26 November 2013

Mitos Seputar (Lokalisasi) Pelacuran*


Catatan Kecil dari Workshop PMP AIDS (Bagian III)

Oleh Syaiful W. Harahap

Catatan: Pusat Media dan Pelatihan AIDS (PMP AIDS)-LP3Y Yogyakarta dan The Ford Foundation menyelenggarakan workshop penulisan jurnalisme empati masalah HIV/AIDS untuk wartawan media cetak 16 angkatan (dua kali di Denpasar, sekali di Bandung dan Makassar), radio (7, sekali di Cianjur, Jabar) dan televisi (2). Setiap angkatan diikuti 20 wartawan dari seluruh Indonesia (satu wartawan media cetak dari Kuala Lumpur, Malaysia). Tulisan ini berdasarkan pengalaman sebagai peserta, narasumber dan fasilitator workshop untuk wartawan media cetak. Bagian pertama tanggapan wartawan terhadap kondom. Redaksi.

"Untuk membasmi AIDS tutup saja lokalisasi pelacuran." Itulah komentar wartawan sebuah harian pagi dari Surabaya yang mengikuti workshop angkatan II/Juli 1995. Pada angkatan III/Desember 1995 pun muncul pula pernyataan yang sama. Wartawan itu juga mendukung pernyataannya dengan mengutip ayat-ayat kitab sucinya.

Kalau saja wawasan wartawan ini luas tentulah pernyataan itu tidak pantas disampaikan oleh orang yang disebut-sebut sebagai agent of change (pembawa perubahan). Jika wartawan sebagai agent menyampaikan pesan (message) yang tidak objektif tentulah pesan yang sampai akan bias. Apalagi field of experience (lingkup pengalaman) dan field of reference (lingkup referensi) wartawan berbeda dengan pembaca tentulah akan terjadi interpretasi yang berbeda terhadap suatu pesan karena tidak in-tune (seirama).

Pernyataannya itu sendiri sudah menyuburkan mitos (dari bahasa Inggris myth yang berarti dongeng, isapan jempol, cerita yang dibuat-buat) yang diartikan sebagai anggapan yang keliru dalam hal HIV/AIDS. Soalnya, tidak ada kaitan langsung antara (lokalisasi) pelacuran dan penularan HIV karena HIV tidak bercokol di (lokalisasi) pelacuran.

Sebagai virus, HIV hidup dalam cairan tubuh seseorang yang terinfeksi HIV, seperti dalam darah, cairan sperma dan vagina. Jadi, HIV tidak hanya hidup pada diri pekerja seks yang praktek di lokalisasi. HIV dapat hidup pada diri seorang manajer, politisi, militer, tokoh, pemuka, mahasiswa, dosen, guru, pelajar dan lain-lain yang terinfeksi melalui berbagai faktor risiko, seperti hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang sudah terinfeksi, menerima transfusi darah yang mengandung HIV atau memakai jarum suntik secara bersama. Sedangkan bayi dapat terinfeksi dalam kandungan ibunya yang sudah positif-HIV atau pada saat persalinan.

Di negara-negara yang secara de facto dan de jure tidak ada (lokalisasi) pelacuran pun kasus HIV/AIDS tetap ada. Buktinya, dalam Report on the Global HIV/AIDS Epidemic June 1998 (UNAIDS/WHO, 1998) tercantum kasus AIDS yang dilaporkan ke UNAIDS/WHO dari negara-negara yang tidak ada (lokalisasi) pelacuran (berturut-turut nama negara, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan, dan kasus HIV/AIDS pertama yang dilaporkan): Arab Saudi 334 (1986), Bahrain 37 (tidak ada tahun), Bangladesh 10 (1989), Brunei Darussalam 10 (1986), Irak 104 (1991), Iran 154 (1987), Kuwait 24 (1984), Lebanon 97 (1984), Libia 17 (1986), Malaysia 1.110 (1986), Maroko 390 (1986), Mesir 153 (1986), Oman 135 (tidak ada tahun), Pakistan 147 (1987), Suriah 49 (1986), Uni Emirat Arab 8 (tidak ada tahun), Qatar 85 (tidak ada tahun).

Jadi, mitos lokalisasi pelacuran sebagai media penularan HIV akan membuat orang-orang yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti baik di dalam maupun di luar nikah akan merasa aman karena mereka tidak melakukannya di lokalisasi pelacuran. Jika hal itu menjadi berita, maka pembaca pun akan menangkap makna: HIV/AIDS hanya ada di lokalisasi pelacuran! Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian (masih) ada reportase yang tetap mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan (lokalisasi) pelacuran.

Risiko terinfeksi HIV dapat terjadi jika seseorang tidak menerapkan seks aman (memakai kondom) ketika melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti, baik di dalam maupun di luar nikah. Maka, biar pun hubungan seks tidak aman dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah dilakukan di rumah, di hotel berbintang, atau apartemen mewah risiko terinfeksi tetap ada. Sebaliknya, biar pun hubungan seks dilakukan di lokalisasi risiko terinfeksi dapat dihindarkan dengan menerapkan seks aman.

Dalam kaitan pencegahan infeksi HIV sangat diperlukan perubahan sikap karena penularan HIV dapat dihindari seseorang secara aktif. Dalam kaitan inilah peranan wartawan sangat besar karena dengan menyampaikan informasi yang objektif pembaca akan dapat mengambil manfaat yang berguna bagi diri, keluarga dan masyarakatnya.

Akan berbeda hasilnya jika berita tidak objektif, seperti mitos tentang lokalisasi pelacuran, tentu saja akan membuat pembaca terbuai sehingga mereka lupa melindungi dirinya. Pada gilirannya, mereka akan menjadi jembatan penyebaran PMS dan HIV, baik terhadap istri maupun pasangan seks mereka yang lain. ***

*  Dimuat di Newsleter ”HindarAIDS” No. 50, 7 Agustus 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.