18 November 2013

Mitos dalam Berita Seputar Hari AIDS Tahun 1999*



Oleh Syaiful W. Harahap

Catatan: Tulisan ini adalah tanggapan berita-berita HIV/AIDS seputar HAS 1999 diharapkan sebagai perbandingan terhadap berita HIV/AIDS pada HAS 2013 atau 14 tahun kemudian.

Di saat perhatian utama masyarakat tertuju ke masalah-masalah politik tentulah momentum Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember 1999 dapat dijadikan cantelan berita agar aktual. Bagaimana pun, media massa, dalam hal ini media cetak, sangat besar peranannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pencegahan penyebaran HIV.

Dari 38 surat kabar harian yang terbit tanggal 1 Desember 1999 hanya 18 (47,37%) yang menulis berita dan memuat artikel tentang HIV/AIDS. Surat kabar itu terbit di Sumatera (7), Jakarta (15), Jawa (8), Bali (1), Kalimantan (3) dan Sulawesi (4).

Jika ada yang menganggap berita seputar HIV/AIDS sudah merupakan rutinitas tentulah perlu dicari cantelannya agar tetap aktual dan faktual. Bagi wartawan yang selalu mencari segi penulisan berita tentulah tidak ada masalah karena hal itu akan selalu ada.

Saat ini, misalnya, liputan seputar HIV/AIDS bisa dijadikan berita aktual kalau dikaitkan dengan narkoba karena masalah penyalahgunaan narkoba menjadi topik yang (selalu) hangat. Kaitannya dengan HIV/AIDS kian kental karena belakangan ini muncul kasus-kasus baru infeksi HIV dari kalangan penyalahguna narkotik dengan suntikan (injecting drugs user--IDU). Tetapi, hanya dua surat kabar (Kompas dan Republika) yang khusus mengaitkan IDU dengan HIV/AIDS.

Karena berita seputar HIV/AIDS mencantel peringatan Hari AIDS Sedunia yang tahun 1999 bertema Dengar, Simak dan Tegar yang ditujukan untuk kaum muda tentulah diharapkan berita dan artikel seputar HIV/AIDS dapat menggugah masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan penyebaran HIV. Hal ini dapat tercapai apabila berita dan artikel memuat informasi yang objektif dan fair seputar HIV/AIDS.

Namun, beberapa di antara berita dan artikel itu justru kembali menguatkan mitos-mitos (anggapan yang keliru) seputar HIV/AIDS. Padahal, perkembangan informasi seputar HIV/AIDS sudah maju pesat sehingga tidak pada tempatnya lagi kalau ada wartawan dan penulis artikel yang masih mengedepankan mitos.

"Salah satu faktor yang membuat HIV/AIDS cepat menyebar di Asia itu adalah hubungan seks bebas yang cenderung makin ditoleransi, diabsahkan dan dilindungi. Perzinahan atau hubungan seks bergaya promiskuitas telah menjadi kata kunci yang mengakibatkan HIV/AIDS turut bersemai." (Nadlifah Hafidz, Surabaya Post). Tentu saja pernyataan ini amat gegabah karena tidak ada hubungan langsung antara penularan HIV dengan seks bebas. Begitu pula dengan berita di Harian Terbit yang juga menyebutkan: "Meski kasus HIV/AIDS terus meningkat yang diperparah dengan maraknya penularan PMS akibat free sex..." jelas tidak objektif.

Soalnya, HIV menular melalui cara-cara yang sangat spesifik antara seseorang yang sudah terinfeksi HIV dengan orang lain melalui hubungan seksual yang tidak memakai kondom, melalui transfusi darah yang tidak diskrining, melalui jarum suntik yang dipakai bersama, atau dari seorang ibu yang HIV-positif kepada bayi yang dikandungnya. Jadi, kesimpulan itu jelas ngawur dan merupakan mitos yang justru menyesatkan umat.

Seks bebas sendiri dalam praktek sehari-hari lebih bermakna sebagai zina dengan pekerja seks di lokalisasi. Akibatnya, orang-orang yang berperilaku berisiko tinggi terinfeksi HIV, seperti berganti-ganti pasangan, di dalam pernikahan yang sah maupun di luar pernikahan, dengan wanita di luar lokalisasi yang merasa dirinya aman karena cara itu dianggap bukan zina dan hanya selingkuh.

