11 November 2013

Penyebaran HIV/AIDS dan Pasangan Mesum


Tanggapan Berita (11 November 2013) – ”Para pasangan bukan suami istri ini juga diambil sampel darahnya untuk antisipasi penyebaran HIV/AIDS.” Ini ada dalam berita ”Delapan Pasangan Mesum Dicokok” yaitu razia terhadap pasanan bukan suami-istri di dalam kamar hotel di Sumedang, Jabar (metrotvnews.com, 10/11-2013).

Dalam berita tidak dijelaskan instansi apa yang melakukan razia dan mengambil contoh darah pasangan mesum yang terjaring razia tsb.

Tapi, langkah yang dilakukan di Sumedang itu menunjukkan betapa rendahnya pemahaman terhadap penyeberan HIV/AIDS.

Pertama, pasangan mesum itu belum tentu pekerja seks komersial (PSK) sehingga perempuan yang terjaring razia itu belum tentu perilakunya berisiko tertular HIV.

Kedua, jika darah pasangan mesum itu diambil untuk tes HIV maka patut dipertanyakan prosedur yang dilakukan apakah sesuai dengan ketentuan tes HIV, yaitu konseling, pernyataan kesediaan tes HIV, anonimitas (contoh darah tidak diberi tanda yang bisa menunjukkan pemilik darah), dan konfidensial (hasil tes dirahasiakan dan hanya bisa diketahui konselor, dokter dan ybs.).

Ketiga, melakukan tes HIV kepada pasangan mesum itu tidak bisa menghentikan penyebaran HIV/AIDS karena bisa saja sudah terjadi penularan HIV di antara mereka.

Yang perlu dilakukan adalah menanggulangi penyebaran HIV/AIDS adalah mencegah agar tidak terjadi penularan HIV melalui hubungan seksual pada pasangan mesum. Itu artinya diperlukan program yang konkret, sistematis dan terukur.

Sayang, wartawan yang meliput berita itu sama sekali tidak memakai perspektif dalam menulis berita hasil liputannya. Tidak ada informasi sebagai pencerahan yang berguna bagi masyarakat dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Pemkab Sumedang sudah menerbitkan peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan HIV/AIDS, tapi: Apakah dalam perda tsb. ada pasal yang konkret berupa program untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada hubungan seksual pada pasangan mesum dan praktek pelacuran?

Kalau tidak ada, maka perda itu tidak ada gunanya dan insiden infeksi HIV terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.