01 Desember 2013

AIDS Kutukan Allah?*


Surat Terbuka untuk Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes (Bagian I)

Oleh Syaiful W. Harahap

"Minggir, minggir. Ke sana, kamu." Itulah bentakan seorang wanita kepada saya ketika menumpang bus Patas AC 119 Cimone-Kp. Melayu (26 September 2000, sekitar pukul 18.30) di perempatan Pancoran, Jakarta Selatan. Wanita yang memakai baju kurung dan kerudung itu rupanya hendak turun. Ketika itu saya dan beberapa penumpang berdiri di gang antara tempat duduk. Yang lain dilewatinya. Tetapi, ketika mendekati saya dia pun mengacung-acungkan telunjuknya sambil menghardik saya agar menjauh dari gang. "Kamu ke sana," katanya sambil mengisyaratkan dengan tangan kirinya agar saya bergeser ke bagian yang kosong di dekat pintu depan yang jaraknya dari saya tiga jejer tempat duduk. Ketika saya persilahkan lewat dia pun berusaha menghindari gesekan dengan saya.

Semula hal itu tidak menjadi pikiran bagi saya. Saya menduga dia menghindarkan gesekan agar air wuduknya tidak batal. Tetapi, ketika melewati beberapa penumpang yang mengapa dia tidak menghindarkan gesekan?

Pertanyaan itu mulai menggelayut di benak saya. Selesai salat Isya saya merenungkan peristiwa itu. Astagafirullah. Rupanya dia melihat pin pita merah di kerah kiri baju saya. Wanita yang menunjukkan identitas agamanya itu sudah menghukum saya sebagai orang yang tidak pantas tersentuh walaupun dalam kendaraan umum. Agaknya, wanita itu sudah menganggap saya sebagai seorang Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Tetapi, mengapa dia bersusah payah menghindarkan gesekan dengan saya? Soalnya, HIV tidak menular melalui gesekan badan yang dibalut pakaian.

Di saat informasi seputar HIV/AIDS yang akurat dan objektif sudah banjir, kok masih ada yang salah kaprah terhadap Odha? Inilah pertanyaan yang terus-menurus muncul dalam benak saya. Apalagi wanita tadi, jika dilihat dari penampilannya yang berpendidikan dan naik bus PATAS AC yang bertarif Rp 2.500, tentu dia bukan orang yang buta informasi. Tetapi, mengapa sikap dan perilakunya tidak mencerminkan atribut pakaiannya?

Pertanyaan itu terus menghantui saya. Alhamdulillah. Saya menemukan jawabannya dalam buku Pedoman Penyuluhan AIDS Menurut Agama Islam yang diterbitkan Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan (Cetakan III 1996/1997). Sikap sebagian besar umat Islam terhadap HIV/AIDS rupanya dipicu pernyataan yang saya temukan dalam buku itu (halaman 24): " .... musibah yang menimpa manusia, termasuk penyakit AIDS yang sekarang diderita banyak orang, ada dua kemungkinan. Pertama, sebagai adzab dan kutukan Allah atas manusia karena perbuatan dosanya." Masya Allah.

Mengapa hanya AIDS yang dikait-kaitkan dengan adzab dan kutukan Tuhan? Mengapa penyakit lain yang juga tertular melalui perilaku yang berisiko tinggi (antara lain melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti baik di dalam maupun di luar nikah), seperti sifilis, kencing nanah dan hepatitis B tidak dikait-kaitkan dengan adzab dan kutukan Tuhan?

Sebagai seorang muslim saya sangat kecewa terhadap kesimpulan yang mengaitkan AIDS dengan kutukan Tuhan. Apalagi setelah saya temukan pernyataan lain di halaman 29: "Ada pendapat yang menyatakan bahwa penderita AIDS yang disebabkan Virus AIDS atau HIV, adalah akibat penyimpangan seksual, hasil hubungan homoseks." Karena buku ini dimaksukan sebagai buku pegangan dan dalam kata pengantar buku itu antara lain disebutkan: "Besarnya potensi penyuluh agama Islam didalam (sic) rangka penyebarluasan informasi tentang HIV/AIDS akan memberikan percepatan serta dampak yang cukup besar didalam (sic) penanggulangan HIV/AIDS" tentulah tidak pada tempatnya kalau dimuat penyataan yang tidak rasional, bahkan cenderung mengelabui dan menyesatkan. Apalagi kalau penulisan buku itu sendiri bertolak dari agama Islam tentulah semuanya harus rasional karena Islam mengedepankan akal sehat! Selain itu tidak pula disebutkan sumber "pendapat" tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988) virus disebutkan jasad renik yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron, yang menyebabkan dan menularkan penyakit seperti cacar, influenza, dan rabies. Dalam The New York Public Library Science Desk Reference (Patricia Barnes-Svarnery, Editorial Director, A Stonesong Press Book, Macmillan, USA, 1995) disebutkan penyakit-penyakit manusia yang disebabkan virus, termasuk AIDS, seperti batuk, influenza, cacar, rabies, polio, campak, beguk/gondok, cold sores, sinanaga, dan sindrom Epstein-Barr. Paling sedikit dikenal 200 virus penyebab batuk.

Maka, jika bertolak dari definisi Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes tentang AIDS, maka virus yang menyebabkan cacar, influenza, rabies dan lain-lain juga terjadi atau ada karena penyimpangan ...... Sehingga seseorang yang menderita salah satu dari penyakit-penyakit tersebut merupakan adzab dan kutukan Allah atas diri yang bersangkutan karena perbuatan dosanya. Bayangkan, seseorang yang kena influenza atau gondok tentu dikategorikan sebagai orang yang menerima adzab dan kutukan Allah! Masya Allah.

Jadi, amatlah pantas wanita itu menghardik saya karena di matanya saya seorang yang dikutuk Tuhan. Naudzubillah.

* Dimuat di Newsletter ”HindarAIDS” NO. 56, 6 November 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.