Yang lebih menyesatkan adalah pernyataan yang mengaitkan antara penyimpangan seks dengan penularan HIV. "Penggunaan kondom tidak menjamin pelaku penyimpangan seks tak tertular HIV" (wawancara Terbit dengan Prof. Dr. Dadang Hawari). Apa pun bentuk (homoseksual, oral dan anal seks) dan sifat (di dalam dan di luar nikah) hubungan seksual yang dilakukan kalau keduanya HIV-negatif tidak akan terjadi penularan HIV. Sebaliknya, dalam ikatan pernikahan yang sah sekali pun tetap akan terjadi penularann HIV jika hubungan seksual dilakukan tanpa kondom. 

Penulis lain di Terbit (Nahrawi H Matani) juga mengaitkan HIV/AIDS dengan penyimpangan seks: "...melakukan keganjilan seksual yang menyimpang dari perilaku yang sah, sehat dan benar." Hal yang sama terdapat dalam tulisan Ari Nursanti: "Termasuk peringatan untuk tidak melakukan penyimpangan dalam hubungan seksual yang dapat membawa kepada makin merebaknya penyakit akibat hubungan penyimpangan seks, khususnya Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang sangat fatal akibatnya." (Suara Karya).

Walaupun informasi seputar HIV/AIDS sudah tersebar luas, tetapi tetap saja ada wartawan dan penulis kolom yang tetap ketinggalan informasi. "...Tuntutan kepada masyarakat agar secara sungguh-sungguh untuk mampu menghindari perbuatan tercela yang memungkinkan virus HIV/AIDS berjangkit atas dirinya, keluarga, dan masyarakat karena deteksi penyebarannya masih sangat sulit." (Barno Sudarwanto, Banjarmasin Post). Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang terinfeksi saat transfusi darah? Berarti di benak penulis kolom ini transfusi, rupanya, perbuatan tercela. Lagi pula tidak ada kaitan langsung antara perbuatan tercela dengan infeksi HIV.

Mitos lain yang amat naif adalah mengaitkan pelacuran dengan penularan HIV. "Tidak jelas mengapa korban HIV sebagian besar terdapat di negara-negara berkembang. Tetapi, jika dunia pelacuran dianggap sebagai 'sarang' penularannya, tampaknya alasannya dapat ditemukan" (Hatun Chairian S., Pelita). Di negara-negara yang secara de facto dan de jure tidak ada pelacuran ternyata kasus HIV/AIDS pun ada. Dalam Report on the Global HIV/AIDS Epidemic (UNAIDS, Juni 1998) disebutkan kasus AIDS yang dilaporkan di Bahrain 37, Mesir 153, Irak 104, Kuwait 24, Oman 135, Qatar 85, Arab Saudi 334, Uni Emirat Arab 8, Brunei Darussalam 10, Iran 154, Malaysia 1.110, dan Pakistan 147. Ini menunjukkan tidak adanya kaitan langsung antara pelacur(an) atau lokalisasi pelacuran dengan HIV/AIDS.

Jadi, pernyataan ini pun amat naif: "...pelacuran yang bisa menularkan HIV." (Atang Ruswita, Pikiran Rakyat). Begitu pula dengan pernyataan dokter Andik Wijaya dalam wawancara Jateng Pos dengan yang melihat pengentasan pekerja seks lebih efektif mencegah penyebaran HIV daripada pemakaian kondom juga amat naif karena tidak objektif. "Sepertinya, kondomisasi lebih diprioritaskan ketimbang pengentasan sosial yang menyeluruh. Mengentas para WTS (wanita tuna susila) misalnya."

Kalau kita bicara soal penyebaran HIV melalui hubungan seksual (data menunjukkan hubungan seksual merupakan faktor risiko terbesar dalam penularan HIV) tentulah yang perlu dimasyarakatkan cara mencegahnya. Dalam kaitan inilah kondom dapat diandalkan untuk mencegah infeksi HIV melalui hubungan seksual karena cara inilah yang dikenal dalam dunia medis. Namun, ada saja yang mengetengahkan hal-hal yang naif dalam upaya pencegahan infeksi HIV: "...selain perbaikan moral (yang memang mutlak), AIDS hanya dapat ditanggulangi oleh dua hal yang saling terkait" (Neni Utami Adiningsih, Media Indonesia).

Maka, tidak ada manfaatnya mengaitkan moral dan agama dalam upaya mencegah penyebaran HIV karena pencegahan penyebaran HIV dapat ditanggulangi secara medis.***

* Naskah ini dimuat di Newsletter ”HindarAIDS” No. 39, 21 Februari 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.