11 November 2013

Menyoal Penurunan Penyebaran HIV/AIDS di Jakarta Utara


Tanggapan Berita (11 November 2013) – ”Jumlah Penyebaran HIV AIDS di Jakut Alami Penurunan.” Ini judul berita di ”Pos Kota” (9/11-2013).

 

Judul berita itu tidak akurat, karena:

Pertama, penyebaran HIV/AIDS tidak bisa dilihat dengan mata telanjang karena HIV sebagai virus yang menular tidak ada di alam bebas dan tidak pula menular melalui air, udara dan pergaulan sehari-hari.

Kedua, jumlah penduduk Kodya Jakarta Utara yang mengidap HIV/AIDS pun tidak bisa diketahui dengan pasti karena tidak bisa dikenali dari fisik mereka. Penyebaran melalui pengidap HIV/AIDS bisa diputus, tapi penyebaran yang dilakukan penduduk yang belum terdeteksi tidak bisa diketahui.

Ketiga, jika dikaitkan dengan data kasus kumulatif HIV/AIDS di Jakarta Utara yang dilansir Sudin Kesehatan Jakarta Utara, disebutkan bahwa tahun 2011 tercatat 114, sedangkan tahun 2012 dilapoirkan 78. Ini bukan penurunan kasus penyebaran, tapi penurunan kasus yang terdeteksi.

Keempat, jika kasus yang terdeteksi dari tahun ke tahun menurun bukan berarti jumlah insiden infeksi HIV baru atau penyebaran HIV/AIDS menurun. Bisa jadi penurunan kasus yang terdeteksi terjadi al. karena jumlah orang yang menjalani tes HIV berkurang sehingga kasus yang terdeteksi pun berkurang.

Dikatakan oleh Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Tri Kurniadi, kegiatan tes HIV gratis untuk memastikan jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah pesisir Jakarta.

Biar pun semua penduduk di pesisir Jakarta menjalani tes HIV hasil itu hanya berlaku pada saat tes HIV karena setelah tes HIV bisa saja ada di antara penduduk pesisir Jakarta yang tertular HIV karena melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV.

Perilaku berisiko al. (a) melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau (b) melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), cewek pemijat di pijat plus-plus, cewek kafe, cewek pub, ABG, dll.

Selama Pemkot Jakarta Utara tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK, cewek pemijat, dll., maka selama itu pula penyebaran HIV terus terjadi di Jakarta Utara yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.