dengan PSK.

Menurut Manager Kasus HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kendal, Agus Purwanto,  jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Kab Kendal pada kurun waktu tahun 2000-2013 mencapai 334. Mayoritas pengidap HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga. Kasus pada bayi pun sudah ada yang terdeteksi.

Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga menunjukkan suami mereka mengidap HIV/AIDS yang tertular al. melalui ’jajan’ dengan PSK.

Pertanyaan untuk KPA Kab Kendal: Apa program yang konret dijalankan di tempat pelacuran untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki?

Kalau tidak ada, maka penyebaran HIV/AIDS yang dilakukan oleh laki-laki pelanggan PSK akan terus terjadi.

Seorang PSK yang ‘praktek’ di “Alaska” asal Temanggung, Sophie, 22 tahun, mengaku rutin setiap tiga bulan melakukan test HIV. 

Sophie tidak paham kalau dia tes dan terdeteksi mengidap HIV/AIDS, maka itu artinya sudah banyak laki-laki yang tertular HIV dari Sophie, sebagian di antaranya adalah suami.

Yang perlu dilakukan oleh Sophie dkk. adalah tidak melayani laki-laki yang tidak memakai konom untuk melakukan hubungan seksual.

Tentu saja Sophie dkk. harus didukung dengan regulasi yang diterbitkan Pemkab Kendal.

Lalu, apakah ada regulasi yang konkret dijalankan Pemkab Kendal di lokalisasi pelacuran yang ada di Kab Kendal?

Tentu saja tidak ada!

Maka, jumlah ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang mengidap HIV/AIDS akan terus bertambah yang pada gilirannya kelak akan sampai pada ‘ledakan AIDS’ di Kab Kendal.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.