02 November 2013

Menyoal Promosi Obat, Obat Herbal dan Pengobatan di Televisi


Oleh SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

*  Acara-acara pengobatan di televisi adalah iklan yang disamarkan sebagai advertorial

Opini (3 November 2013) - Pernyataan yang menyebutkan bawah obat, obat herbal dan pengobatan tertentu bisa menyembuhkan penyakit, yang disertai dengan testimoni atau kesaksian, yang disiarkan stasiun televisi swasta nasional tidak termasuk kriteria berita (news) karena tidak dilengkapi dengan bukti medis.

Pertama, nama penyakit yang disebutkan bisa diobati merupakan hasil penelitian berdasarkan teori ilmu kedokteran.

Definisi Medis

Kedua, karena penyakit itu dihasilkan oleh teori ilmu kedokteran, maka cara-cara diagnosis dan pengobatan penyakit tsb. juga harus melalui ilmu kedokteran.

Ketiga, jika sebuah penyakit dikatakan sembuh melalui obat dan pengobatan di luar medis, maka harus mengacu ke kriteria kesembuhan dalam ilmu kedokteran.

Karena dalam acara televisi tsb. tidak ada aspek medis dan tidak pula ada dokter yang menjadi narasumber pembanding, maka acara televisi yang menyiarkan obat, obat herbal dan pengobatan alternatif itu bukan berita tapi advertorial (iklan yang disamarkan jadi berita tapi tidak mengandung unsur-unsur layak berita dan kelengkapan berita).

Ada aturan bahwa iklan obat-obatan dan pengobatan di televisi tidak boleh menampilkan kesaksian karena kesembuhan tidak dibuktikan secara medis.

“ .... karena teori tentang penyakit dan penyembuhan penyakit dikembangkan oleh dunia kedokteran, maka jika ada obat, obat herbal dan pengobatan alternatif yang menyatakan bisa menyembuhkan penyakit harus dibuktikan secara medis sesuai dengan kriteria yang ditetapkan ilmu kedokteran mulai dari diagnosis sampai kriteria sembuh.” (dr Kartono Mohamad, Majalah “TEMPO”, 18/7-1992, dalam “Pers Meliput AIDS”, Syaiful W. Harahap, PT Pustaka Sinar Harapan-Ford Foundation, Jakarta, 2000).

Dalam jurnalistik hal itu merupakan pelanggaran terhadap kode etik karena dari awal tidak disebutkan bahwa acara itu adalah advertorial bukan (siaran) berita. Celakanya, acara-acara advertorial pengobatan tsb. dikemas sehingga terkesan sebagai berita.

Karena dalam advertorial obat-obatan, obat herbal dan pengobatan tsb. dipakai nama-nama penyakit yang merupakan definisi medis, maka dalam perbincangan harus ada dokter.

Advertorial adalah acara di televisi atau tulisan di media cetak yang menjadi ajang untuk mempromosikan produk atau layanan dengan membayar slot waktu (media elektronik) dan kolom atau halaman (media cetak).

Untuk itulah diharapkan acara promosi obat-obatan, obat herbal dan pengobatan alternatif tidak memakai nama-nama penyakit yang dihasilkan berdasarkan riset dan diagnosis medis jika tidak disertai dengan bukti-bukti medis.

Belakangan ini banyak jenis dan nama obat, obat herbal dan pengobatan alternatif yang menyebutkan bisa menyembuhkan HIV/AIDS.

Buah Merah

Buah merah dari Papua, misalnya, di awal tahun 2000-an diiklankan sebagai obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Produsen buah merah memakai seorang Odha (Orang dengan HIV/AIDS) perempuan sebagai model iklan. Odha itu pun berhenti minum obat antiretroviral (ARV) yang diganti dengan buah merah.

Apa yang terjadi kemudian?

Hanya hitungan bulan Odha itu meninggal. Sayang, produsen tidak jujur karena berita tentang kematian Odha itu tidak segencar iklan buah merah.

Dalam beberapa pelatihan penulisan HIV/AIDS bagi wartawan di Papua dan Papua Barat, penulis selalu diserang oleh wartawan di sana. ”Mengapa pemerintah tidak mengembangkan buah merah sebagai obat?”

Untunglah diskusi dengan dr Zulazmi Mamdy, MPH, dosen di FKM UI, menghasilkan jawaban yang cespleng karena sebelumnya tidak ada jawaban yang baik.

”Kalau benar buah merah bisa menyembuhkan HIV/AIDS, maka tidak akan pernah ada orang Papua yang mengidap HIV/AIDS!”

Soalnya, buah merah itu sayur dan dimakan sejak dikandungan. Artinya, ibunya maka buah merah. Setelah lahir sampai mati pun mereka makan buah merah.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Belasan ribu orang Papua mengidap HIV/AIDS.

Belum ada satu pun jenis virus yang bisa dimatikan di dalam tubuh manusia, maka kalau ada obat, obat herbal dan pengobatan yang menyebutkan bisa menyembuhkan HIV/AIDS itu artinya dusta.

Obat, obat-obatan dan pengobatan alternatif boleh-boleh saja, tapi hanya sebagai tambahan (lebih dikenal sebagai supplement) untuk meningkatkan stamina seseorang bukan mengobati penyakit.***[Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.